[sketch] turning thirty

Dua minggu terakhir ibarat masa berkabung. Gagalnya IVF cycle ke-2 bagai kiamat kecil. Siapa yang mati? Ketiga embrio kami. Saya hanya berkutat di dalam kamar seharian. Ngapain aja? Kebanyakan tidur dan nonton tv. Beli makan aja malas apalagi disuruh makan makanan sehat. So weird! Saya tak ingin terus-menerus berkubang dalam kesedihan.

Saya ingin bertemu orang-orang; berbincang. Bukan hanya melalui dunia maya saja. Sementara suami sibuk dengan kegiatan perkuliahan dan teman-teman, saya ingin bertatap muka secara nyata dengan siapapun bahkan mereka yang tidak saya kenal. Juga lebih aktif melakukan aktivitas yang saya sukai. Inilah yang ada dalam agenda.

Senin | Nongkrong di Perpustakaan Umum

Selasa | Renang (am); Yoga (pm)

Rabu | Weekly Photo Challenge

Kamis | Lari (am); Yoga (pm)

Jumat | Menggambar

Sabtu | Makeup tutorial

Minggu | Santai

Muluk amat! Hahah :’D

Hari ini sudah bisa lebih produktif. Itung-itung sebagai pemanasan, here’s my sketch..

source: mrsprayogo ig
source: mrsprayogo ig

And this is the final result,

faber-castell watercolour pencil #407 | black pencil tic | pilot ballliner medium-black
faber-castell watercolour pencil #407 | black pencil tic | pilot ballliner medium-black

Pensil warnanya sudah pikun; waktunya pensiun. Semoga besok dihari ultah saya, ada yang mau ngasi Copic Marker warna basic (minimal set isi 12, hehe).

Pertanyaan trivia: Berapa jumlah mata dalam sketch Turning Thirty?

lol,

mia

Advertisements

cara melipat tas plastik

Good Morning I Love Monday!

 

SEKARANG

Saya sedang menikmati kicau burung milik tetangga KMR A-07.

Saya tidak bermake-up lengkap.

Saya hendak menata pakaian di lemari; menyortir yang lusuh dan tidak perlu.

Saya menangkap detak-detik jam dinding.

Saya mencoba menikmati hidup dengan berpikir positif.

Saya mau merapikan rumah.

 

Untuk poin yang terakhir, saya akan mulai merapikan kantung plastik terlebih dahulu sebelum menata lemari. Kantung-kantung plastik yang kita kenal sebagai tas kresek ini biasa kita dapat dari belanja apapun di minimarket atau mall. Untuk ukuran kantung yang lebih besar, masih bisa kita manfaatkan untuk pelapis tempat sampah. Nah kalau ukurannya kecil, tetap bisa disimpan untuk keperluan lain-lain, seperti mengantongi buah segar dan kreker sebagai bekal sekolah/ngantor.

Agar tidak berantakan memenuhi sudut-sudut ruang rumah, kantung-kantung plastik tadi saya lipat sedemikian rupa (bukan diremas maupun digulung acak) kemudian meletakkannya di tempat khusus (baca: kardus sepatu). Dengan begitu, plastic bags tersebut bisa digunakan sewaktu-waktu tanpa perlu mencari-cari terlebih dahulu yang bisa memakan waktu (#ryme). Hehe.

Sekitar tahun 2005, seorang teman kos mengajari saya cara melipat kresek. Tadinya cuma dilipat biasa yang lipatan kresek-nya berpotensi , let’s say ..rapi-tak-tahan-lama. Dengan ilmu baru, saya semakin maju. Lalu, apalah guna ilmu bila tidak membawa manfaat. Untuk itu, saya akan membaginya dengan kamu yang belum tahu. #nomnom

how to fold plastic bags
how to fold plastic bags

Keterangan foto:

  1. Tipe kresek macam-macam. Ada yang pegangan tangannya berada di samping kiri-kanan. Ini yang berada di tengah.
  2. Lipat vertikal menjadi tiga atau sesuai kebutuhan.
  3. Tekuk ujung atas menjadi bentuk segitiga.
  4. Lanjutkan sampai ke bawah.
  5. Sisa lipatan selipkan pada bagian yang terbuka untuk mengunci lipatannya.

Sudah. Lebih praktis bukaaan? 😀

 

Sampai jumpa di ‘isi kepala’ selanjutnya..

miaw

bermain-main ke sawah yuk!

Saya akan bercerita tentang pengalaman pribadi. Mengenai orang tua yang mengajarkan banyak hal kepada saya.

Bersyukur sekali tempat ini masih ada dan dapat menjadi sumber inspirasi. Sangat berkesan dan baik untuk dikenang. Juga membawa begitu besar pengalaman akan cinta dan pengetahuan.

Saya teringat kenangan masa kecil dimana orang tua selalu mengajak saya dan dua adik jalan-jalan ke sawah ini. Bermain-main di sini. Selepas sholat shubuh, kami berangkat. Letaknya tak jauh dari rumah. Hanya 500 meter saja.

Hamparan sawah nan hijau membentang masih diselimuti kabut. Gunung-gunung di kejauhan tinggi menjulang. Ada dalam ingatan bahwa tampilan itu laksana raksasa sedang tidur. Udara pagi terasa sangat bersih.

Saat jaket yang saya kenakan tidak bisa menyembunyikan tangan saya dari dingin, ayah berhenti dan menggosok-gosok telapak tangan saya dengan telapak tangannya. Saya bertanya, “Mengapa ayah melakukannya?” Kemudian ayah berkata : “Diam dan rasakan.” Tak lama beliau bertanya, “Apa kamu merasakan sesuatu?” Saya mengangguk.

Telapak tangan saya berubah hangat. Sambil meneruskan perjalanan ayah tak hentinya berbicara mengenai gaya gesekan yang mampu menciptakan panas. Demikian juga dengan aktivitas menggigil yang merupakan upaya tubuh untuk menghangatkan diri.

Kala itu, saya begitu penasaran dengan ibu-bapak yang berjajar, berjalan di pematang sawah. “Siapakah mereka?” Ibu lantas menjawab, “Mereka itu petani. Merekalah yang berjasa hingga kita bisa makan nasi setiap hari.” “Siapa petani?” tanya saya kembali. “Petani adalah orang yang mata pencahariannya bercocok tanam. Dalam hal ini menanam padi,” jawab ibu dengan sabar.

Banyak hal lain yang saya dapatkan dari dua jam perjalanan kami. Saya merasakan hangatnya matahari pagi dimana sinarnya berwarna kuning keemasan dan menyilaukan. Bahwa sang mentari terbit dari timur dan nantinya akan tenggelam di sebelah barat. Burung-burung berwarna putih bergerombol terbang ke sana kemari. Tanaman Putri Malu yang ‘tidur’ saat saya sentuh. Telapak kaki saya yang basah karena embun.

Hamparan sawah berwarna hijau menyejukkan mata. Pun ketika sawah hijau itu berubah menjadi coklat. Ada orang-orangan sawah berada di tengahnya. Saya akhirnya tahu bahwa fungsinya sebagai penghalau burung pemangsa padi. Sebagai tanda sang petani akan menuai hasil jerih payahnya tak lama lagi. Suatu pengalaman saya yang kaya di perjalanan hari minggu kami yang lain.

Jadi alangkah baiknya bila di hari libur, orang tua mengajak anak-anak mereka bermain di sawah/ladang terdekat. Menikmati alam dan belajar banyak hal dari keingintahuan mereka. Untuk mengatasi kebosanan, bisa juga disiapkan bekal untuk sarapan pagi (semacam piknik).

hijau mataku karena sesuatu
para dewi sri