laparoscopic surgery

Pengalaman Frozen Embryo Transfer (FET) saya pada 2 Februari 2014 berakhir dengan datangnya menstruasi tepat H-1 sebelum tes darah. Ya, beta-day saya seharusnya tanggal 12-02-14 pukul 8 pagi di RS Siloam Surabaya tapi tamu bulanan selalu datang tanpa diundang. Ingin tahu bagaimana perasaan saya saat itu? Tentu tak dapat digambarkan. Makanya saya mogok bercerita mengenai hal ini. Suami saya kuliah, sedang saya menangis sendirian di apartemen. Tanpa ada momen saling memeluk sebagai pelipur lara.

Lemas. Melas. Males.

Adalah dampak dari kegagalan yang berulang. Saya sepenuhnya sadar bahwa Yang Maha Pemberi Kehidupan belum percaya pada kami atau mungkin ada saat yang menurut-Nya tepat. Saya hanya terus bertanya-tanya kapan saat itu tiba. Padahal saya sudah membayangkan bahwa berita bahagia bisa jadi kado ulang tahun pernikahan kami yang ke-4. Pupus sudah harapan saya.

*

Sebenarnya sudah ada wacana untuk operasi laparoskopi pada akhir tahun lalu. Hanya niat itu kandas ketika saya takut-takut membayangkan prosedurnya. Toh sudah HSG dan SHG dengan hasil yang negatif. Baru setelah program tanam embrio pertama kami gagal, ada baiknya bila laparoskopi dilakukan karena dirasa lebih dapat ‘melihat’ kemungkinan adanya miom atau kista dsb. Begitulah saran dari beberapa teman sejawat suami. Kemudian kami memutuskan operasinya di RS. Graha Amerta Surabaya (alias Griu) oleh dr. Hendy Hendarto SpOG(K). Kenapa? Konon tersiar kabar kalau beliau cakap dalam menangani hal ini. Selain itu, untuk mempermudah konsultasi bila dengan guru sendiri. Supaya dapat diskon karena status residen obgyn RSDS-FKUA adalah alasan nomer sekian.

11 Maret 2014
(Mens hari ke-2)

Pukul 11:00 saya bertemu dengan dr. Hendy tanpa didampingi suami. Saya ceritakan mengenai kronologi program batab cycle pertama, ke-dua dan thawing di RS. Siloam yang belum berhasil.  Riwayat HSG-SHG dengan hasil nihil. Beliau sempat kaget karena merasa kalau case-nya sudah teramat dalam. Dalam kasus yang umum, apabila IVF gagal, solusinya akan dilakukan IVF lagi. Ibarat IVF adalah ‘GONG’-nya; sebuah solusi final bagi masalah fertilitas. Menurut dr. Hendy, laparoskopi biasanya berada dalam tahap screening. Oleh karena tidak ada riwayat kista atau mioma, maka rencana penanganannya berupa Laparoskopi diagnostik sekaligus Histeroskopi.

Hasil dari USG Vagina:
Uterus endometrium, tipis
Ovarium kanan, folikel antral: 4
Ovarium kiri, folikel antral: 4
Mass (tumor) -/-

17 Maret 2014
(H-2)

Pukul 10:27 saya berada di Parahita Diagnostic Center diambil darahnya (lumayan banyak) untuk pemeriksaan: Hematologi Lengkap, Waktu Perdarahan, Waktu Pembekuan, PPT, APTT, SGOT, SGPT, BUN, Ureum dan Glukosa Puasa.

18 Maret 2014
(H-1)

Sehari sebelum operasi, saya mulai pasang status alay dan minta maaf kepada handai taulan. Yaa, siapa tahu saya mati di meja operasi. Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama menghadapi GA. Berbagai pikiran aneh lalu lalang buat kepala saya sakit bukan kepalang. Perut terus-terusan mulas. Groginya luar biasa. Gimana kalau dokter anastesi ngasi dosis biusnya kurang lalu pas perut disayat jadi sakit tak karuan. Atau dosisnya malah kelebihan hingga menyebabkan saya tidur tapi tak bisa bangun.

19 Maret 2014

06:00 Saya bersama suami sudah tiba di Griu. Setelah berhenti makan dan minum mulai pukul 22:00 dan cukur-cukur pubis kemarin malam, pagi ini adalah hari H. Mau melakukan pendaftaran di loket lantai 1, tidak ada orang, saya dan suami langsung menuju Klinik Fertilitas di lantai 2 dan menunggu di ruang tunggu. Tak lama datanglah senior GM dan kamipun sedikit berbincang dengannya. Hingga sang dokter datang. Lalu suami menghilang.

07:00. Menuju bilik kamar mandi, untuk ganti pakaian operasi sekaligus buang air kecil. Suami juga ikut-ikutan ganti baju karena dia diijinkan senior GM untuk ikut serta, dan gak jadi kuliah. Oke, di ruang operasi yang super dingin (dan buat saya jadi kepingin pipis lagi) itu sudah ada beberapa orang yang tidak saya kenal dan sebagian mukanya telah tertutup masker. Yang pasti ada Dr Hendy, senior GM dan suami. Saya mulai tidur telentang di sebuah meja mirip papan dan ditanya apa ada alergi. Tidak ada jawab saya. Kemudian tangan kiri ditusuk jarum infus dan diberi anastesi, lalu saya tidak ingat apa-apa lagi.

08:30. Tau-tau saya sudah ada di tempat recovery berkelambu biru dan mata sayapun sudah bisa mendefinisikan waktu. Seperti tidur sejenak dengan perut terasa nyeri saat dibangunkan oleh suami. Gerakan tubuh menjadi sangat terbatas bahkan hanya sekedar menggoyang perut dan pantat. Saya ngeri melihat perut sendiri.

09:00. Status kondisi saya pada jam ini adalah:
Masih terpasang infus di tangan kiri
Ada selang melintang di hidung
Hairnet di kepala
Tenggorokan sakit seperti kena flu dan berlendir
Ada bercak darah pada vagina
Kebelet pipis
Lapar dan haus
Tidak ingin makan karena tenggorokan sakit
Tidak ingin minum karena pengen pipis
Mau pipis tapi tak bisa bergerak, arggghhh!

Lewat jam sembilan, suami sudah kembali ke RSDS dan meninggalkan saya sendiri. Untungnya ada seseorang yang mereka sebut Bunda. Saya tidak tahu status Bunda di Griu sebagai apa, tapi sepertinya Bunda tadi juga ikut berada di kamar operasi. Bundalah yang menggantikan suami, menemani saya. Sembari tetap melakukan tugasnya. Mondar-mandir dan melipat-lipat baju operasi.

Begitu tengah hari ada junior NV ngantar 3 pack roti Laritta. Thanks to you sist! Rotinya buat saya dan Bunda. Saya makan sedikit; disamping karena posisi tiduran juga karena tenggorokan sulit digunakan untuk menelan (belakangan saya tahu kalo itu semua karena selang oksigen). Punggung mulai panas dan akhirnya memaksa saya untuk bisa miring ke kanan-kiri secara bergantian.

15:00. Suami datang! Thanks GOD. Setelah selesai dengan urusan administrasi, suami membantu saya duduk. Saat begini kepala terasa pening. Kemudian membantu saya berdiri (kepala dari pening menjadi pusing). Semua harus dilakukan secara perlahan dan hati-hati. Kita tidak ingin membuat luka jahitnya menganga, bukan? Lalu menolong saya mengganti pakaian. Hingga membantu saya memantapkan langkah kaki. Bayangkan saja bagaimana dia melakukannya. Momen seperti ini buat saya jadi terharu.

16:00. Pulaaang! Bunda bantu dorong kursi roda saat kami turun dari lantai 2 dan saya mencium tangan beserta pipinya sebelum masuk mobil. Bagi saya, Bunda sudah seperti orang tua sendiri. Begitu sampai apartemen, saya keluar dari mobil dan membungkuk-mbungkuk seperti orang mabuk. Suami menopang saya saat menunggu lift; memapah saya menuju lantai 16 dan kamipun berjalan dengan sangat perlahan.

25/3 Plester luka dilepas secara gentle oleh suami (foto bawah). Kalo laparoskopi operatif biasanya perut ada 3 titik yang dilubangi. Hasilnya dari operasi ini adalah NOL BESAR.
25/3 Plester luka dilepas secara gentle oleh suami (foto bawah). Kalo laparoskopi operatif biasanya perut ada 3 titik yang dilubangi. Hasilnya dari operasi ini adalah NOL BESAR.

[Bonus cerita]

Ketika suami saya tanya tentang bagaimana kesan akan operasi laparoskopi sang istri, tentang –you know- bagaimana area V itu jadi diketahui senior dan gurunya. Kinda awkward moment kan? Si dia dengan santainya menjawab, “Ya agak malu tapi aku tetep cool.” :’)

13 january to february, 2

Dear my loyal reader,

Saya mau minta maaf karena bisa jadi telah mengecewakan kamu dengan ‘pelit’ sharing kisah-kisah inspiratif yang menjadi  fokus utama dalam hidup saya (apeu banget yak!). Pelit disini bukan karena sifat dasar tetapi karena memang belum ada kesempatan. Mohon dimaafkan.

13 Januari itu ulang tahun suami saya. Berikut postingan birthday wishes saya untuk suami via Path.

miartmiaw - bh bd

“Happy Birthday to the love of my life and the husband of my dreams! Wishing you all the best today and throughout the coming year!”

Jauh-jauh hari saya sudah berniat mau pesen customize-mini-cupcakes dengan detil, sepatu futsal-bola-stetoskop-bayi-bini bunting dll, tapi malah gak kesampaian. Saya mikir kok rasanya kurang personal dan gak ada effortnya. Lantas saya bikin food-art aja untuk dia selain mempercantik silhouette original kami sesuai tema: birthday party.

Setelah mempelajari foodart milik @leesamantha yang sekiranya murah dan mudah untuk diterapkan maka jadilah foodart bikinan saya, tadaaa!

miartmiaw - hb bh
tuh! keliatan seneng banget kaaan?

Panjatan doa dari saya yang versi Bahasa ya semoga suami bisa lancar sekolahnya dan menjadi imam serta teladan yang baik bagi keluarga.

*

SHG after HSG

Wuih! Bisa belepot ini kalo diucapkan secara bersamaan dengan pelafalan secepat cahaya. Dulu saya pernah melakukan tes HSG di Lab Parahita (30/05/13). Prosedurnya: saya musti puasa dulu selama 6 jam lalu pada saat pemeriksaan, seorang SpOG akan memberi cairan kontras (berwarna biru) via vagina lalu hasilnya akan dilihat dari foto rontgen. Tujuan tes HSG adalah untuk mengetahui apakah ada perlengketan di saluran tuba saya.

Semua yang mengikuti milestone IVF saya pasti tahu kalau di cycle yang ke-2 hasil β~hCG saya di bulan Oktober 2013 di bawah ketentuan. Ini berarti IVF#2 saya tidak berhasil dan saya belum bisa hamil. Beruntung saya punya embrio yang dibekukan sebanyak 8 biji sehingga nantinya saya bisa langsung tanam (ET; embryo transfer) tanpa mengulang cycle. Dokter Aucky menyarankan supaya saya istirahat dulu selama 3 bulan.

Oke, tiga bulan berselang. Sebelum dilakukan frozen-embryo-transfer (FET), ada beberapa pemeriksaan diantaranya:

1| SHG (24/1) oleh dr. Ashon, SpOG di RS Siloam Surabaya. SHG tidak serumit HSG. Dokter cuma mengisi uterus saya dengan cairan infus dan melihat apakah ada polip dsb melalui pembacaan USG. Hari ke-10 dari HPHT (15/1). Seharusnya jadwal SHG-nya sabtu tapi saya majukan menjadi jumat karena bentrok dengan kegiatan suami (pertandingan futsal persahabatan di Malang).

2| USG + tes darah untuk pemeriksaan Estradiol alias E2 part I (27/1). USG oleh dr. Hendro SpOG di RSSS. Pagi berangkat sendiri naik taxi, malam konsultasi diantar suami.

3| USG + E2 part II + pemeriksaan progesteron (29/1). USG masih dengan dr. Hendro SpOG di RS yang sama. Pagi berangkat sendiri naik taxi, lalu saya ke Grand City numpang shuttle-car RSSS. Selama perbaikan RSSS, tempat parkir dialihkan ke Grand City Mall, pasien bisa memanfaatkan shuttle car untuk mondar-mandir RSSS dan GC. Pada hari ini suami kena giliran jaga. Kami baru bisa konsultasi keesokannya. Dan menurut dr. Aucky, saya sudah ovulasi (28/1) jadi 5 hari dari ovulasi itulah hari dimana akan dilakukan FET!

*

2 Februari. Suami jaga + Finda sahabat saya nikah + FET day. Betapa kita hidup diantara suatu kebetulan yang satu dengan kebetulan yang lain. Hmmm.

iseng di deret kursi antrian CF
iseng di deret kursi antrian CF

Karena sudah 2x bergulat dengan sesi embryo transfer so pasti saya sudah tahu bagaimana menghadapinya. Jadi tanpa ditemani suami dan keluarga tidaklah menjadi masalah. Syukur suami masih sempet nganter sekalian dia berangkat jaga RSDS. Saya sudah kuatir aja kejebak car-free-day.

Begitu sampai RSSS saya langsung njujug customer service untuk pendaftaran, membayar biaya FET sebesar Rp 6jt dan Rp 168rb untuk progesteron oral ‘utrogestan 100 mg’ sebanyak 21 butir (*btw, kali ini tidak lagi memakai Crinone Progesterone 8% Vaginal Gel) dan menandatangani sejumlah berkas surat pernyataaan di ruang CF.

Dari 4 embrio yang dicairkan (thawing), 2 yang ditanam. Saya mendapat giliran setelah pasien OPU. Datang 05:30 selesai urusan jam 08:00 wib. Problematika pasca(F)ET yang saya rasakan masih tetap sama. Pertama, susah pipis di diaper dewasa dan yang ke-dua, gatal di area genangan pipis. Selesai dengan bagian administrasi kamar-rawat-jalan (Rp 190rb untuk 5 jam perawatan), 13:30 saya check-out RS Siloam Surabaya. Hari dan pukul sekian, Surabaya diguyur hujan.

Demikian update terbaru dari kehidupan pribadi saya, semoga berkenan.

Salam,

miaw

P.S. Pada saat postingan ini dibuat, saya berada pada 5dp5dt, simtom yang kentara adalah nyeri di perut bagian bawah (sengkring-sengkring kayak mau mens). Wah entahlah, berhasil atau tidak, hanya Allah Maha Tahu, karena Dia Sang Penentu. Beta-day kurang 5 hari lagi.

beta day

Kegagalan ini bukanlah yang pertama. Mestinya saya tahu bagaimana rasanya dan bisa mengantisipasi kekecewaan. Tapi apa mungkin waktu memang bisa menyembuhkan luka hingga saya lupa?

Senin malam saya berbincang dengan suami. Saya katakan kepadanya kalau 13 Juni lalu sayalah yang membawa kabar gembira mengenai berhasilnya doi masuk program penerimaan PPDS Obgyn. Sekarang gantian. “Besok, aku ingin kamu yang membawa berita bahagia untukku!” kata saya.

Just in case programnya tidak berhasil, saya ingin bersiap-siap. “Kira-kira, apa yang akan kamu katakan kepadaku kalo programnya gagal, Say?” Suami menjawab, “Simpanan embrio kita ada berapa, 5 kan? Kita masih bisa menggunakannya.”

Malam itu saya sulit tidur, gelisah bukan main. Saya tak henti melihat celana dalam karena terasa seperti mengeluarkan cairan. Yaa, siapa tahu bleeding-before-beta, ternyata bukan. Cuma cairan berwarna bening disertai residu Crinone. Dalam hati ingin meredam gejolak rasa penasaran yang teramat besar tapi berujung ke psikosomatis. Perut mulas dan terus berasa pengen pipis.

*

Selasa, 8 Oktober 2013

Pagi kami terasa begitu singkat. 10 menit perjalanan menuju RSSS, 5 menit menunggu di ruang tunggu, 5 menit ambil darah dan menyelesaikan administrasi lalu mampir Kalidami untuk beli sarapan kemudian pulang. Selesai makan, suami berangkat ujian; UAS hari kesekian.

Selanjutnya hanya ada saya dan Kal-El (my brownie teddy) di kamar. Dengan masih menempel plester bekas suntikan di tangan kanan, saya tidur sambil mendengarkan playlist dari TV. Lanjut berplesir ke instagram, twitter, facebook, path sampai ke instagram lagi. Lalu bosan. Lalu penasaran.

Saya malas menyentuh BB dan membiarkannya berada di dalam tas. Andai sudah tahu hamil, pasti segera saya beritahu ibu dan yang lainnya. Jantung berdebar, kepala pening, kaki sedingin es dan sekujur badan berkeringat. Suami membiarkan rasa ingin tahu saya menggantung sampai tengah hari. Kemudian film What to Expect When You’re Expecting muncul. Ah, mungkin ini suatu pertanda. Think Positive!

Tak lama suami datang membawa makan siang (bukan sebuket bunga dan berita bahagia). Ternyata dia belum nelpon RSSS untuk tanya hasil β~hCG, fiuh! Dari ekspresi saat melakukan percakapan di telepon antara suami dengan dr. Aucky saya langsung tahu kalau hasilnya negatif. Saat itu air muka saya pasti juga terlihat hampa. Butuh waktu sekitar lima menit hingga air mata saya berhasil menemukan jalan keluar. Suami memeluk saya dan berbicara mengenai sesuatu yang tidak saya pahami.

Malamnya kami menemui dr. Aucky untuk membicarakan rencana frozen embryo transfer. Beliau menyarankan agar kami istirahat dulu selama 3 bulan. Boleh berhubungan seperti biasa hingga FET tiba. Tapi sebelum dilakukan FET, dr Ashon SpOG akan melakukan Salin Infusion Sonohysterography (simpelnya SIS atau SHG) terlebih dahulu untuk mengecek kemungkinan adanya kelainan rongga rahim yang menyebabkan embrio-embrio itu tidak mau implan. Nantii, setelah selesai haid ke-3.

bye-bye embies
bye-bye my three little embies~

Kepada semua yang mendoakan; teman, sahabat dan semua yang sayang kami, saya mengucapkan terima kasih. Entah bagaimana cara kami membalas kebaikan kalian. Semoga Allah memberikan ganjaran selayaknya.

What doesn’t kill you makes you stronger..

β~hCG = 5 </3 indomie, come to mamamia!

the two week wait

Jumat, 4 Oktober 2013

Kalau suster Siloam Surabaya tidak memberi instruksi agar injeksi terakhir Pregnyl 70 IU-nya dilakukan di RS maka saya tidak punya kesempatan keluar dari apartemen.  Meski segala jenis hiburan yang saya inginkan tersedia dalam petak ini, tapi lama-lama ya bosan juga. I need some fresh air..

Setengah tujuh pagi sudah meluncur dan baru tiba di RSSS 30 menit kemudian. 15 menit lebih lama dari hari-hari biasanya. Jumat pagi yang padat. Suami ngedrop aja, buru-buru pergi karena UAS farmako dan HAM (hubungan antar manusia) sudah menanti.  Dia nyetir, saya bacakan untuknya latihan soal pilihan ganda.

Setelah ‘morning call’ di kamar mandi yang letaknya di seberang ruang CF saya langsung saja menuju ruang fertilitas yang tersohor itu. Di sana sang suster-ceria-berambut-pendek bantu saya injeksi di pantat kiri. “Terima kasih ya Sus!” Urusan selesai pukul 07:09 WIB.

Lalu saya coba kontak kenalan yang pagi itu ada jadwal OPU. Menunggu balasan BBM tiada guna karena pesannya saja tidak sampai. Sinyal di ruang antrian sendat-sendut. Selama duduk di ruang tunggu, mata saya berkunang-kunang. Merasa badan tidak sepenuhnya fit, saya putuskan untuk segera pulang. 07:51 check-out RSSS.

6DP5DT TANDA-TANDA FISIK

Perut bagian bawah seperti penuh, kadang ada nyeri seperti mau datang bulan.

Gatal di area pantat mulai berkurang.

Dada masih kencang-kencang disertai putting menonjol. Dan hei! Apakah itu areola saya memang terlihat melebar dan menggelap?

Boyok alias sekitaran pinggang, pegal-pegal.

Tidak terlalu banyak bercak putih di celana dalam karena residu Crinone.

Bila mendapati gumpalan-gumpalan berwarna putih dengan tekstur kenyal di celana dalam atau jatuh dari vagina pada saat buang air kecil maupun mandi, sebaiknya mama IVF tidak perlu cemas. Itu normal terjadi setelah beberapa hari pemakaian Crinone Progesterone Vaginal Gel.

IMG_3046
Untuk pemakaian sabtu-minggu-senin~

*

Sabtu, 5 Oktober 2013

Bangun tidur tenggorokan sakit disertai bersin-bersin. Sinyal daya tahan tubuh melemah membuat saya menenggak air minum sebanyak mungkin untuk meredakan panas dalam. Selain batuk yang masih ada, gejala fisik 6dp5dt juga masih di sana.

7DP5DT TANDA-TANDA PSIKIS

Memang ada loh yang namanya tanda-tanda psikis. Ini terjadi pada saya. Dari muncul rasa gelisah sampai excited semuanya timbul tenggelam. Lalu muncul juga hal-hal berikut:

Adanya kecemasan kegagalan cycle #1 akan berulang.

Memikirkan bagaimana saya akan mengumumkan berita kehamilan.

Menangis saat melihat tayangan live birth untuk twins c-section di babycenter.com.

Terharu lihat jumper newborn.

IMG_3052
Aren’t they cute? :’)

Ahh, 3 hari yang mendebarkan menuju Beta-day…

[2ww] 4dp5dt

Today (2/10), saya memasuki hari ke-4 pasca embryo transfer (ET) dengan 3 blastosis usia 5 hari yang ditanam dalam rahim saya oleh dr. Ashon SpOG. Coba deh saya lebih konsentrasi akan berbagai simtom yang saya rasakan. Hmm, dada lebih kencang, puting berasa menonjol dan ada sedikit rasa nyeri di perut bagian bawah. Selebihnya gatal-gatal di atas pantat sebab iritasi diaper dewasa dan ada bercak disertai gumpalan-gumpalan berwarna putih di celana dalam (*residu Crinone 8% Progesterone Vaginal Gel).

Post ET, kebanyakan mama IVF bingung tentang apa yang boleh dan tak boleh dilakukan. Lalu berbagai literatur dibaca yang malah buat bingung ditambah kekuatiran para sesepuh yang melarang ini-itu. Pikiran acak-adul dan buat aktivitas menjadi tidak nyaman. Kalau sudah begini malah stres sendiri. Sebaiknya jangan dilakukan.

DON’T :: STRESS

Sepertinya hari ini saya kurang beruntung, subuh-subuh suami sudah berangkat ke sana-sini (lanjutan acara 1st Indonesian Meeting of ISSHP 2013 –International Society for the Study of Hypertension in Pregnancy di Sheraton Hotel Surabaya) sehingga dia tidak bisa membelikan sarapan. Jadilah saya masak nasi dan mengukus resoles isi ayam (kue sisa seminar kemarin) + sayur hijau cuciwis untuk dimakan sendiri.

Bedrest pasca ET bukan berarti kita rebahan di kasur seharian. Ada kalanya kita perlu menghirup udara segar dan melakukan peregangan. Tentu angkat beban 5 kg sudah pasti akan saya hindari. Tetapi kegiatan seperti menyapu kamar dan mencuci pakaian dalam, tetap saya lakukan.

DO :: TAKE IT EASY

Selain menonton TV, kegiatan yang membuat saya tetap sibuk adalah membaca novel dan majalah parenting. Menjelajah socmed juga tak kalah penting untuk hiburan. Belakangan, bacaan yang selalu berada di meja; di samping tempat tidur saya adalah cerita mengenai seorang detektif wanita dari buku Kantor Detektif Wanita No.1 karya Alexander McCall Smith. Dan kudapan favorit sepanjang menunggu Beta-day yaitu pizza dingin dan stroberi.

IMG_3027

Kira-kira, yang sedang dilakukan embies saya di dalam perut apa ya? Ada sebuah wawasan yang saya dapat dari teman seperjuangan Mrs Rori mengenai perkembangan embrio setelah ET. Berdasar link ini pada 4dp5dt, embrio-embrio itu terus melakukan aksinya untuk berusaha menempel di rahim saya.

Semoga terus lengkett kayak perangko,,

et

Alhamdulillah~

Telah ditanam 3 embrio usia 5 hari ke rahim saya, kemarin (28/9) pada pukul 08:50. Semuanya blastocyst sedang kelima blastocyst yang lain dibekukan. Sebenarnya masih ada 4 morula, tapi tergantung perkembangannya, apabila bisa membelah sempurna maka dia akan dibekukan juga. Terima kasih buat dr Ashon Saadi, SpOG dan para suster CF RS Siloam Surabaya yang telah berbaik hati, juga dengan sangat hati-hati, hingga proses embryo transfer-nya berjalan lancar.

Lady in waiting..

Lazimnya 2 minggu menunggu tapi sekitar tanggal 8 Okt mendatang saya akan ke Siloam untuk pengecekan β~hCG. Ini adalah saat yang paling mendebarkan dari serangkaian tahapan long protocol yang akan saya hadapi sebagai mama-IVF. Tetap rileks, ooomm.

Sementara itu, di dalam kepala ini terus saja muncul deret angka 3-2-1-0. Apakah dari ketiga embrio yang ditanam, akan berkembang menjadi 3 janin, dua, satu atau tidak ada sama sekali. Angka zero yang paling saya kuatirkan. Kemudian yang bisa saya lakukan hanya berdoa semoga progesteron saya tidak drop dan berujung kembali ke siklus menstruasi.

Untuk menjaga agar level progesteron tetap berada dalam kendali, makanya saya dianjurkan menebus Crinone 8% untuk sembilan hari kedepan yang dipakainya tiap malam. Lalu ada jadwal suntik Pregnyl (hCG) pada 30/9 dan 2/10 pagi. Supaya tidak perlu mondar-mandir ke RS, obatnya dibawa pulang dan nanti suami yang akan menginjeksi.

Terima kasih juga kepada ibu saya yang dengan setia mendampingi di RS dari hari H sampai H+1 dan menjadi reminder supaya saya tidak banyak bergerak. Suami juga sangat baik, bersedia ‘ada-untuk-saya’ disela-sela kesibukan seminar sabtu-minggunya. I love you both :3

[TIPS] Persiapan sebelum embryo transfer:

  1. Air mineral, dalam kemasan botol 3 x 600 ml. Kenapa tiga? Just in case kantung kemih udah penuh, eee ternyata pengen pipis. Padahal kantung kemih harus tetap dalam kondisi full tank.
  2. Tas kain simpel. Pada saat masuk ke ruang ET, kita harus pakai baju RS bertali, selanjutnya tas-kain-simpel berguna untuk mengantungi baju, pakaian dalam dan sandal/sepatu.
  3. Snacks. Beragam kue dan buah harus disiapkan sebagai penunda rasa lapar sebelum makan siang datang.
  4. Playlist. Lagu-lagu yang menenangkan dari iPod atau HP dapat membantu kita mengeluarkan pipis di diaper dewasa.
  5. Cairan antiseptik. Untuk meluruhkan kuman setelah lima jam berkubang dalam pipis sendiri, nanti pada saat mandi di RS.

Salaman,

[IVF] long protocol

Kalo ada bumil mengeluh ini-itu berkaitan dengan kehamilannya, berarti bisa dikatakan ia kurang bersyukur. Padahal antrian ruang CF RS Siloam Surabaya untuk program mendapatkan anak tak pernah sepi. Padahal banyak sekali calon mama yang memimpikan mual-muntah, kaki bengkak, pinggang sakit dan dada sesak disebabkan dirinya sedang hamil.

Ada saya diantara calon mama di deret antrian itu. Karena un-explained infertility, saya kembali berada di sini; di tempat yang nyaris beraroma sama dan khas tak ubahnya ketika saya mengikuti program bayi tabung (batab) yang pertama pada Oktober 2012 dan inseminasi (IUI) pada Juli 2013. Keduanya belum membuahkan hasil. Untuk program batab yang ke-2 ini adalah atas saran androlog Hamdani. Suami dan saya (pada akhirnya) manut saja.

Setelah mempelajari status pasien, tim dokter memutuskan bahwa saya akan diberi ‘perlakuan’ menggunakan prosedur long protocol. Jadi, begitu IUI gagal (mens bulan Agustus’13) saya tidak langsung diberi stimulasi untuk mengembang-biakkan folikel seperti pada short protocol (direct) melainkan program akan dimulai bulan depannya.

2 September 2013. Kira-kira pada siklus menstruasi hari ke-20, dokter Aucky memberi jadwal injeksi Suprefact 0,4 cc/40 IU tiap malam di subcutan dinding perut kiri/kanan dari tanggal 2 Sept sampai haid ke-2 (*meskipun haid tetap suntik). Menghadapi spuit-spuit macam begini, saya sudah biasalah yaa. Kalau bukan saya sendiri yang nyuntik ya suami.

insulin syringe si penjajah perut
insulin syringe, si penj(el)ajah perut

10 September 2013. Saya menstruasi.

12 September 2013. Pagi di RS Siloam selalu diawali pengecekan hormon Estradiol dan USG. Malamnya ketemu sama dr Aucky untuk detil protokol yang akan dijalankan. Hari ini menandai start stimulasi folikel (kantung telur). Suntikan di subcutan dinding perut 2x, Suprefact 20 IU + Gonal F 150 IU (2 amp) yang dicampur dalam 1 cc solven. Tiap sore/malam dari 12 Sep sampai 15 Sep 13.

16 September 2013. Selamat pagi spuit pengambil darah untuk mengecek hormon E2. Selamat siang dr Hendro, Sp.OG yang akan melihat perkembangan folikel melalui USG transvaginal. Selamat malam dr Aucky yang memberi resep suntikan 2x sbb: Suprefact 20 IU + Menopour 75 IU (1 amp) dan Gonal F 75 IU (1 amp) dicampur dalam 1 cc solven. Tiap sore/malam dari 16 Sep sampai 19 Sep 13.

20 September 2013. Pagi-pagi ada adegan tarik ulur spuit. Setelah tidak berhasil mengambil darah via lengan kiri, akhirnya mbak suster berpaling ke lengan kanan. Selanjutnya antri menunggu giliran USG sementara para dokter masih sibuk menangani pasien OPU maupun ET. Tak lama kemudian saya di-USG sama dokter Hendro yang konyol dan setelah selesai saya berhasil diam-diam mengambil foto ini.

tampak kantung-kantung telur (folikel) yang beranjak dewasa
tampak kantung-kantung telur (folikel) yang beranjak dewasa

 

Total ada 11 telur yang terpantau dengan ukuran paling besar 18 mm sisanya range 12-15 mm. Begitu ketemu dokter Hamdani pada malamnya, saya diberi satu kali lagi stimulasi agar folikel-folikelnya benar-benar mature (kira-kira mempunyai ukuran 18-22 mm). Kali ini suster yang nyuntik Suprefact 20 IU + Gonal F 75 IU (1 amp).

Gejala yang paling nyata dari sekian banyak suntikan Gonal F yang bisa saya rasakan ya dada mengeras dan puting menonjol. Tidak bisa disentuh bahkan oleh siraman air dari shower. Kalo bengkak atau biru-biru di perut dan lengan, adalah bukan apa-apa.

21 September 2013. Sabtu malam ada jadwal kencan di RS. Suster akan bantu menyuntikkan Ovitrelle untuk memecah telur supaya siap diambil pada senin pagi. Pesan suster minggu malam mulai jam 11 saya harus puasa makan-minum. Siap!

23 September 2013. Oocyte Capture alias Ovum Retrieval alias Ovum Pick Up (OPU). Saya jam 6 pagi sudah standby sedangkan para suster baru berdatangan sekitar 06:30. Sebelumnya, saya harus registrasi terlebih dahulu di front office sedangkan suami mengeluarkan sperma fresh-nya di ruang khusus (mandiri; sendiri; tanpa bantuan saya, hahah).

07:00. Para suster (kira-kira ada 5 orang) mulai pasang infus, mengecek tekanan darah (tensi digital sering bunyi; ini karena saya grogi), membersihkan vagina dengan cairan dingin, memberikan dua butir obat di anus, memasang belt di kedua kaki dan ada satu yang tugasnya menenangkan saya. Tampak post it kuning atas nama saya dan tulisan ‘kiri = 6, kanan = 6’, di tempel di layar monitor USG.

07:30. Dari layar itu saya bisa melihat jarum OPU menusuk folikel-menyedot cairannya sampai habis dan kempes, satu persatu sampai tak bersisa, gantian kiri dan kanan. Waktu terasa berjalan lama. Di tengah proses operasi mini itu, dr Hendro menyuruh salah satu suster menekan perut kanan saya. Sedangkan tak jauh dari meja operasi, terdengar suara dr Aucky bilang oocyte/kosong.

07:45. Operasi selesai, saya dipindah ke recovery room. Butuh waktu sekitar 15 menit untuk menghabiskan cairan infus. Dokter Hendro menyapa saya sambil senyam-senyum disela-sela menangani pasien lain, “Bu dokter, hasil panennya lumayan. Dapat 15 oocytes.” “Apa dok, 14 apa 15?” tanya saya yang pura-pura budegk sekedar memastikan. Lalu beliau tanya ke dr. Aucky dan menyebutkan angka 15 lagi. “Terima kasih ya dok!” ucap saya sembari dalam hati bersyukur mendapatkan angka ini mengingat di-cycle yang pertama cuma dapat 6 oocytes.

08:15. Sebelum meninggalkan RS, kami harus menyelesaikan administrasi, melakukan pembayaran OPU & ET plus Crinone 8% (Progresterone Vaginal Gel) sebanyak 5 biji untuk lima hari ke depan (dipakai mulai tanggal 24 Sep).

Pasca OPU selama sehari penuh, mata saya siwer, perut bawah terasa kram, kembung, kepala pening dan bawaannya pengen tiduurr terus. Tapi malam itu saya pulang ke Pasuruan. Sebagai panitia pelantikan para dokter spesialis keesokan harinya –suami butuh mengambil jas. Menginap semalam di Santos d’House.

24 September 2013. Suami telpon ruang CF RS Siloam untuk memastikan jadwal embryo transfer (ET). Setelah proses fertilisasi, akhirnya kami memperoleh 12 embryo yang akan siap ditransfer ke rahim saya Sabtu, 28 September 2013.

Hal yang saya rasakan H-1 ET adalah terdapat percikan-percikan bahagia tapi tidak terlalu meletup-letup. Saya enggan melambungkan angan dan harap agar bila jatuh tidak sakit-sakit amat. Setidaknya bila ada kegagalan, kami masih punya embrio-embrio beku yang siap ditanam kapan saja. Semoga aja langsung berhasil. Tidakkah kami pantas mendapatkannya? Bukankah memang sudah saatnya?

Bagi pembaca dimanapun kamu berada, minta tolong bantu doa. Kami tahu pentingnya keajaiban dan kesaktian doa. Oleh karenanya, kami sedang ber-genkidama, mengumpulkan doa-doa dari semesta agar Yang Maha Kuasa bersedia mengabulkannya.

Kalau mau tanya-tanya mengenai program batab di Siloam Surabaya, silahkan kirim email ke mi41215@yahoo.com, saya akan luangkan waktu untuk menjawabnya. Atau, di kolom komentar juga bolehh.

Untuk besok, bismillah…