p.s.

I thought you might like to know that..

http://www.miartmiaw.wordpress.com is moving to

http://www.miartmiaw.com

Yeay!

It’s my new home; completely my new me. Stay update and stay connect!

Much love,
Mia

Advertisements

[DIY] paper pompoms

Selamat malam teman-teman 😀

Kalau kamu sedang berencana menjadi suporter pertandingan, mengadakan pesta ulang tahun atau mengubah dekorasi kamar, sebaiknya simak tutorial saya mengenai pembuatan pompom. Pompom bisa kita buat dari koran bekas tapi alangkah baiknya bila terbuat dari kertas yang berwarna-warni agar lebih semarak. Saya sarankan untuk menggunakan kertas minyak (kertas layangan) ketimbang kertas krep karena teksturnya lebih berkilau dan tak rapuh.

Langkah 1

Bahan dan alat: 1|Kertas krep dengan warna sesuai selera, 2|Cutter, 3|Gunting, 4|Kawat tali, 5|Benang/pita
Bahan dan alat: 1|Kertas krep, 2| Cutter, 3| Gunting, 4| Kawat tali, 5| Benang/pita

Penting: Ukuran kertas berskala 3:4 dengan jumlah kertas minimal 10 lembar/set.

Pada tutorial ini, saya memakai kertas minyak 2 pack untuk masing-masing warna. Dengan menggunakan cutter, saya potong satu kertas minyak menjadi beberapa bagian dan menumpuknya menjadi satu.

Langkah 2

Lipat kertas bolak-balik seperti gambar pada sisi panjang.
Pada sisi panjang, lipat kertas dengan pola bolak-balik seperti gambar.

 Lebar lipatan sekitar 1.5-2 cm.

Langkah 3

Tekuk kertas yang sudah dilipat menjadi dua bagian yang sama.
Tekuk kertas yang sudah dilipat menjadi dua bagian yang sama.

Langkah 4

Ikat ujung lipatan menggunakan kawat tali atau pita.
Ikat ujung lipatan menggunakan kawat tali atau pita.

Langkah 5

Gunting sisi bebas lipatan kertas berbentuk oval atau runcing menggunakan gunting.
Gunting sisi bebas lipatan kertas berbentuk oval atau runcing menggunakan gunting.

Langkah 6

Tarik kertas satu persatau secara maksimal sampai pangkal.
Tarik kertas satu persatau secara maksimal sampai pangkal.

Langkah 7

Lakukan hati-hati hingga selesai. Tarik kertas secara perlahan bila tidak ingin jumpa dengan sobekan.
Lakukan hati-hati hingga selesai. Tarik kertas secara perlahan agar tidak sobek.

Kemudian..

Selesai!
Selesai!

Bila telah selesai, sekarang tinggal kita manfaatkan penggunaannya menjadi headbed atau dekorasi kamar seperti milik saya. Tadaaa~

Kal-El lagi asyik ngaca. "Eh, ayo Kal-El yang sopan!"
Kal-El lagi asyik ngaca. “Eh, ayo Kal-El yang sopan! Sapa teman-teman mamamia”
HALoO
HALo.O

Simak juga tutorial saya mengenai Serena Van der Woodsen Butterfly Wall-Art di sini.

Terima kasih sudah menyimak. Sampai jumpa pada tutorial selanjutnya. Bye..

Salam

miartmiaw

[DIY] serena butterfly wall-art

Halo!

[Sebaiknya skip cerita menye-menye di bawah ini dan langsung loncat ke tutorial, hehe]

photo (13)

Ini adalah kamar saya dan suami. Sejak April 2013 kami beralih dari menghuni Sarang Semut Selai di Bangil ke sebuah ‘petak’ berukuran 22 meter persegi di Apartemen Gunawangsa, Surabaya. Hanya ada satu ruang kosong dan kamar mandi. Untuk hidup berdua, kami merasa sudah lebih dari cukup karena di dalam ruang kosong tadi sudah ada TV, lemari, kulkas, kasur dan pantry. Hal lain yang mungkin menjadi kebutuhan berumah-tangga tapi tidak ada di dalam petak tadi, fleksibilitas kami bisa diandalkan.

Semenjak suami diterima sekolah pada Juni 2013, kehidupan finansial kami mulai berubah. Dari MENAMBAH menjadi MENGURANGI tabungan. Memang tidak sampai ekstrim hingga menguras habis, tapi masa depannya tampak nyata, perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit, menyusut. Sampai sekarang kami masih terus berjuang agar rekening itu tidak minus. Tidak ada lagi investasi dalam bentuk apapun. Mari berhemat. Ayo tirakat.

Dalam rangka pemenuhan kebutuhan kamar untuk dipercantik, saya sebagai seorang istri dituntut untuk bisa kreatif dalam mengelola keuangan. Sebuah kreativitas yang bisa menghapus istilah ono rego ono rupo. Makanya, selama 7 bulan terakhir saya terus menerus memendam keinginan untuk membeli wall-sticker lucu-lucu di ol-shop. Kenapa tidak membuat sendiri saja hiasan tempat tidurnya?

[Huahahahah, ketiga paragraf ini yaaa :’)))]

Oke, sebenarnya saya sampai tidak ingat kapan membeli kertas hitam seharga Rp. 7000,- itu di Gramedia. Sebuah niat untuk menghasilkan wall-art yang istimewa berdesain black birds. Ternyata baru kesampaian deh mengisi kekosongan tembok kaca di kepala kasur kami. Kapan? Setelah (kembali) melihat kamar Serena van der Wodsen di serial Gossip Girl. Bukannya burung di atas ranting, malah kupu-kupu yang seolah berada dalam situasi genting. Yup! Namanya saja perubahan rencana.

serena's room
serena’s room | image source: google

Berikut cara membuat Butterfly Wall-Art ala kamar Serena versi saya.

STEP 1.

pola kupu-kupu | double tape | bolpen hitam | bolpen silver/white eyeliner | gunting | karton linen hitam
~siapkan :: pola kupu-kupu | double tape | bolpen hitam | white eyeliner | gunting | karton linen hitam

Pola kupu-kupu bisa download di internet dan langsung mengeprinnya atau digambar sendiri di kertas HVS putih. Saya membuat 4 variasi kupu dengan ukuran besar-kecil. Dan bila tidak ada double tape, kita masih bisa menggunakan glue-dots (lem tembak).

TIPS: Pilih kupu-kupu dengan desain sederhana agar mudah digunting.

STEP 2.

~gunting pola pada kertas HVS putih dan gunakan sebagai master
~gunting pola pada kertas HVS putih dan gunakan sebagai master untuk membuat pola pada kertas karton linen hitam. gunakan white eyeliner/bolpen warna silver agar pola terlihat lebih jelas. kalo terpaksa, memakai bolpen hitam juga gpp.

STEP 3.

gunting pola kupu-kupu pada kertas putih gunakan sebagai master untuk membuat pola pada kertas hitam kemudian gunting sesuai kebutuhan.
~gunting kupu-kupu dengan jumlah sesuai kebutuhan. idealnya pola kupu kecil lebih banyak daripada kupu ukuran besar (1:2)

Saya menggunting kupu-kupu sebanyak 40 pcs untuk kupu kecil dan 28 pcs untuk kupu besar. Akibatnya, jari tengah tangan kanan langsung ngapal! Kalau bisa sih minta bantuan keluarga atau anak tetangga untuk urusan menggunting pola. Heheh.

STEP 4.

~tempel double-tape di badan kupu-kupu
~tempel double-tape di badan kupu-kupu

Saya kok merasa penggunaan double-tape lebih aman dan bersahabat dibandingkan lem tembak yaa. Rawan belepot! Tapi kalau mau ditempel di tembok, pastikan lem yang kita gunakan memiliki kekuatan super hingga kupu-kupu yang dibuat dapat melekat kuat.

STEP 5.

~gunting kertas karton/koran berbentuk lingkaran
~gunting kertas karton/koran berbentuk lingkaran.

Tujuannya agar nanti kita bisa menempelkan kupu-kupu secara teratur dan tidak keluar jalur. Memutar, melingkar dan bentuknya menjadi bundar.

STEP 6.

~mulai tempel kupu-kupu satu persatu dengan sabar
~mulai tempel kupu-kupu satu persatu dengan sabar

Pada saat menempelkan kupu-kupu, agak tekuk badannya untuk memberi efek tampilan 3D. Dan beri kesan bergerombol di lingkaran ini sebelum meletakkannya secara menyebar membentuk pola oval di area sekitar.

STEP 7.

~gunakan imajinasi estetika pada saat penempelan demi tercipta sebuah maha karya. #tsaah
~gunakan imajinasi estetika pada saat penempelan kupu-kupu demi tercipta sebuah maha karya. #tsaah

DONE.
What do you think? It’s super easy, right?!

photo (6)

our room at day
room at day
our room at night
room at night

Semoga bermanfaat 🙂

xoxo
miartmiaw

for sale :: priceless memories

Menutup tahun 2010 saya dan Baby Hiu gencar-gencarnya nyari rumah. Keliling kesana-dimari dengan masteng merah (baca: honda supra fit) andalan. Perumahan dari kota sampai kabupaten Pasuruan kami singgahi. Sekedar melihat-lihat. Hingga kami merasa cocok dengan perum (baru dibuka) yang satu ini,

kancil mas regency, jalan bader, 67153 –12 desember 2010

Lokasinya di tengah kota Bangil, kabupaten Pasuruan. Lahannya dikerubungi alun-alun, TK-SD-SMP-SMA favorit (untuk anak-anak kelak), pasar, salon kecantikan (terutama untuk saya), rumah sakit dan tempat futsal plus bulutangkis (untuk Baby Hiu). Lagian ini win-win solutions bagi kami menuju tempat kerja masing-masing. Saya lebih dekat ke PIER dan ke Surabaya –tempat Baby Hiu mencari nafkah– juga gak jauh-jauh amat.

kancil mas regency no. b-05

Nah, ini calon hunian kami. 11 Januari 2011 sudah mulai dipondasi. Mr-Mrs Santos, mertua dan anggota keluarga tidak ada yang tahu. Sengaja begitu karena kami mau buat surprais! Berdua kami tentukan besar rumah idaman (tentu yang sesuai budget), nomor rumah yang membawa keberuntungan (bingung kemudian random), mau hadap utara apa selatan (kami pilih selatan) sampai lama pelunasan. Enam tahun aja ya, biar gak kelamaan punya hutang.

pose mandor ala baby hiu — 11 februari 2011

Sebulan kemudian saya terperangah, “AHA. Sudah tampak kerangka!” Demi mengikuti tradisi versi tukang dan disarankan mengadakan ‘selamatan’ maka untuk kuda-kuda kami memberikan sejumlah dana kepada kepala tukang untuk membeli tumpeng ala kadarnya. Bersama kuli dimakan rame-rame pas laut. ‘Laut’ itu maksudnya istirahat. Konon, istilah ini berasal dari jaman penjajahan. Ketika para kompeni berteriak, “All, out!” (Semuanya, keluaaaar), leluhur kita dengarnya “Lauttt!” Heheh.

akika mulai ada tetangga– 26 maret 2011

Yang namanya kerja borongan, para tukang mesti sering disambangi. Dikasi makan, cemilan, es teh dan ‘disuap’ rokok untuk menjaga kualitas kerja. Supaya sinkron sama mau kami dengan adanya sedikit renovasi. Termasuk permintaan titik-titik colokan dan saklar, instalasi tv kabel di ruang tamu dan kamar utama juga penambahan macam-macam ceilinglights.

proses pengecatan oleh tukang roni — 21 mei 2011

Saya dan Baby Hiu hidup di jaman kebanyakan orang lebih memilih warna gelap untuk kusen jendela, daun pintu dan pagar dengan asumsi melindunginya dari kekejaman cuaca yang ekstrim. “NO NO NO! I want white, pleasee.” Mulai deh saya merengek-rengek ke Baby Hiu. Padahal sang suami orangnya konvensional dan penuh pertimbangan. Tapi dasarnya saya ini pawang yang baik, akhirnya doi mau menuruti pinta si istri.

view halaman belakang dari ruang tamu yang habis di-pel. 4 september 2011

FYI. Kerjaan developer itu sudah STOP pada bulan Juni. Baru setelah serah terima pada 5 Juli 2011, September-nya mulai mencicil deh. Sebelum berkunjung, kami ke pasar beli peralatan kebersihan untuk kerja bakti. Betapa senang hati kami ketika rumah terlihat kinclong dengan korden dan jeruji jendela yang telah terpasang beserta perabot pesanan yang mulai berdatangan. Bisa lihat kami yang sedang berguling-guling di lantai tak? 😀

uwaaaa, berantakaan >.< –18 november 2011

Yaaa, rapi-bersihnya rumah tak bertahan lama. Pada bulan Oktober 2011, kami memutuskan untuk menambah satu kamar mandi, kamar pembantu dan jemuran di lantai atas. Plus sekalian nutup sisa lahan kosong di belakang. Tapi supaya terlihat lebih cantik, tatanan dapur bawaan mesti dibongkar dulu. Lalu saya dan Baby Hiu jadi sering-sering mampir ke Depo Bangunan Sidoarjo buat beli kran, cat tembok, lantai granit, kompor oven, wastafel, door stopper sampai kuku macan!

coral color, i luv it! –2 Desember 2011

Bulan ini mulai masang-masang kanopi dan pagar. Bagian belakang rumah nyaris selesai; tinggal moles saja. Batu alam dan lampu taman juga sudah keliatan bagus. Hmm, tapi saya masih ndak cocok ya itu sama warna pagarnya. Saya minta putih, bukan putih gading begitu. Harus dicat ulang yaa. Syukurlah depan rumah sudah dipaving. Ini mintanya repot banget; mesti kucing-kucingan sama pengembang.

alhamdulillah, akhirnya pindah rumah juga 🙂 –6 januari 2012

Kartu dengan desain dari Smilebox saya buat spesial untuk ditaro di nasi kotak yang saya pesan; sebagai ucapan terima kasih. Perumahan dengan mini cluster ini ditarget ada 30 rumah yang laku. Tapi karena beberapa ada yang beli dua kavling, total paling cuma ada 25-an KK. Waktu itu, tetangga baru ada tiga. Dan acara syukuran pindah rumah kami diramaikan oleh kehadiran keluarga besar (akhirnya semua tahu). Meriah bersamaan dengan turunnya hujan.

suasana rumah pada saat malam hari — 1 maret 2012
nomor rumah seharusnya b-05 :p #kebaliktuh — 3 agustus 2012

Bulan Oktober 2012-pun berlalu..

Setelah IVF saya gagal dan setelah diskusi panjang dengan Baby Hiu, kemudian kami memutuskan untuk mengubah rencana masa depan. Untuk kebaikan berdua, sebaiknya memang harus segera pindah ke Surabaya. Dengan pertimbangan ‘mendekati’ sumber penghasilan utama. Suami tidak perlu mondar-mandir Bangil-Surabaya mengendarai motor (pertimbangan kesehatan juga). Apalagi doi punya niatan untuk sekolah lagi (program pendidikan dokter spesialis). Sedangkan saya, tidak perlu lagi bekerja dan lebih konsen ke persiapan punya anak.

JUAL : rumah keren kami. LT 112, LB 80. hubungi +6285731826772 / +6285646870713

Maka dari itu, kami berniat untuk menjual rumah idaman- rumah kesayangan- surga dunia kami demi mendapatkan Sarang Semut ♥ Selai lain di Kota Pahlawan (untuk modal gitu loh!). Bagi pembaca, bila diberi kesempatan, mohon bantuan ‘bom pesan’ atau ‘info bola salju’ kepada handai taulan yang mungkin sedang membutuhkan hunian cantik atau sekedar berinvestasi.

Terima kasih,

miaris :3

sarang semut ♥ selai

Dimana selai ada, di situ semut berada. ~Jam, 2012

Selainya merupakan selai yang disukai anak-anak. Berwarna merah selayaknya gula-gula dan berasa manis seperti stroberi. Sedangkan si semut berciri hitam nan ramah. Yang kata orang tua, jenis semut pembawa rejeki.

YA, itulah kami, saya dan suami. Mesra berada di sebuah sarang yang teduh, hangat, menerangi, melindungi dan melingkupi kami dengan aura kebahagiaan. Sarang ini kami pilih, rangkai sendiri, melalui sebuah proses yang perlahan menuju idaman.

#apeu

*

Selain di kantor, mall, Santos d’House, rumah keluarga Wanito atau di antah berantah, saya dan suami pastinya sedang berada di rumah. Entah sayanya lagi masak atau nyapu-ngepel sama suami yang keasyikan nonton berita olahraga sambil baca koran.

Suatu ketika dan disertai niat yang iseng-iseng, toh ini juga bagian dari kebutuhan bereksistensi, saya mau bikin nama rumah di akun Foursquare (#ealaa). Umm, tapi apa ya? Dan nama itu harus berelemen nama saya dan suami. Terang saja karena hunian itu milik kami berdua. ‘Tul nggak? 😉

Jangan ‘HOME sweet HOME’ ah! Terlalu pasaran.

Gimana kalo KAMAR BOS? Ini asalnya dari Kancil Mas Regency No. B-05 (KMR B-05). Cocok juga karena sang suami dipanggil Bos waktu SMP. Sampai sekarang malah (*beberapa teman sih). Lah, mana ada nama saya kalo seperti itu?

*utak-atik lagi*

JAMANT NEST. How? JAM dari nama saya, JAMiatul. ANT namanya suami, risdiANTo. FYI, saya bikin JAM dan ANT jadi trademark nama kami (*Ah, ini apaaa?). HAHA. Tapi kok ya kedengarannya tetap aja gak enak. Masih belum cucok bok!

Setelah dipikir-dipikir, sebaiknya ga perlu #kemenggres deh. Ya udah, Jamant Nest ditranslate aje.

S. Sarang Semut dan Selai. Supaya ketiga kata murni berawalan S, saya buang kata ‘dan’ saja yah?!

SARANG SEMUT ♥ SELAI. Bagaimana manteman? Oke kan?

So, jangan dikira venue ini nama tempat makan, YES? Uhui!

insyaallah dipenuhi rejeki, cinta dan tawa 😀

Kapan-kapan, sila mampir ke gubuk kami. Semoga beruntung bisa mencicip masakan saya.

Salam,

Miaris 🙂

homey home

“Ternyata yang kita idamkan dalam hidup maupun mati adalah ‘pulang'”, begitu kata Djenar Maesa Ayu. Senyampang masih hidup, lantas pertayaan selanjutnya adalah, pulang dari dan kemana?

Mungkin mau ketemu bantal, nangis bombai habis putus sama pacar. Atau, mau lebaran nih! Pulang kampung ah, mudik. Hmm, bisa juga seperti ini:

Istri: Jadi pulang jam berapa say?
Suami: Agak malam dari biasanya, 11-an lah!
Istri: Lho, gak nginep di kos aja? Besok kan mesti berangkat pagi-pagi?
Suami: Nggak deh. Aku kan kangen kamu..

Beragam alasan dari mengalami pengkhianatan perasaan, merantau, bekerja atau selepas sekolah, semua pasti bertujuan. Tujuan tadi lebih kepada sebuah pencarian ketenangan, keamanan, kenyamanan, kerinduan dan kehangatan keluarga. Bukan begitu?

Tenang telah meninggalkan hiruk pikuk jalanan dan ragam tuntutan hidup. Aman dan terlindung dari cuaca tak menentu. Nyaman karena bertemu dengan kamar kesayangan. Rindu bertemu senyum ibu. Dan hangat canda-celoteh semua anggota keluarga. Jadi, darimanapun saya pergi, pasti maunya pulang ke rumah.

Sekarang, rumah seperti apa yang saya inginkan? Apakah yang harus hadap selatan? Memiliki taman bunga anggrek dan kolam ikan? Bertingkat dan memiliki AC di tiap ruang? Berbagai impian akan rumah idaman membentang sejak main rumah-rumahan. Hingga setelah menikah, keinginan untuk mandiri semakin membuncah.

Asalkan bisa hidup berdua ajalah pokoknya (*sebelum muncul generasi penerus), gak apa-apa deh meski ngontrak. Saya kan pengen atur ruang tamu sendiri dan mengoleksi barang-barang kesukaan. Maklum, selama ini suka beradu mulut sama ibu perihal ‘rongsokan’.

Begini ceritanya. Suatu ketika saya merasa rumah ortu penuh dengan barang-barang lama dan tak berguna. Ada buku-buku jaman saya SD, tas plastik, baju-baju ukuran S-nya (*sekarang size super duper large). Nah, supaya terlihat lebih lapang dan bersih, maksud hati saya sortir. Tapi beliau ngamuk. Nilai histori dan sentimentil lebih berharga ketimbang apapun di dunia.

Tak taunya, saya juga punya kecenderungan menyimpan barang tak tepat guna. Misalnya, memperlakukan kardus bekas sepatu. Padahal sepatunya sudah rusak. Saya mikir, mungkin suatu hari kardus tersebut bisa buat kotak kado atau tempat menyimpan rol rambut. Bahkan, beberapa sepatu yang udah nggak dipakai masih disimpan. Dibuang sayaang 😦 Tuh kan, nurun.

Oke. Mulai dari sekarang, saya ingin punya rumah \m/ saya mau meletakkan barang-barang gak penting saya di rumah sendiri. Ibu tidak bisa melarang. Ortu bisa beri saran tapi tak bisa mendikte, dan sebagainya.

Ah, ini sih kiasan. Intinya, saya mau bebas melakukan apa saja terhadap keinginan. Tentu yang sesuai cita-cita dan nilai-nilai keluarga kecil kami, antara saya dan suami. Yang penting bebas intervensi. Bisa koprol di depan tv kalii! 😀

salam sehangat rumah,
mia