[jawa pos] surat dari ibu

Dear Ayang –anak sayang,

Mama tak ubahnya orang kasmaran, menciumi foto orang tersayang. Kaulah anakku. Semua sayang mama tertuju padamu.

Empat tahun adalah waktu yang cukup untuk menunggu hadirmu. Ya! Selama itulah doa-doa mama dipenuhi olehmu. Terus meratap pada Sang Maha Pemberi Harap.

Mama bahagia! Perasaan bahagia mama meroket; melesat menembus langit. Saat tahu engkau hinggap dan menancap dalam rahim untuk sembilan bulan bermukim.

Kau jadikan mama inang yang baik dengan menyortir hal-hal buruk. Hingga sulit untuk membuat makanan-makanan itu masuk. Tiga bulan mama mual muntah tak ubahnya pemabuk. Penginnya selalu dipeluk.

Mama menyanyi, mama mengaji, mama belajar bahwa engkau bisa mendengar. Perut mama usap, colek dan ketuk. Mama merasa bahwa engkau bisa mendefinisikan raba.

Lihatlah! Mama menggendut seperti badut. Tapi mereka bilang mama terlihat menawan karena mengandung bayi perempuan. Thanks to you.

Belakangan nafsu makan mama menggila, ngos-ngosan makin menjadi, kram kaki beberapa kali, nyeri pinggang dan punggung menghantui. Meski nyeri akibat sikut dan jemari mungilmu yang menonjok hingga perut mama menonjol, tak menghalangi senyum ini merekah berseri.

 Dear Ayang –anak sayang,

Sabarlah. Mari bersabar hingga saat itu tiba. Saat kita pada akhirnya bersua. Tunggu waktu yang tepat untuk bertemu mama.

Jawa Pos 22 Desember 2014 Halaman 18
Jawa Pos 22 Desember 2014, Hal: 18 | pake foto 28 weeks, krn saat submit belum bikin foto hamil 29 weeks

Pada suatu pagi dihari Minggu, 23 November 2014 suami saya pulang sejenak dari tour of duty RSUD Jombang untuk tentiran dengan Prof Prayit sambil membawa sarapan dan koran Jawa Pos hari kemarin.

Koran itu dibawa pulang karena suami mau kasi tunjuk ulasan mengenai foto hamil. Siapa tahu ntar bisa jadi inspirasi buat kami melakukan maternity photoshoot. Oalaaa..

Setelah makan, saya baca ulasan yang dimaksud suami. Ternyata artikel itu ditulis oleh Nora Sampurna. Nora adalah orang di balik diterbitkannya My Wedding 2011 silam. Hehehe. Setelah selesai membacanya, mata saya tertuju pada sayembara dalam rangka menyambut Hari Ibu.

pengumuman sayembaranya digunting kemudian dikliping :p
pengumuman sayembaranya digunting kemudian dikliping :p

Sayembara ini bagi saya tak lazim. Kenapa? Karena peringatan Hari Ibu itu biasanya dipenuhi dengan apresiasi anak kepada ibunya. Lah ini malah ibu kepada anaknya.

Dasar saya suka ikut kuis-kuisan, nah ini daripada nganggur di kamar, mending nulis surat cinta untuk anak. Suratnya saya kirim pada 29 November 2014. Wuih, bikin surat ampe seminggu amat! Iya, karena saya jarang buat puisi dan submit puisi-puisiannya tidak hanya satu melainkan dua. Hahaha.

*

Sebulan berselang. Senin pagi 22 Desember 2014, saya sudah mau hunting sarapan di warung ketika ada BBM dari saudara yang mengabari tentang ADA SAYA MASUK KORAN. Yeay! Tentulah girang diberi surprais beginian –meski belum makan. Lalu kasi kabar suami. Doi ikutan happy. Terlebih ibu dan bayi.

Adalah rejeki kami akan publisitas semacam ini plus saat persiapan menyambut anak cukup menguras kas. Alhamdulillah.

Dearest Jawa Pos, kira-kira ada sayembara serupa kapan lagi ya? Menyambut Hari Valentine, mungkin? #ancangancang

Salam,

miartmiaw

Advertisements

[my wedding] karpet merah berganti kuning

Sembilan kali Hari Kasih Sayang telah kami lewati, tapi untuk kali ini, hari itu menjadi lebih spesial. Seolah setelah sekian lama menjalin kasih, kehidupan asmara kami terangkum dalam suatu momen pernikahan. Sang pujaan hati mengikrarkan diri untuk bersedia sehidup semati. YAY! Saya akan menjadi Nyonya Akhmad; Mia Akhmad. Ehem.

Minggu pagi pada 14 Februari 2010, pelataran rumah ortu saya auranya terlihat begitu khidmat. Calon suami akan berhadapan dengan bapak saya, penghulu beserta saksi-saksi. Tentu saja, dia akan menjalankan ijab kabul. Sambil menyelesaikan riasan di kamar pengantin, saya tidak bisa meredam degup jantung yang ritmenya makin cepat. Ya ampun! Saya deg-degan.

Selain prosesi pergantian status masa lajang saya menjadi wanita bersuami, hal yang membuat saya cemas adalah bahwa ternyata merias seorang pengantin perempuan memakan waktu yang lama. Ini disebabkan mata bengkak dan sembab akibat semalaman tidak tidur dan kaki serta seluruh badan yang goyang-goyang akibat jarum jam yang seperti ingin mengejar saya. Tak pelak dahi tergores hingga luka saat sang perias mencoba membersihkan rambut halus di sekitar wajah dengan alat khusus.

Beberapa saat kemudian, ketika kalimat sakral itu berkumandang, seolah waktu menghentikan kegiatan kami. Bahkan nafas saya. Qabiltu nikahaha wa tazwijaha bil-mahril-madzkur. Si Dia melafalkannya dengan mantab. SAH! Begitulah teriak para saksi. Barulah saya bisa bernafas kembali. Wuih! Lega rasanya.

Setelah foto-foto, pada hari itu juga, kami meluncur ke pelaminan. Ke sebuah gedung yang tak jauh dari rumah bersama mobil pengantin pinjaman. Hahaha. Adalah menjadi motto kami, kalo bisa pinjam mengapa harus sewa. Pesta pernikahan, bukanlah tentang membuat orang lain terpukau melainkan lebih kepada berbagi info dan kegembiraan kepada handai taulan, bukan?

what we called husband and wife ;;)

Melewati prosesi adat temu manten singkat dan tak terlalu ketat sampailah kami di mahligai. Bayangkan saja, menjadi raja dan ratu sehari! Mata para tamu undangan tertuju pada kami yang bersimbah keringat. Maklum, gedung yang kami sewa pendingin ruangannya tidak berfungsi. Fiuh! Tapi tidak menghilangkan suka cita saya dan suami menyambut sahabat dan kerabat. Satu persatu mereka memberi doa dan selamat.

Di atas pelaminan, sebagai suami-istri adakalanya kami bercanda sendiri. Mengendorkan ketegangan yang disebabkan oleh kesibukan persiapan. Memang, kami tidak banyak melibatkan orang tua untuk ‘menghadirkan’ acara ini. Masalah undangan, cindera mata, dekorasi, gedung, catering, persoalan foto sampai perias pengantin kami yang handle. Benar-benar jerih payah yang terbayar. Saat suami memegang tangan saya, saya berkata padanya: “We made it, Honey!”

 

Kelakar suami dan saya tidak berhenti sampai di situ. Melihat beberapa dekorasi yang terlihat janggal, kami berdua hanya bisa tertawa dan pasrah. Bagaimana tidak, jika karpet di sepanjang selasar itu bukannya merah seperti pesanan melainkan kuning. Belum lagi taman kecil di depan pelaminan serupa gersang tak berkesudahan. Tim dekor berdalih kalau harga bunga pada saat valentine melangit. Yang penting pada hari itu, hati kami sangat berbunga-bunga.

 *

Cintaku bukanlah cinta biasa, jika kamu yang memiliki. Dan kamu yang temaniku seumur hidupku…

 

Lantunan suara Afgan via band akustik di hari pernikahan ini mengalun serupa original soundtrack serial kisah percintaan kami. Memang, cinta saya dan pasangan bukan cinta biasa. Saya sudah tahu itu semenjak saya memutuskan menerima segala apa yang ada di dalam dirinya, kelebihan dan kekurangannya, versi ABG pada tahun 2000.

Siapa yang menyangka pria yang ke sekolah memakai sepatu bola (satu-satunya sepatu paling awet yang ia punya) dan seorang bintang kelas ini menjadi milik saya pada akhirnya. Dan senyum semanis selai stroberi yang saya miliki lah yang membuatnya yakin bahwa saya memang tercipta untuknya.

Semenjak berseragam putih abu-abu hingga perguruan tinggi, saya dan ‘mantan pacar’ memang berada di bawah almamater yang sama. Dia tetangga rumah sekaligus teman sekolah saya. Dia juga lah yang mengantar saya les di sebuah bimbingan belajar demi menghadapi SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) dengan bersepeda. Saya membantunya mencari beasiswa pada saat kuliah. Kami berwisuda bersama dan melalui suka-duka dengan usia yang tidak muda.

Pada suatu waktu (tak lama setelah kami menikah) suami tercinta mengaku pada saya bahwa saya adalah satu-satunya wanita yang mengagumkan yang mau menjadi pacarnya. Sejak kali pertama kami pacaran, pada saat apel ke rumah jaman SMU, berkunjung ke asrama putri ketika kuliah, sampai menjemput saya sepulang kerja, si Dia selalu merapal mantra (dalam hati) seperti ini: “Hei kamu pacarku, bersiaplah menjadi istriku!”

Dan sementara orang-orang kebanyakan merayakan valentine dengan makan malam, membuat puisi, memberi coklat maupun bunga dan boneka, saya beserta pasangan juga menorehkan cinta dalam sebuah cerita romantis lho, meski si dia agak kikuk kalau disuruh romantis-romantisan!

Pernah nih si pacar memberi saya setangkai mawar di februari pertama kami semenjak ‘jadian’. Yang diberikan saya cuma setangkai padahal dia membelinya dari teman sekelas, sepot! Ternyata, sisanya ditanam di rumah ortunya. Dia bertekad untuk bisa menjaga bunga mawar itu seperti menjaga hubungan kami. Dan sampai sekarang, tanaman itu terus berbunga.

Semua cerita kami itu bisa dibaca melalui sebuah kotak sepatu. Di sana tersimpan harta karun perjalanan cinta kami dari februari ke februari disepanjang tahun 2000 hingga 2010. Kartu ucapan handmade dan surat cinta pemberian saya, foto-foto berdua dalam kegiatan sekolah, photobox pada saat jalan-jalan ke mall, tiket nonton bioskop, undangan pernikahan sampai yang terakhir, tiket pesawat terbang bulan madu kami ke Pulau Lombok.

Ya, suami menyimpan semua kisah kasih kami dalam sebuah kotak sepatu dengan rapi dan tertib. Di sinilah letak keromantisan itu. Saya benar-benar memuji dan memberinya apresiasi yang luar biasa karena telah menyimpan sejarah percintaan saya dengannya.

Saya tak pernah membayangkan, bisa dengan mudah memutar waktu. Tinggal membalik jam pasir, membuka kotak ajaib itu, tadaa! Tibalah saya di mana saja ke masa yang saya inginkan. Ada Aris dan Mia yang lagi ketawa-ketiwi; ada kami saling berbagi hati. Itulah saya beserta suami di hari yang telah terlewati hingga saat pernikahan kami. Dengan cinta yang tak biasa di hari penuh kasih dan sayang. S, sayang sampai selamanya.

 

ABOUT BRIDE AND GROOM

BRIDE

Nama: Jamiatul Khoiriyah, S.Psi.

Tempat tanggal lahir: Pasuruan, 21 Oktober 1983

Nama Ayah: Mudji Santoso

Nama Ibu: Suhariyati

 

GROOM

Nama: Akhmad Risdianto, dr.

Tempat tanggal lahir: Pasuruan, 13 Januari 1984

Nama Ayah: Wanito (Alm.)

Nama Ibu: Muzayanah

 

THE WEDDING

Akad Nikah dan Resepsi: Minggu, 14 Februari 2010

Lokasi Akad: Rumah mempelai wanita (Jl. KH. Achmad Dahlan 3/35 Pasuruan)

Lokasi Resepsi: Gedung “Bhayangkara” Pasuruan

 

DIBALIK KISAH KASIH MIA AND ARIS

1) Selalu memberikan ucapan: “HAPPY FRIDAY!” Aris pada saat Jumat Kliwon (hari lahir Mia) dan sebaliknya, Mia kepada Aris pada Jumat Wage.

2) Menyimpan nomer telepon pasangan dengan nama kontak “My Love” (Aris) dan “Baby Hiu” (Mia).

3) Aris pertama kali menyatakan cinta kepada Mia tanggal 5 Juli 2000 di Kebun Teh Wonosari Lawang-Malang pada saat rekreasi tahunan bersama teman sekolah dengan cara membisikkan: “I Do Love You”.

 

we were on newspaper. mwuehehe

 

*Postingan ini teruntuk mereka yang belum membaca harian Jawa Pos halaman 8-9 tanggal 13-12-11 sampai 10 kali. (wow! ini mah deret angka cantik namanya. #mekso )

 

 

S. Salam sun sayang,

miaris