for sale :: priceless memories

Menutup tahun 2010 saya dan Baby Hiu gencar-gencarnya nyari rumah. Keliling kesana-dimari dengan masteng merah (baca: honda supra fit) andalan. Perumahan dari kota sampai kabupaten Pasuruan kami singgahi. Sekedar melihat-lihat. Hingga kami merasa cocok dengan perum (baru dibuka) yang satu ini,

kancil mas regency, jalan bader, 67153 –12 desember 2010

Lokasinya di tengah kota Bangil, kabupaten Pasuruan. Lahannya dikerubungi alun-alun, TK-SD-SMP-SMA favorit (untuk anak-anak kelak), pasar, salon kecantikan (terutama untuk saya), rumah sakit dan tempat futsal plus bulutangkis (untuk Baby Hiu). Lagian ini win-win solutions bagi kami menuju tempat kerja masing-masing. Saya lebih dekat ke PIER dan ke Surabaya –tempat Baby Hiu mencari nafkah– juga gak jauh-jauh amat.

kancil mas regency no. b-05

Nah, ini calon hunian kami. 11 Januari 2011 sudah mulai dipondasi. Mr-Mrs Santos, mertua dan anggota keluarga tidak ada yang tahu. Sengaja begitu karena kami mau buat surprais! Berdua kami tentukan besar rumah idaman (tentu yang sesuai budget), nomor rumah yang membawa keberuntungan (bingung kemudian random), mau hadap utara apa selatan (kami pilih selatan) sampai lama pelunasan. Enam tahun aja ya, biar gak kelamaan punya hutang.

pose mandor ala baby hiu — 11 februari 2011

Sebulan kemudian saya terperangah, “AHA. Sudah tampak kerangka!” Demi mengikuti tradisi versi tukang dan disarankan mengadakan ‘selamatan’ maka untuk kuda-kuda kami memberikan sejumlah dana kepada kepala tukang untuk membeli tumpeng ala kadarnya. Bersama kuli dimakan rame-rame pas laut. ‘Laut’ itu maksudnya istirahat. Konon, istilah ini berasal dari jaman penjajahan. Ketika para kompeni berteriak, “All, out!” (Semuanya, keluaaaar), leluhur kita dengarnya “Lauttt!” Heheh.

akika mulai ada tetangga– 26 maret 2011

Yang namanya kerja borongan, para tukang mesti sering disambangi. Dikasi makan, cemilan, es teh dan ‘disuap’ rokok untuk menjaga kualitas kerja. Supaya sinkron sama mau kami dengan adanya sedikit renovasi. Termasuk permintaan titik-titik colokan dan saklar, instalasi tv kabel di ruang tamu dan kamar utama juga penambahan macam-macam ceilinglights.

proses pengecatan oleh tukang roni — 21 mei 2011

Saya dan Baby Hiu hidup di jaman kebanyakan orang lebih memilih warna gelap untuk kusen jendela, daun pintu dan pagar dengan asumsi melindunginya dari kekejaman cuaca yang ekstrim. “NO NO NO! I want white, pleasee.” Mulai deh saya merengek-rengek ke Baby Hiu. Padahal sang suami orangnya konvensional dan penuh pertimbangan. Tapi dasarnya saya ini pawang yang baik, akhirnya doi mau menuruti pinta si istri.

view halaman belakang dari ruang tamu yang habis di-pel. 4 september 2011

FYI. Kerjaan developer itu sudah STOP pada bulan Juni. Baru setelah serah terima pada 5 Juli 2011, September-nya mulai mencicil deh. Sebelum berkunjung, kami ke pasar beli peralatan kebersihan untuk kerja bakti. Betapa senang hati kami ketika rumah terlihat kinclong dengan korden dan jeruji jendela yang telah terpasang beserta perabot pesanan yang mulai berdatangan. Bisa lihat kami yang sedang berguling-guling di lantai tak? 😀

uwaaaa, berantakaan >.< –18 november 2011

Yaaa, rapi-bersihnya rumah tak bertahan lama. Pada bulan Oktober 2011, kami memutuskan untuk menambah satu kamar mandi, kamar pembantu dan jemuran di lantai atas. Plus sekalian nutup sisa lahan kosong di belakang. Tapi supaya terlihat lebih cantik, tatanan dapur bawaan mesti dibongkar dulu. Lalu saya dan Baby Hiu jadi sering-sering mampir ke Depo Bangunan Sidoarjo buat beli kran, cat tembok, lantai granit, kompor oven, wastafel, door stopper sampai kuku macan!

coral color, i luv it! –2 Desember 2011

Bulan ini mulai masang-masang kanopi dan pagar. Bagian belakang rumah nyaris selesai; tinggal moles saja. Batu alam dan lampu taman juga sudah keliatan bagus. Hmm, tapi saya masih ndak cocok ya itu sama warna pagarnya. Saya minta putih, bukan putih gading begitu. Harus dicat ulang yaa. Syukurlah depan rumah sudah dipaving. Ini mintanya repot banget; mesti kucing-kucingan sama pengembang.

alhamdulillah, akhirnya pindah rumah juga 🙂 –6 januari 2012

Kartu dengan desain dari Smilebox saya buat spesial untuk ditaro di nasi kotak yang saya pesan; sebagai ucapan terima kasih. Perumahan dengan mini cluster ini ditarget ada 30 rumah yang laku. Tapi karena beberapa ada yang beli dua kavling, total paling cuma ada 25-an KK. Waktu itu, tetangga baru ada tiga. Dan acara syukuran pindah rumah kami diramaikan oleh kehadiran keluarga besar (akhirnya semua tahu). Meriah bersamaan dengan turunnya hujan.

suasana rumah pada saat malam hari — 1 maret 2012
nomor rumah seharusnya b-05 :p #kebaliktuh — 3 agustus 2012

Bulan Oktober 2012-pun berlalu..

Setelah IVF saya gagal dan setelah diskusi panjang dengan Baby Hiu, kemudian kami memutuskan untuk mengubah rencana masa depan. Untuk kebaikan berdua, sebaiknya memang harus segera pindah ke Surabaya. Dengan pertimbangan ‘mendekati’ sumber penghasilan utama. Suami tidak perlu mondar-mandir Bangil-Surabaya mengendarai motor (pertimbangan kesehatan juga). Apalagi doi punya niatan untuk sekolah lagi (program pendidikan dokter spesialis). Sedangkan saya, tidak perlu lagi bekerja dan lebih konsen ke persiapan punya anak.

JUAL : rumah keren kami. LT 112, LB 80. hubungi +6285731826772 / +6285646870713

Maka dari itu, kami berniat untuk menjual rumah idaman- rumah kesayangan- surga dunia kami demi mendapatkan Sarang Semut ♥ Selai lain di Kota Pahlawan (untuk modal gitu loh!). Bagi pembaca, bila diberi kesempatan, mohon bantuan ‘bom pesan’ atau ‘info bola salju’ kepada handai taulan yang mungkin sedang membutuhkan hunian cantik atau sekedar berinvestasi.

Terima kasih,

miaris :3

Advertisements

sarang semut ♥ selai

Dimana selai ada, di situ semut berada. ~Jam, 2012

Selainya merupakan selai yang disukai anak-anak. Berwarna merah selayaknya gula-gula dan berasa manis seperti stroberi. Sedangkan si semut berciri hitam nan ramah. Yang kata orang tua, jenis semut pembawa rejeki.

YA, itulah kami, saya dan suami. Mesra berada di sebuah sarang yang teduh, hangat, menerangi, melindungi dan melingkupi kami dengan aura kebahagiaan. Sarang ini kami pilih, rangkai sendiri, melalui sebuah proses yang perlahan menuju idaman.

#apeu

*

Selain di kantor, mall, Santos d’House, rumah keluarga Wanito atau di antah berantah, saya dan suami pastinya sedang berada di rumah. Entah sayanya lagi masak atau nyapu-ngepel sama suami yang keasyikan nonton berita olahraga sambil baca koran.

Suatu ketika dan disertai niat yang iseng-iseng, toh ini juga bagian dari kebutuhan bereksistensi, saya mau bikin nama rumah di akun Foursquare (#ealaa). Umm, tapi apa ya? Dan nama itu harus berelemen nama saya dan suami. Terang saja karena hunian itu milik kami berdua. ‘Tul nggak? 😉

Jangan ‘HOME sweet HOME’ ah! Terlalu pasaran.

Gimana kalo KAMAR BOS? Ini asalnya dari Kancil Mas Regency No. B-05 (KMR B-05). Cocok juga karena sang suami dipanggil Bos waktu SMP. Sampai sekarang malah (*beberapa teman sih). Lah, mana ada nama saya kalo seperti itu?

*utak-atik lagi*

JAMANT NEST. How? JAM dari nama saya, JAMiatul. ANT namanya suami, risdiANTo. FYI, saya bikin JAM dan ANT jadi trademark nama kami (*Ah, ini apaaa?). HAHA. Tapi kok ya kedengarannya tetap aja gak enak. Masih belum cucok bok!

Setelah dipikir-dipikir, sebaiknya ga perlu #kemenggres deh. Ya udah, Jamant Nest ditranslate aje.

S. Sarang Semut dan Selai. Supaya ketiga kata murni berawalan S, saya buang kata ‘dan’ saja yah?!

SARANG SEMUT ♥ SELAI. Bagaimana manteman? Oke kan?

So, jangan dikira venue ini nama tempat makan, YES? Uhui!

insyaallah dipenuhi rejeki, cinta dan tawa 😀

Kapan-kapan, sila mampir ke gubuk kami. Semoga beruntung bisa mencicip masakan saya.

Salam,

Miaris 🙂

homey home

“Ternyata yang kita idamkan dalam hidup maupun mati adalah ‘pulang'”, begitu kata Djenar Maesa Ayu. Senyampang masih hidup, lantas pertayaan selanjutnya adalah, pulang dari dan kemana?

Mungkin mau ketemu bantal, nangis bombai habis putus sama pacar. Atau, mau lebaran nih! Pulang kampung ah, mudik. Hmm, bisa juga seperti ini:

Istri: Jadi pulang jam berapa say?
Suami: Agak malam dari biasanya, 11-an lah!
Istri: Lho, gak nginep di kos aja? Besok kan mesti berangkat pagi-pagi?
Suami: Nggak deh. Aku kan kangen kamu..

Beragam alasan dari mengalami pengkhianatan perasaan, merantau, bekerja atau selepas sekolah, semua pasti bertujuan. Tujuan tadi lebih kepada sebuah pencarian ketenangan, keamanan, kenyamanan, kerinduan dan kehangatan keluarga. Bukan begitu?

Tenang telah meninggalkan hiruk pikuk jalanan dan ragam tuntutan hidup. Aman dan terlindung dari cuaca tak menentu. Nyaman karena bertemu dengan kamar kesayangan. Rindu bertemu senyum ibu. Dan hangat canda-celoteh semua anggota keluarga. Jadi, darimanapun saya pergi, pasti maunya pulang ke rumah.

Sekarang, rumah seperti apa yang saya inginkan? Apakah yang harus hadap selatan? Memiliki taman bunga anggrek dan kolam ikan? Bertingkat dan memiliki AC di tiap ruang? Berbagai impian akan rumah idaman membentang sejak main rumah-rumahan. Hingga setelah menikah, keinginan untuk mandiri semakin membuncah.

Asalkan bisa hidup berdua ajalah pokoknya (*sebelum muncul generasi penerus), gak apa-apa deh meski ngontrak. Saya kan pengen atur ruang tamu sendiri dan mengoleksi barang-barang kesukaan. Maklum, selama ini suka beradu mulut sama ibu perihal ‘rongsokan’.

Begini ceritanya. Suatu ketika saya merasa rumah ortu penuh dengan barang-barang lama dan tak berguna. Ada buku-buku jaman saya SD, tas plastik, baju-baju ukuran S-nya (*sekarang size super duper large). Nah, supaya terlihat lebih lapang dan bersih, maksud hati saya sortir. Tapi beliau ngamuk. Nilai histori dan sentimentil lebih berharga ketimbang apapun di dunia.

Tak taunya, saya juga punya kecenderungan menyimpan barang tak tepat guna. Misalnya, memperlakukan kardus bekas sepatu. Padahal sepatunya sudah rusak. Saya mikir, mungkin suatu hari kardus tersebut bisa buat kotak kado atau tempat menyimpan rol rambut. Bahkan, beberapa sepatu yang udah nggak dipakai masih disimpan. Dibuang sayaang 😦 Tuh kan, nurun.

Oke. Mulai dari sekarang, saya ingin punya rumah \m/ saya mau meletakkan barang-barang gak penting saya di rumah sendiri. Ibu tidak bisa melarang. Ortu bisa beri saran tapi tak bisa mendikte, dan sebagainya.

Ah, ini sih kiasan. Intinya, saya mau bebas melakukan apa saja terhadap keinginan. Tentu yang sesuai cita-cita dan nilai-nilai keluarga kecil kami, antara saya dan suami. Yang penting bebas intervensi. Bisa koprol di depan tv kalii! 😀

salam sehangat rumah,
mia