travel mate

Love Letter for Travel Mate

April 2012

 

My Dear Travel Mate..

Ingatkah kamu, bagaimana kita bertemu? Pertama kali di Hi-Tech Mall? Gembira tak terkira aku kala itu. Malam-malam aku menciumimu. Baumu khas. Penuh kegembiran seperti aku menghabiskan waktuku main Zuma.

Kau tahu,

aku dan kekasihku tujuh semester menabung uang beasiswa kuliah kami untuk mendapatkanmu. Kami kumpulkan pelan-pelan sampai cukup. Kami tak makan enak pada saat kencan malam-mingguan. Kami juga jarang nonton bioskop.

Well,

aku ingat kebutuhanku untuk jumpa kamu. Sangat mendesak untuk mengerjakan skripsi. Hingga kamu membantuku untuk mempermudah segalanya. Aku tak perlu repot ke rental. Aku cukup berdekatan denganmu dan bantal.

Hmm,

kebersamaan kita cukup lama. Bahkan mesra. Kamu menampung semua memori cinta dan cita kami. Foto sehari-hari, curhat merana, file-file materi kuliah, serta perjalananku dan kekasih, sampai menjadi sepasang suami-istri.

Aku ingin kau tahu.

Aku tak perlu mencari pengganti. Semua tahu, kita akan menua dan renta. Tetapi, kan kujaga kamu selalu hingga nanti. Kesenjaan kita harus dinikmati bersama. Sejatinya, kamu adalah kawan sejati. Teman sehati.

 

Untuk itu, terimalah sungkem sayang dariku. Happy 6th Birthmonth, My Dear Acer TravelMate 2428NWXCI. Semoga kita terus bersama sampai selamanya.

 

truly travel mate

 

*lali tukue tanggal piro.hoho

Advertisements

senandung selasa

Pagi-pagi, bersepatukan motif kotak yang menapak, kulangkahkan kaki di badan luar jalan beraspal dengan semangat. Hangat matahari bisa membuat kalian sehat, kalimat pak Basori—guru Olah Ragaku—terngiang-ngiang di kepala. Kalau masalah itu, sejak SD-pun saya juga tahu pak, batinku pagi itu. Hiruk pikuk kendaraan yang berada pada jalurnya menjadi sebuah stimulus yang terabaikan. Menjadi pengiringku menuju perempatan.

Mobil penumpang umum kubayar agar aku bisa selamat sampai sekolah. Aku duduk bersama penumpang yang membawa pisang. Pisang yang berwarna hijau memenuhi seluruh badan mobil. Membuatku sesak nafas. Tidak hanya itu, penumpang lain jadi tidak punya kesempatan untuk ikut bersama kami. Sekolahku berada dua puluh menit dari rumah.

Begitu sampai di kelas, kulayangkan pandangan ke seluruh penjuru arah. Hari ini ada ulangan matematika dan tidaklah heran teman-teman sibuk berkutat dengan diktat-diktat. Sistem belajar kebut semalam sampai pagi masih menjadi kebiasaan mereka. Berusaha memanfaatkan waktu di saat-saat terakhir. Berharap semua yang dibaca bisa berada di ’luar kepala’ nantinya. Walau pada akhirnya memang benar-benar di luar kepala; melayang entah kemana.

Terkadang ingat pernah melihat, bahkan hapal halaman materi yang tengah diperbincangkan dalam soal hingga mendorong mereka mencuri-curi kesempatan untuk membuka buku di saat ujian berlangsung. Setidaknya bisa memberikan pencerahan. Minimal telah benar menulis rumusnya. Tapi aku tidak mengamini hal yang satu ini. Bagiku ngerpek perbuatan bodoh dan memalukan. Tidak mencerminkan generasi penerus bangsa.

Tidak bisa mengerjakan soal itu biasa. Mana ada guru memberi soal yang mudah, pasti soalnya susah. Terlepas dari itu semua, aku tahu ulangan ya begitu-begitu saja. Kalau dapat nilai jelek, pasti akan diulang. Bukan muridnya yang bodoh tetapi gurunya yang kurang bisa menyampaikan materi dengan baik. Itu prinsipku dan teman-teman sekadar menenangkan di saat hasil yang diharapkan tak sesuai dengan kenyataan.

Pak Gatot guru yang disiplin. Beliau botak dan konvensional. Suaranya cukup lantang, tulisannya juga rapi untuk ukuran laki-laki. Aku melihat langkahnya dari jendela; melihat keriput pipinya yang bergoyang-goyang. Demikian juga dengan teman-temanku. Beliau mulai mendekat, datang kepada kami laksana pencabut nyawa. Membuat kami bergetar dan berdebar. Tetapi aku tak melihat Cantik Kayla, teman sebangkuku. Ia belum datang hingga soal siap untuk dijawab.

”Selamat pagi Pak. Maaf terlambat,” begitu sapa sesal Canti kepada Pak Gatot.

Ritme nafasnya masih belum beraturan. Rambutnya juga acak-acakan.

”Selamat siang,” sindir pak Gatot. ”Sudah pukul tujuh lewat seperempat, kenapa terlambat?”

”Saya harus sarapan dulu Pak. Ibu yang memaksa. Hari ini kan ada ulangan, yaa supaya bisa mengerjakan dengan baik.”

”Kamu kan bisa bangun lebih pagi dan sarapan lebih awal?” protes pak Gatot sambil mengusap kepalanya yang botak. Kami yang melihat adegan ini tertawa geli.

”Masalahnya pak, masakannya baru matang jam setengah tujuh.” kilah Canti.

”Rupanya ibu kamu yang bermasalah. Jangan diulangi lagi. Ini soal ulangan kamu.”

”Baik. Terima kasih Pak.”

Canti kemudian menuju ke arahku sambil manyun dan mengembangkan senyum. Matanya berbinar dan bau minyak telonnya sangat segar. Ia seperti bayi yang baru mandi. Lika-liku lakunya menggemaskan. Rambutnya panjang dan menawan. Meski untuk materi eksak, lemotnya tak tertahankan.

”Aku dapat soal dengan kode A, kamu?” tanyanya padaku.

“B,” jawabku tanpa menoleh.

“Waduh, soalnya gak sama. Mati aku.” Canti menekuri kertas soal dan lembar jawabannya. Tampak sekali kebingungan, tak tahu harus menulis apa. Untuk sementara waktu kukira begitu.

Satu jam berlalu, si Canti terlihat resah dan gelisah. Dia seolah bocah yang menahan kencing, tidak bisa tenang berada pada tempat duduknya. Mencari rumus-rumus di meja yang telah ia siapkan sehari sebelum hari H. Selesai sampai di situ. Baginya, poin dari menulis rumus sangat minim. Mumpung masih tersisa waktu, ia manfaatkan kesempatan itu dan mulai menyikut tanganku.

”Lihat. Sini, lebih dekat,” bisiknya padaku sembari terus waspada dengan satu orang guru yang siap siaga di sana.

Pak Gatot memperhatikan siswa yang gerak-geriknya mencurigakan untuk ditegur. Dengan ’ehm’ saja sudah membuat kami deg-degan setengah mati. Beliau tak segan mengeluarkan siswa yang tertangkap basah melakukan tindak kecurangan. Jadi upaya kita untuk saling bertukar info atau jawaban harus benar-benar rapi. Untung, teman-teman tidak lupa meletakkan koran di meja Pak Gatot, hingga perhatian beliau pada kami menjadi aman terkendali.

Secepat kilat Canti menggerakkan penanya, menulis angka-angka tanpa ragu. Kukatakan dalam hati, tulisannya indah sekali. Begitu rapi dan khas wanita. Tidak ada yang bisa menandinginya, bahkan pak Gatot. Siapa saja pasti mengira tulisan itu merupakan produk mesin tik atau komputer.

”Waktunya sudah habis. Ayo kumpulkan!” suara pak Gatot membangunkanku dan teman-teman. ”Letakkan soal di dalam kertas jawaban kalian.”

Canti dan aku pulang sekolah sama-sama; rumah kami searah. Di atas trotoar, dengan panas siang yang begitu memanggang, kami berdiri cukup lama demi angkutan kota. Lebih lama daripada upacara bendera. Susahnya membuat mereka berhenti untuk mengangkut kami. Tarif angkota untuk penumpang umum dan pelajar memang berbeda. Pelajar sekolah tarifnya lebih rendah seribu rupiah.

Ketika siang, laju angkota sangat lamban. Mulut Canti dikunci oleh lelah dan rasa gerah. Satu jam perjalananan pulang yang membosankan.

”Ayo, mampir rumahku. Makan dulu.” ujar Canti kepadaku. Angkota berhenti untuk menurunkan Canti.

Tawaran yang menarik. Sebenarnya tidak ingin menolak tapi aku kan harus bekerja, mencuci mobil tetangga. Penghasilan yang kudapat dari sini begitu berarti. Bisa kupakai untuk membeli buku yang diwajibkan sekolah untuk membelinya.

Kadang masih tidak mengerti mengapa mereka begitu memaksa kami untuk membeli buku-buku itu. Alasan yang mereka lontarkan cukup masuk akal, kita harus bisa menghargai karya anak bangsa dengan membeli buku asli; tidak memfotokopi. Ya, ya, ya. Akhirnya dengan berat hati kukatakan pada Canti, ”Maaf, lain kali saja. Aku harus bekerja.”

”Oh, begitu. Ya sudah, tidak apa-apa. Tapi nanti malam, jadi belajar bersama kan?” tanyanya.

”Ada PR Kimia ya? Boleh. Di rumah Ria seperti biasa kan? Sekalian aku mau mengembalikan buku Matematikanya yang kupinjam.”

Canti mengangguk dan melambaikan tangannya, ”Sampai nanti.”

*

Aku kaget saat tiba-tiba Canti sudah berada di depan, berdiri di antara pintu dan jendela. Ini kali pertama dia datang. Perempuan pertama yang menginjakkan kakinya di rumahku. Seperti halnya aku, dia juga kaget melihat keadaan rumahku yang agak berantakan. Ibu dan dua adik perempuanku yang sibuk meladeni ayahku yang mau ini-itu.

”Maaf. Aku datang tanpa bilang. Ini, kubawakan jeruk. Terima kasih sudah bantu aku tadi pagi,” ujar Canti.

Kulihat dia memberikan senyum sepintas, masuk melewati pintu rumahku, kepada semua orang yang memperhatikan kami.

”Sama-sama.”

Kubawa sekilo jeruk pemberiannya ke dalam rumah tapi ia kubiarkan saja di luar sana. Tidak kupersilahkan masuk. Kurasa situasinya kurang pas untuk dia tahu persis kondisi keluargaku. Aku mengganti sarungku dan bersiap berangkat.

”Ayo, kita ke rumah Ria.” aku menggiringnya, berjalan menuju rumah Ria.

”Siapa tadi? Kenapa?” tanya Canti kepadaku.

Aku sudah mengira ia pasti akan menanyakannya.

”Ayahku kena stroke. Satu bulan ini ia tak sadar sepenuhnya. Meracau saat berbicara. Selalu mengeluh badannya panas dan selalu ingin berendam air es. Mengamuk saat kesakitan di bagian perutnya.”

”Gak dibawa ke dokter?”

”Sudah. Bahkan kami juga membawanya ke dukun.”

”Lalu, berobat jalan berarti?”

”Biaya rawat inap rumah sakit terlalu tinggi sedangkan dukun mengatakan sudah tidak ada harapan. Kata ‘orang pintar’, ayahku kena santet. Kami semua angkat tangan.”

Aku tidak bisa menghentikan Canti memandangku dengan tatapan iba. Aku menduga ia memikirkan solusi yang berarti untuk masalahku dan keluargaku. Yang pasti solusi itu akan sangat sulit untuk ditemui. Pasrah, itulah jawabnya. Kami menyadari bahwa ajal ayahku sudah semakin dekat. Tak diragukan lagi. Tinggal menunggu waktu.

Rumah Ria remang-remang. Ruang tamu yang luas memiliki lampu berwarna kuning 25 watt, berada di tengah-tengah antara ruang tamu dan ruang tengah. Ria sudah menungguku dan Canti duduk manis di balik meja ruang tamunya.

”Bagaimana ulangan matematikanya tadi, sulit tidak?” tanya Ria kepada Canti. Ria dan aku memang berbeda kelas. Untuk pengalaman mengerjakan ulangan matematika dari pak Gatot, kelas Ria-lah yang pertama.

”Gak tau Re. Yang lalu biarlah berlalu.” ujar Canti.

”Bagaimana denganmu?” Ria beralih kepadaku dengan tipe pertanyaan senada.

”Ya begitulah.” jawabku. ”Makasih.”

Kukembalikan buku Ria pada empunya buku.

”Sama-sama.”

”Kalau saja waktunya bisa lebih banyak.” Canti berandai-andai.

”Kenapa memang?” Ria bertanya.

”Canti telat. Siapa suruh jadi orang lelet. Pakai alasan harus sarapan.”

”Jangan ngawur kamu. Memang begitulah adanya.” Canti melotot.

”Lo, ya harus itu. Sarapan dulu biar gak lemes. Kenapa sarapan bisa buat telat?” tanya Ria spontan.

”Aku baru makan jam tujuh kurang dua puluh. Hihi.” kata Canti.

”Pantas saja.”

Hm, PR Kimia kami begitu banyak. Seratus soal yang mengerikan, membuat kami kewalahan. Kulihat Canti sudah mulai ngantuk. Matanya terlihat lelah karena pencahayaan yang rendah. Ria menggerutu terus menerus. Dia tak henti-hentinya makan camilan. Crackers itu tidak disediakan untuk kami.

”Kapan sih ulangan Matematikanya dibagi?” tanya Canti.

”Kalo kalian lusa. Aku besok.” kata Ria.

”Waduh, aku dapat nilai berapa ya?” Canti bertanya sendiri sambil meneguk minumannya.

”Hanya Tuhan yang tahu,” kataku lirih.

Pukul sembilan kami pulang. Jalanku dan Canti berbeda. Dia ke kiri sedangkan aku ke arah kanan. Kami berpisah di persimpangan. Pulang sendiri-sendiri. Aku melihatnya berjalan semakin jauh. Menatap ukuran tubuhnya yang kecil. Rasanya ukuran otak di kepalanya juga mini.

Saatnya pak Gatot memberikan hasil ulangannya kepada kami hari ini. Kelas kami begitu sunyi. Tidak seperti biasanya, udara pagi di dua hari terakhir memang lebih dingin. Teman-teman diliputi ketegangan. Demikian juga aku dan Canti. Satu persatu pak Gatot memanggil nama kami. Acak dan tidak urut sesuai abjad.

Beberapa dari teman kami ada yang senyumnya mengembang ketika menerima hasil ulangannya dan yang lain meremasnya kemudian melemparkan kertas yang tak bersalah itu ke dalam kolong meja.

”Aris.” seru pak Gatot.

”Iya pak.”

Aku maju dan menerima hasil jerih payahku. Tidak lama Canti juga menerima lembar jawabannya. Aku tertunduk lesu melihat nilaiku. Benar-benar bukan nilai yang kuharapkan. Hanya delapan puluh. Kukira jawabanku benar semua karena tidak ada coretan kesalahan. Rasa kecewa juga terjadi pada Canti. Wajahnya merah padam. Kentara sekali air matanya menggenang di pelupuk mata yang sayu itu. Hanya ia menahannya agar jangan sampai jatuh. Kukira untuk sementara waktu.

”Mengapa Anda tidak memberi saya nilai pak?” Canti bertanya dengan wajah mengiba.

”Kamu tidak disiplin.”

”Karena saya terlambat?”

”Bukan. Karena kamu tidak menuliskan kode soal dalam lembar jawabanmu.”

Canti menelan ludahnya dan berkata, ”Kalau saya menuliskan kode soal itu,

saya akan dapat nilai berapa pak?”

”Delapan puluh.”

Mulut Canti menganga karena tidak percaya. ”Manusia kan bisa lupa pak?”

”Buktinya teman kamu tidak ada yang lupa. Jangan banyak alasaan.”

Canti, kasihan sekali kamu. Andai aku bisa memberikan separoh nilaiku padamu. Andai aku bisa melakukan sesuatu untuk menghapus kesedihan itu. Aku ingin mengembalikan rona wajah ceriamu. Aku ingin membuatmu tetap berkilau seperti biasanya.

”Yakinlah, semua pasti berjalan lancar,” kataku lirih. Kucoba menenangkannya. Canti hanya diam. Tentu saja, bagaimana aku bisa membuatnya tenang dengan kata-kata seperti itu. Aku tidak bisa memikirkan kalimat yang lebih baik. Kalaupun bisa, juga tetap tidak bisa memberikannya nilai yang sangat dia inginkan. Percuma saja. Semoga dia bisa membaca ketulusanku.

Saat istirahat, aku menghadap pak Gatot. Beliau memanggilku. Kebetulan aku juga ingin mengkonfirmasi nilai ulangan Matematikaku.

”Apa yang kamu lakukan dengan lembar soalmu?”

”Maksudnya pak?” tanyaku tidak mengerti.

”Kau jawab semua soal A pada lembar soalmu.” kata pak Gatot dengan tatapan

menyelidik.

”Itu karena saya punya banyak waktu yang tersisa. Daripada nganggur ya saya

kerjakan soal A pak.”

”Seharusnya kamu kumpulkan saja bila kamu sudah selesai.”

”Tapi tidak ada perintah untuk itu.”

”Itu membuat saya berpikir kamu mengerjakannya untuk temanmu itu. Dan saya

tidak mungkin menelan ludah saya sendiri.”

”Saya kan tidak seperti itu pak,” kataku menutupi kebohongan.

”Ini jadi pelajaran buat kamu,” potong pak Gatot.

Sambil menundukkan wajah, aku bertanya, ”Bagaimana dengan ulangan Canti Pak?”

”Ini, berikan padanya. Suruh dia tulis kode soalnya pada lembar jawaban ini.”

”Baik pak.”

Begitulah hari selasaku yang dingin berakhir. Kehangatan tetap mengalir di sela-selanya. Aku menyampaikan berita baik untuk Canti. Dia tak lagi muram. Wajahnya juga tak lagi mendung. Sedang aku, berdendang senang.

pacarku

Apa yang aku harapkan tidak selalu menjadi kenyataan. Tidak semua hal yang kuimpikan bisa kesampaian. Tapi kadang-kadang sebuah kenyataan melebihi apa yang kuimpikan. Itulah kamu.

Risma, ia menjadi milikku sekarang. Sudah sekian lama hingga aku tidak bisa lagi menghitung indahnya kisah kasih dengannya. Juga tidak mampu menghitung kilometer perjalanan cinta bersamanya. Hal yang kurasakan adalah bahwa kian hari rasa kupunya semakin bertambah. Tidak peduli berapa sisa waktu dan tenaga. Kan kuberikan padanya jika ia meminta.

Risma itu teman SMA-ku. Ke sekolah kami selalu berangkat bersama. Rumahku tidak jauh dari rumahnya. Tiap pagi aku selalu menjemputnya dengan sepeda ontel yang kupunya. Herannya dia mau-mau saja. Sempat berpikiran dia baik padaku agar bisa dapat contekan ketika ulangan. Tapi ya nggak juga karena tawaran kebaikan itu berasal dariku. Mestinya aku yang pamrih. Hal ini juga tidak benar.

Pada suatu waktu, aku melihatnya menghadang sebuah angkutan. Tapi kasihan karena anak sekolah yang membayar murah tidak mudah diangkut. Dua puluh menit menuju pukul tujuh. Membutuhkan waktu kira-kira setengah jam untuk dapat sampai sekolah. Bisa lebih bila ia tak juga mendapatkan tumpangan. Di kejauhan kulihat dia. Sudah seyogyanya aku memberikan bantuan. Tidak mungkin aku meninggalkan teman sekelas di jalan. Membiarkannya terlambat sendirian. Sejak saat itu dia malah keterusan.

Kami juga mulai akrab. Dia menjadi teman curhat. Aku mengajari beberapa materi pelajaran yang tidak ia mengerti. Kami selalu bersama bahkan saat olah raga. Dia membantuku memilihkan kado ultah untuk gebetanku. Sebuah kotak musik berwarna ungu. Dia juga yang membuat kartu ucapannya. Ada tulisan yang indah dalam kartu itu. Kepada teman memang kita harus saling membantu.

Terima kasih kepada Risma. Atas semua bantuannya aku bisa melupakan masa laluku. Mengejar gadis ini-gadis itu yang tak kunjung menjadi milikku. Mungkin ia tidak menyadari hal yang ia lakukan menghapus dukaku. Bahkan tawanya membuat hariku terasa indah. Sukaku kemudian beralih padanya. Tapi tak kuungkap rasaku mengingat pengalamanku. Jadilah aku menikmati dia kala di sisiku.

I do love you! Akhirnya kunyatakan juga perasaanku. Setelah satu tahun mulai dekat dengannya. Aku tahu saat itu saat yang tepat. Aku merasakan sinyal beda yang diberikan Risma kepadaku. Aku yakin ia juga merasakan percikan cinta seperti yang aku rasa. Begitu kuucap kalimat itu, Risma tidak berkata tidak. Juga tidak ada kata ‘iya’ terucap dari mulutnya. Risma hanya tersenyum dan mengangguk. Pertanda setuju akan apa yang kumau. Aku menyukai hubungan kami. Mengalir seperti air.

Aku tahu Risma sedari awal. Aku sadar ia dibesarkan dalam sebuah keluarga yang ‘berada’ walau berasal dari desa. Aku berusaha mengimbangi Risma beserta gaya hidupnya. Risma dengan kehidupan hedonisnya. Aku ingin menyenangkannya. Membuatnya bahagia adalah hasratku. Tidak mungkin bagiku menyakiti hatinya. Aku akan terus berusaha. Tidak akan berhenti mengusahakannya.

Hingga saat kami kuliah bersama. Risma makin menggila. Ia tidak mau dicap kampungan. Tren busana tidak mau ia lewatkan. Segala macam aksesori dan sepatu haruslah padu dengan baju. Tempat tongkrongan baru menjadi hal seru. Dan dugem menjadi kebiasaan yang tidak mau ia tinggalkan. Ia pergi bersama teman-temannya. Bukan denganku.

Hampir setiap minggu ia selalu mengajakku jalan-jalan. Bukan jalan pagi yang menyehatkan melainkan putar-putar mal tak karuan. Memang tak bertujuan. Dalihnya melepas penat setelah capek kuliah. Hasilnya baju baru untuk pesta, blazer hitam untuk wawancara kerja, dan benda lain yang lucu—yang entah kapan barang itu akan ia gunakan. Aku hanya mengikutinya. Menjadi pembawa tas plastik belanjaannya. Manekin itu hanya menatapku iba. Tanpa bisa berbuat apa-apa.

Hari ini Risma tampak ceria. Wajahnya begitu berseri-seri. Terdengar dari suaranya melalui HP. Ia tahu bahwa tiba saatnya aku mengambil Beasiswa Unggulan. Pasti itu yang membuatnya bahagia.

“Mad, jam berapa kamu nanti ambil beasiswa?” tanya Risma disela-sela tawa orang-orang di sekitarnya.

“Pulang kuliah. Jam dua,” jawabku.

“Nanti malam kita nonton ya?” ajaknya.

“Nonton apa?”

“AAC. Ayat-ayat Cinta”

“Lo, bukannya kamu sudah nonton bareng temanmu?” aku bertanya heran.

“Tapi denganmu kan belum. Aku ingin kamu tahu film itu.”

 

Oke. Akhirnya aku menuruti juga mau Risma. Walau dalam hati aku tidak begitu suka film yang mendayu-dayu. Setelah nonton, Risma mulai berceloteh panjang lebar mengomentari film itu. Poligami yang tidak ia setuju walau bagaimana situasi yang mendasarinya. Kemudian ia ingin aku meyakinkannya bahwa aku tidak akan menduakan cintanya. Kelak bila aku menikahinya. Pun saat memacarinya.

Risma merajuk. Aku hanya mengangguk. Tentu saja aku akan melakukannya. Aku tidak akan berpaling darinya. Siapapun yang menjadi kekasih pertamaku, ia akan menjadi istriku. Itu janji yang akan kutepati. Janji kepada diri sendiri.

“Mad, lihat deh. Lucu ya boneka itu. Ada tulisan ‘me to you’. Gemas lihatnya.”

Risma menunjuk sebuah boneka berwarna biru di sebuah toko berlogo separo matahari.

“Kamu mau?” tanyaku.

“Iya,” jawab Risma manja.

Boneka itu kubeli untuk Risma. Hadiah untuknya karena menjadi tambatan hatiku yang setia. Risma memeluk bonekanya dan lebih memilih membawanya begitu saja. Ia tidak mau sang pramuniaga memasukkan boneka itu ke dalam plastik. Risma kemudian memberikan isyarat lapar. Kami melenggang pelan menuju tempat makan.

Malam itu tentenganku banyak sekali. Semua milik Risma. Tangan kiriku ada sekotak berisi sepatu sedang tangan kananku ada baju baru. Risma sibuk dengan bonekanya dan lengan kanannya menggamit lengan kiriku. Aku puas telah membuat Risma gembira. Kulirik dia tersenyum bahagia sambil tidak bisa melepaskan pandangan ke sesuatu yang menarik perhatiannya. Tapi aku lelah.

Di akhir kebersamaan kami, Risma tiada henti mengucapkan terima kasih. Yang tersisa hanya mataku yang terasa berat juga kepalaku yang pening. Ingin cepat sampai kos untuk mengembalikan energi. Memulihkan diri.

Sesaat sebelum berpisah Risma berkata, “Pengumumannya sudah ada padaku.”

“Pengumuman apa?” tanyaku tak mengerti.

“Akhmad, kamu mendapatkannya. Beasiswa Mapres.”

“Oh ya?” aku mengerjapkan mata. Bertanya tak percaya.

“Iya. Selamat ya!” Risma menyunggingkan tawa yang kusuka.

 

Beasiswa itu diberikan oleh suatu yayasan sosial yang concern terhadap pendidikan di Indonesia. Mereka yang berprestasi berhak memperolehnya. Tentu saja melalui seleksi. Risma yang mengetahui info tentang beasiswa itu. Ia yang mendaftarkan aku. Segala kelengkapan administrasi, Risma juga yang mempersiapkan. Termasuk menulis esai sebanyak seribu kata.

Itulah Risma. Aku bangga atas jerih payahnya. Semua hal yang ia lakukan padaku termasuk menjaga cintanya untukku. Apa yang kuberi untuknya memang layak diperolehnya. Aku cinta Risma apa adanya. Ialah gadisku. Risma itu pacarku.