kreasi mahar dan hantaran

yang saya buat kali ini spesial untuk adik perempuan saya yang menikah pada 11 Juni 2014.

Sebelumnya saya pernah menghias seserahan untuk teman bisa dibaca di link ini. Monggo diklik untuk membaca detil cerita dan melihat gambarnya.

Menghias seserahan/hantaran itu gampang-gampang susah. Benar-benar kudu telaten karena pada saat proses menghias, area tempat kita berkreasi bisa sangat berantakan. Melihatnya bisa melelahkan dan mematahkan semangat. Hmm, memang disitulah tantangannya.

Nah pada saat saya mulai menghias (H-3 pernikahan), beberapa saudara sudah pada berkumpul di rumah untuk menyiapkan ini-itu. Banyak anak kecil yang ngrecokin saya seperti minta pita, mau bunga dsb. Ditambah kondisi saya belum sepenuhnya fit setelah baru sembuh dari nyaris seminggu demam, pilek, tenggorokan sakit dan pusing. Kalau sudah super capek, saya tinggal tidur untuk mengembalikan energi.

Beberapa barang yang diperlukan dalam menghias hantaran antara lain:
Boks bertutup
Aneka bunga kering
Kertas karton
Styrofoam
Sangkar burung
Hiasan (pita, mutiara, benang emas)
Peralatan (gunting kawat, gunting kertas, cutter, jarum pentul)
Doubletape, lakban bening, lem tembak
Styrofoam, koran, kain perca, karet gelang, mata ikan

Sedangkan untuk membuat mahar, saya hanya perlu:
frame 3D berukuran 30×40 cm
uang mahar
kertas kado
lem tembak
benang emas
tali kawat

Berikut foto-foto hasil kreasi mahar dan hantaran saya.

miartmiaw - kreasi mahar dan hantaran
kombinasi antara siluet pengantin dan mahar pernikahan
miartmiaw - kreasi mahar dan hantaran
hantaran ini diberikan pada saat hari H pernikahan, sebagai hadiah dan bukan sebagai tanda pertunangan/lamaran
miartmiaw - kreasi mahar dan hantaran
agar hantaran untuk mempelai pria tidak monoton, sarung bisa dibentuk menjadi bunga
miartmiaw - kreasi mahar dan hantaran
underwear diatur sedemikian rupa menjadi ikan dan kain jarik dikreasikan menjadi burung merak | pada saat hari H, pengiring mempelai pria dan wanita akan saling tukar hadiah

miartmiaw - kreasi mahar dan hantaran

miartmiaw - kreasi mahar dan hantaran
hantaran sepatu dihias bunga yang terbuat dari kain brokat dan satin, bahan untuk kebaya

Penasaran sama pengantinnya? Ini dia..

mr & mrs santos (bapak-ibu kami), pengantin, saya dan suami
mr & mrs santos (bapak-ibu kami), pengantin, saya dan suami | sayang banget adik laki tidak bisa hadir nih, heuheu

Buat adikku, selamat menempuh babak kehidupan baru, mencipta keluarga yang diridloi Allah SWT, bahagia di dunia dan akherat.

salam

miartmiaw

Advertisements

[my wedding] karpet merah berganti kuning

Sembilan kali Hari Kasih Sayang telah kami lewati, tapi untuk kali ini, hari itu menjadi lebih spesial. Seolah setelah sekian lama menjalin kasih, kehidupan asmara kami terangkum dalam suatu momen pernikahan. Sang pujaan hati mengikrarkan diri untuk bersedia sehidup semati. YAY! Saya akan menjadi Nyonya Akhmad; Mia Akhmad. Ehem.

Minggu pagi pada 14 Februari 2010, pelataran rumah ortu saya auranya terlihat begitu khidmat. Calon suami akan berhadapan dengan bapak saya, penghulu beserta saksi-saksi. Tentu saja, dia akan menjalankan ijab kabul. Sambil menyelesaikan riasan di kamar pengantin, saya tidak bisa meredam degup jantung yang ritmenya makin cepat. Ya ampun! Saya deg-degan.

Selain prosesi pergantian status masa lajang saya menjadi wanita bersuami, hal yang membuat saya cemas adalah bahwa ternyata merias seorang pengantin perempuan memakan waktu yang lama. Ini disebabkan mata bengkak dan sembab akibat semalaman tidak tidur dan kaki serta seluruh badan yang goyang-goyang akibat jarum jam yang seperti ingin mengejar saya. Tak pelak dahi tergores hingga luka saat sang perias mencoba membersihkan rambut halus di sekitar wajah dengan alat khusus.

Beberapa saat kemudian, ketika kalimat sakral itu berkumandang, seolah waktu menghentikan kegiatan kami. Bahkan nafas saya. Qabiltu nikahaha wa tazwijaha bil-mahril-madzkur. Si Dia melafalkannya dengan mantab. SAH! Begitulah teriak para saksi. Barulah saya bisa bernafas kembali. Wuih! Lega rasanya.

Setelah foto-foto, pada hari itu juga, kami meluncur ke pelaminan. Ke sebuah gedung yang tak jauh dari rumah bersama mobil pengantin pinjaman. Hahaha. Adalah menjadi motto kami, kalo bisa pinjam mengapa harus sewa. Pesta pernikahan, bukanlah tentang membuat orang lain terpukau melainkan lebih kepada berbagi info dan kegembiraan kepada handai taulan, bukan?

what we called husband and wife ;;)

Melewati prosesi adat temu manten singkat dan tak terlalu ketat sampailah kami di mahligai. Bayangkan saja, menjadi raja dan ratu sehari! Mata para tamu undangan tertuju pada kami yang bersimbah keringat. Maklum, gedung yang kami sewa pendingin ruangannya tidak berfungsi. Fiuh! Tapi tidak menghilangkan suka cita saya dan suami menyambut sahabat dan kerabat. Satu persatu mereka memberi doa dan selamat.

Di atas pelaminan, sebagai suami-istri adakalanya kami bercanda sendiri. Mengendorkan ketegangan yang disebabkan oleh kesibukan persiapan. Memang, kami tidak banyak melibatkan orang tua untuk ‘menghadirkan’ acara ini. Masalah undangan, cindera mata, dekorasi, gedung, catering, persoalan foto sampai perias pengantin kami yang handle. Benar-benar jerih payah yang terbayar. Saat suami memegang tangan saya, saya berkata padanya: “We made it, Honey!”

 

Kelakar suami dan saya tidak berhenti sampai di situ. Melihat beberapa dekorasi yang terlihat janggal, kami berdua hanya bisa tertawa dan pasrah. Bagaimana tidak, jika karpet di sepanjang selasar itu bukannya merah seperti pesanan melainkan kuning. Belum lagi taman kecil di depan pelaminan serupa gersang tak berkesudahan. Tim dekor berdalih kalau harga bunga pada saat valentine melangit. Yang penting pada hari itu, hati kami sangat berbunga-bunga.

 *

Cintaku bukanlah cinta biasa, jika kamu yang memiliki. Dan kamu yang temaniku seumur hidupku…

 

Lantunan suara Afgan via band akustik di hari pernikahan ini mengalun serupa original soundtrack serial kisah percintaan kami. Memang, cinta saya dan pasangan bukan cinta biasa. Saya sudah tahu itu semenjak saya memutuskan menerima segala apa yang ada di dalam dirinya, kelebihan dan kekurangannya, versi ABG pada tahun 2000.

Siapa yang menyangka pria yang ke sekolah memakai sepatu bola (satu-satunya sepatu paling awet yang ia punya) dan seorang bintang kelas ini menjadi milik saya pada akhirnya. Dan senyum semanis selai stroberi yang saya miliki lah yang membuatnya yakin bahwa saya memang tercipta untuknya.

Semenjak berseragam putih abu-abu hingga perguruan tinggi, saya dan ‘mantan pacar’ memang berada di bawah almamater yang sama. Dia tetangga rumah sekaligus teman sekolah saya. Dia juga lah yang mengantar saya les di sebuah bimbingan belajar demi menghadapi SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) dengan bersepeda. Saya membantunya mencari beasiswa pada saat kuliah. Kami berwisuda bersama dan melalui suka-duka dengan usia yang tidak muda.

Pada suatu waktu (tak lama setelah kami menikah) suami tercinta mengaku pada saya bahwa saya adalah satu-satunya wanita yang mengagumkan yang mau menjadi pacarnya. Sejak kali pertama kami pacaran, pada saat apel ke rumah jaman SMU, berkunjung ke asrama putri ketika kuliah, sampai menjemput saya sepulang kerja, si Dia selalu merapal mantra (dalam hati) seperti ini: “Hei kamu pacarku, bersiaplah menjadi istriku!”

Dan sementara orang-orang kebanyakan merayakan valentine dengan makan malam, membuat puisi, memberi coklat maupun bunga dan boneka, saya beserta pasangan juga menorehkan cinta dalam sebuah cerita romantis lho, meski si dia agak kikuk kalau disuruh romantis-romantisan!

Pernah nih si pacar memberi saya setangkai mawar di februari pertama kami semenjak ‘jadian’. Yang diberikan saya cuma setangkai padahal dia membelinya dari teman sekelas, sepot! Ternyata, sisanya ditanam di rumah ortunya. Dia bertekad untuk bisa menjaga bunga mawar itu seperti menjaga hubungan kami. Dan sampai sekarang, tanaman itu terus berbunga.

Semua cerita kami itu bisa dibaca melalui sebuah kotak sepatu. Di sana tersimpan harta karun perjalanan cinta kami dari februari ke februari disepanjang tahun 2000 hingga 2010. Kartu ucapan handmade dan surat cinta pemberian saya, foto-foto berdua dalam kegiatan sekolah, photobox pada saat jalan-jalan ke mall, tiket nonton bioskop, undangan pernikahan sampai yang terakhir, tiket pesawat terbang bulan madu kami ke Pulau Lombok.

Ya, suami menyimpan semua kisah kasih kami dalam sebuah kotak sepatu dengan rapi dan tertib. Di sinilah letak keromantisan itu. Saya benar-benar memuji dan memberinya apresiasi yang luar biasa karena telah menyimpan sejarah percintaan saya dengannya.

Saya tak pernah membayangkan, bisa dengan mudah memutar waktu. Tinggal membalik jam pasir, membuka kotak ajaib itu, tadaa! Tibalah saya di mana saja ke masa yang saya inginkan. Ada Aris dan Mia yang lagi ketawa-ketiwi; ada kami saling berbagi hati. Itulah saya beserta suami di hari yang telah terlewati hingga saat pernikahan kami. Dengan cinta yang tak biasa di hari penuh kasih dan sayang. S, sayang sampai selamanya.

 

ABOUT BRIDE AND GROOM

BRIDE

Nama: Jamiatul Khoiriyah, S.Psi.

Tempat tanggal lahir: Pasuruan, 21 Oktober 1983

Nama Ayah: Mudji Santoso

Nama Ibu: Suhariyati

 

GROOM

Nama: Akhmad Risdianto, dr.

Tempat tanggal lahir: Pasuruan, 13 Januari 1984

Nama Ayah: Wanito (Alm.)

Nama Ibu: Muzayanah

 

THE WEDDING

Akad Nikah dan Resepsi: Minggu, 14 Februari 2010

Lokasi Akad: Rumah mempelai wanita (Jl. KH. Achmad Dahlan 3/35 Pasuruan)

Lokasi Resepsi: Gedung “Bhayangkara” Pasuruan

 

DIBALIK KISAH KASIH MIA AND ARIS

1) Selalu memberikan ucapan: “HAPPY FRIDAY!” Aris pada saat Jumat Kliwon (hari lahir Mia) dan sebaliknya, Mia kepada Aris pada Jumat Wage.

2) Menyimpan nomer telepon pasangan dengan nama kontak “My Love” (Aris) dan “Baby Hiu” (Mia).

3) Aris pertama kali menyatakan cinta kepada Mia tanggal 5 Juli 2000 di Kebun Teh Wonosari Lawang-Malang pada saat rekreasi tahunan bersama teman sekolah dengan cara membisikkan: “I Do Love You”.

 

we were on newspaper. mwuehehe

 

*Postingan ini teruntuk mereka yang belum membaca harian Jawa Pos halaman 8-9 tanggal 13-12-11 sampai 10 kali. (wow! ini mah deret angka cantik namanya. #mekso )

 

 

S. Salam sun sayang,

miaris

pria kamboja

Di ujung gang dalam sebuah perumahan, tampak sebuah bangunan yang berarsitektur Belanda. Bangunannya total berwarna putih. Hanya saja di sekeliling rumah bernomor K-15 ini terdapat batu kali besar-besar berwarna hitam menempel pada dindingnya. Tekstur kasar setinggi pinggang orang dewasa itu mengingatkan kita pada Dalmatians 101. Banyak bonsai bunga Kamboja tertata rapi di halamannya.

Rupanya sang empunya rumah menyukai tanaman ini. Karena hampir semua bunga yang berwarna-warni itu begitu terawat. Tidak ada daun berwarna kuning yang terlewat dan masih tertancap pada batangnya.

Gelap malam berhasil disibakkan oleh pendar cahaya lampu yang berasal dari rumah itu. Juga dari beberapa rumah lain yang berjarak lima kavling. Perumahan ini masih sepi. Banyak ruang kosong di sana-sini. Kita bisa melihat jarang bangunan dan dapat merasakan suasananya begitu sunyi. Mungkin karena malam hari. Sulit bagi kita menjumpai orang yang berlalu lalang. Tapi siapa saja mampu menemukan ilalang dan padang membentang.

Tidak jauh dari K-15, kita bisa menemukan sawah yang ramai karena penghuninya sudah memulai aktivitasnya. Katanya, musim penghujan adalah musim kawin bagi katak. Katak jantan akan bernyanyi untuk memikat lawan jenisnya. Sebuah lapangan bola yang berisi dua gawang menjadi tetangga K-15 dan tempat yang ditumbuhi banyak tanaman padi.

Dari dalam rumah itu, tampak seorang penghuni yang hidup sendiri. Baginya, detik waktu berjalan begitu lambat. Seperti peluru musuh yang akan mengenai Keanu Reeves di adegan film The Matrix dalam laju slow motion. Kamboja berdiam di sofa putihnya sambil memandangi dua belas angka yang berbingkai kayu indah. Penunjuk waktu berbentuk persegi itu tepat di hadapannya, di atas kepalanya. Hanya lima langkah dari tempat dia berada untuk bisa meraih atau menggapainya.

Kamboja biasa mengambil jam dinding di ruang tengah rumahnya dan mengganti jarum pendeknya menjadi ‘h minus dua’. Hal ini Kamboja lakukan saat dia mulai menunggu sang suami tercinta. Lingerie seksi sudah dipakai untuk menyambut kedatangan Jaka. Biasanya berwarna merah.

Jam menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh malam waktu Kamboja. Sedangkan pria yang ditunggu tak kunjung datang. Tapi Kamboja selalu bersabar. Waktu luang yang tersisa dari total aktivitasnya sebagai marketing executive yang begitu padat, dia gunakan untuk membaca majalah. Mencoba mencari sumber inspirasi gaya bercinta apa yang begitu menggoda untuk dipraktekkan dengan Jaka malam ini. Atau sekedar mencuci mata dengan melihat tren fashion yang sedang in. Semua yang Kamboja lakukan setidaknya bisa menghapus rasa lelah dan mengusir kantuk yang mulai mengetuk mata.

Melihat model dalam majalah yang sedang berpose menampilkan ragam busana, laksana melihat dirinya tercetak di sana. Memang, Kamboja adalah wanita yang begitu menarik dan penuh rasa percaya diri. Dia itu sosok yang mempunyai rona wajah Asia asli dan memiliki aura keindahan yang tiada bertepi. Senyum tulus selalu terlihat mengembang dan pancaran kasih sayang dapat diciptakan olehnya kapan saja. Mudah diajak bertukar pikiran dan seorang good listener merupakan sisi positif lain yang dimiliki wanita dua puluh tujuh tahun itu.

Siapa sih yang tidak terpikat oleh pesona yang mampu Kamboja pancarkan kepada setiap pria yang ditemuinya. Mereka yang menjadi rekan kerja atau kliennya. Teman-teman lama juga bingung mencari nomer Kamboja yang bisa dihubungi dan berusaha meneliti keberadaannya. Beberapa pria harus bersusah payah untuk mendapatkannya. Mereka yang punya nasib baik saja bisa memilikinya.

Dalam kurun waktu dua bulan, empat dari sembilan pria yang nekat memikatnya menjadi kekasihnya. Tapi bagi pria-pria itu, menjadi kekasih seumur jagung Kamboja sudah merupakan anugrah. Adalah hal yang membanggakan bisa memacarinya.

Sebenarnya motif Kamboja tidak jauh beda dengan para pria itu. Intinya ada pada kata senang. Hanya kesenangan yang ia inginkan. Bila sudah terpuaskan, gampang saja bagi Kamboja mengeluarkan mereka dari kehidupannya. Labil memang. Itulah yang ia lakukan dulu. Berganti pacar setiap waktu. Sebelum akhirnya berjumpa dengan Jaka di jalan raya.

Suatu waktu, dalam keadaan yang tidak bisa diduga oleh Kamboja, ia merasa mobil yang dikendarainya berjalan pincang. Dengan kondisi ban kempes, ia berusaha mencari tempat tambal ban yang ternyata tidak jauh dari area dimana ia terkena celaka.

Saat Kamboja mengundang tukang tambal ban untuk membenahi ban mobil yang terparkir di seberang jalan, pencuri membobol pintu mobil dan mengambil laptop yang tersimpan manis di kursi belakang. Dia hanya bisa merasakan darahnya ber-spirnt menuju kepala dan jantungnya. Tapi rasanya beda ketika ia sedang orgasme. Keringat yang muncul dari kulitnya tidak sama seperti ketika ia mendapatkan The Big O.

            Kamboja tidak bisa berpikir dan hanya bisa menangis. Hal yang dia tangisi adalah keberuntungannya. Untung perampok itu tidak membacok tangannya sampai patah. Hii, ngeri juga Kamboja membayangkan dirinya bila mengalami hal itu.

Di saat yang kurang tepat, seorang polisi yang sedang patroli lewat. Menyaksikan mobil berada di tempat yang tidak lazim, sang pria berseragam turun dari kendaraannya.

“Selamat sore.” Sapa polisi itu.

Dengan menyeka air mata dari pipinya, Kamboja hanya menganggukkan kepala.

“Maaf, apa Anda tidak melihat bahwa disamping mobil Anda terdapat rambu-rambu lalu lintas. Anda tahu artinya apa?” Pak polisi bertanya.

Polisi ini berbahasa sopan tapi basi sekali. Kamboja melihat sebuah tiang bergambar huruf P yang tercoret melintang kekanan. Tentu saja ia tahu arti rambu-rambu itu.

“Maaf, ban saya kempes,” Kamboja menatap pak polisi yang mempunyai bodi oke.

“Bisa lihat SIM dan STNK Anda?” Pak polisi berkata ramah.

“Pak Jaka, saya baru saja kecopetan…” belum selesai Kamboja mengucapkan kalimatnya, pak polisi yang bernama Jaka Purwoko itu menyela,

“Kecopetan?” Pak Jaka bertanya sambil melirik mobil Kamboja dan berusaha menahan tawa. “Bagaimana mungkin? Jangan banyak alasan!”

Pikirnya kecopetan hanya bisa dialami oleh mereka yang menumpang kendaraan umum saja. Huh, sembarangan! Kamboja menggerutu dalam hati. Atau istilah yang kugunakan salah? Kamboja masih bertanya pada hatinya. Dengan jengkel namun tetap tenang, Kamboja mengeluarkan benda yang diminta oleh Pak Jaka dari dompetnya dan menyerahkannya pada sosok yang begitu matang tapi masih terlihat bugar itu.

“Saya harus menilang Anda karena melanggar tata tertib lalu lintas,” kata Pak Jaka kemudian.

“Tidak bisakah Anda memberi toleransi? Perampok baru saja mengambil laptop saya.”

“Oh. Apakah itu benar?”

“Tanya saja pada bapak itu,” Kamboja menunjuk tukang tambal ban.

“Apa benar?”

“Yang saya tahu ban ibu ini kena paku. Dia menyuruh saya menambal bannya. Saat saya mau mengambil ban yang masih berada di porosnya, ibu ini tahu-tahu menangis.”

“Kenapa menangis?” ia bertanya pada Kamboja. Saat kalimat ini meluncur dari bibir polisi yang rambutnya sudah mulai beruban itu, tukang tambal ban bilang,

“Bannya sudah saya pasang Bu.”

Kamboja mengerti isyarat ini. Ia lantas memberikan beberapa lembar uang sepuluh ribuan kepada penambal ban dan berkata, “Makasih ya Pak.”

Kemudian Kamboja beralih pada pak polisi, “Kan tadi saya sudah bilang kalau saya habis kecopetan. Itulah yang membuat mata saya basah.”

“Bukan karena Anda habis putus dengan pacar?” Pak Jaka tertawa.

“Oke tilang saja saya,” sebal Kamboja dibuatnya. Bisa-bisanya dia bercanda. Jangan-jangan Jaka Purwoko ini sebenarnya adalah seorang pelawak dan bukannya seorang polisi.

“Maaf, saya hanya bermaksud menghibur Anda. Bagaimana dengan perampok yang baru saja mengambil barang Anda? Anda harus menceritakan detilnya.”

“Nggak usah deh Pak. Saya rela kok. Maaf, saya tidak bisa meluangkan banyak waktu untuk memburu mereka. Bagi saya, selamat adalah sesuatu yang berharga. Materi bisa dicari.” Sebenarnya hal ini karena Kamboja enggan berurusan dengan polisi lebih lama.

“Bila tidak sekarang, Anda harus menceritakannya nanti atau kapan. Ini untuk kepentingan penyelidikan dan semua orang. Agar kami mendapatkan modusnya. Biar masyarakat dapat lebih waspada. Dan maling harus tetap ditangkap. Anda tidak mau korban berjatuhan karena Anda tidak mau diajak bekerja sama kan?”

Oke. Benar juga apa yang dikatakannya. Kamboja lantas memberikan nomer ponselnya. “Anak buah Bapak bisa menghubungi saya di nomer ini. Nanti saya bisa menceritakannya kepada bawahan Bapak. Sekarang, saya harus pergi.”

Lebih baik berbicara dengan orang lain daripada harus mendengar suaranya lagi, pikir Kamboja. Polisi yang aneh. Dia memberi kartu tilang tapi tetap menyerahkan SIM dan STNK Kamboja plus tanda tangan dan nomer handphone pada kertas yang diberikan padanya. Kamboja bingung tapi Pak Jaka hanya tersenyum. “Sampai jumpa,” katanya.

Lalu, maksudnya apa. Untuk apa dia memberi nomernya. Yang butuh siapa? Malas bila harus menelponmu. Genit begitu. Kamboja mengakhiri kerlingan mata Pak Jaka dengan menutup pintu mobilnya dan pergi jauh darinya.

Sejak pertemuan itu, sebutan Pak Polisi berubah menjadi Mas Jaka. Awalnya memang dia menelpon untuk urusan rampok dan perampokan. Tapi lambat laun, Kamboja dapat merasakan bahwa hubungan mereka lebih dari sekedar teman bahkan lebih dari sekedar hubungan antara masyarakat dengan aparat. Jaka yang mature bisa memahami Kamboja. Mampu mengayomi dirinya. Mereka bisa bersenang-senang berdua walau berasal dari dunia berbeda.

Bagi Kamboja, ini adalah hal baru dan cukup seru. Tapi ia sadar bahwa hidupnya tidak hanya untuk bersenang-senang tapi lebih kepada membangun hidup dan kehidupan. Membina keintiman kemudian berumah tangga. Ya, sudah saatnya. Akhirnya ia menikah dengan Jaka.

Seperti halnya dengan pria-pria yang dulu pernah menjadi teman kencan Kamboja, Jaka juga merasa beruntung mendapatkan wanita dengan karir hebat di usia muda dan bisa melayani pasangannya dengan ritme senada. Kamboja dapat membagi waktu siang dan malam secara seimbang. Dia bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Tidak banyak menuntut dan berbicara santun. Di lain pihak, Kamboja juga mampu memberikan perhatian yang dibutuhkan Jaka. Itulah sebabnya Jaka menikahi Kamboja.

Tidak hanya itu, Kamboja adalah orang yang bisa memahami Jaka. Mau menerima Jaka apa adanya. Dia memiliki kesibukan yang luar biasa. Datang pada saat hari sudah petang dan pergi saat dunia belum terang. Banyak urusan yang harus ia selesaikan. Baik sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan atau apapun yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan hal itu.

Bukannya tidak mau tahu, tapi Kamboja lebih memilih memberikan konsentrasi penuh pada diri sendiri terutama Jaka; seseorang yang menikahi dirinya dua belas bulan lalu. Apapun akan Kamboja lakukan untuk membahagiakan suaminya. Ting tong! Rupanya Jaka sudah datang dan Kamboja merasa hatinya riang. Dengan senyum merekah ia berjalan menuju pintu dan membukanya.

“Bagaimana kabarmu Kam?”

Setelah mencium kening Kamboja, Jaka beralih ke jam dinding dan menggantinya menjadi jam satu. Sudah dua jam Kamboja menunggu. Tahu kebiasaan istrinya, iapun mulai terbiasa mengikuti alurnya. Dari situ, Jaka akan menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Sesuatu yang diinginkan Kamboja pada pasangannya.

Demikian juga dengan Jaka yang sebenarnya ingin agar Kamboja berhenti menunggunya. Untuk hal yang satu ini, Kamboja tidak bisa melakukannya. Kemudian Jaka hanya bisa menyerah dengan kesabaran istrinya.

“Sambil menunggumu aku baca majalah Mas. Aku ingin kita mempraktekkan Pijat Lingga dan Yoni.”

“Hm? Pijat apa itu?” kening Jaka berkerut.

“Pijatan lingga itu pijatan untuk kamu sedangkan pijat yoni adalah pijatan untukku. Ini lo, seperti ini.” Kamboja menunjukkan artikel dalam majalah yang baru dibacanya. Dia merasa dirinya sampai fasih karena menunggu Jaka terlalu lama.

“Malas bila harus baca. Ajari aja langsung.”

“Oke.”

 

Selanjutnya, Jaka dan Kamboja bercengkerama menurut cara mereka. Jerih payah Kamboja tersapu oleh teriakan final dirinya. Momen ini berhasil diciptakan oleh Jaka. Tentu saja berkat kolaborasi mereka berdua. Tanpa Jaka mungkin hidup Kamboja menjadi hampa. Kamboja selalu punya malam berbeda. Tetap mengesankan seperti biasa.

Jaka pergi pagi-pagi. Untuk melakukan kembali aktivitas sehari-hari. Menjalani rutinitas sebagai polisi, menjadi suami Kamboja dan Rosa, serta memenuhi peran sebagai bapak dari dua anaknya yang sudah ABG dan masih SD. Walau dirinya dan Jaka menikah di bawah tangan, Kamboja merasa tidak ada masalah dengan hal itu. Ia merasa dapat hidup bahagia bersama Jaka.

menghias seserahan

Tidak hanya durian di pasar, menikah juga memiliki musim. Biasanya sih kita menyebutnya musim kawin. Menurut kalender Jawa, Rejeb merupakan bulan yang baik untuk menikah. Masyarakat meyakininya dapat melahirkan keturunan yang banyak dan dipercaya bisa melanggengkan biduk rumah tangga. Untuk tahun ini, bulan Rejeb jatuh pada Juni. Dan undangan di rumah saya sudah bertumpuk.

Ada banyak hal yang perlu disiapkan ketika akan menikah. Salah satu yang paling saya suka ialah ketika menyiapkan seserahan. Momen belanja barang-barangnya itu loh! Asyik juga kan jika kita memperoleh ini-itu sesuai yang kita mau. Apalagi tanpa merogoh kocek sendiri alias gratis! Hehe.

Seserahan merupakan hadiah dari calon suami untuk calon istrinya. Semua kebutuhan wanita dari rambut sampai ujung kaki sebisa mungkin dipenuhi. Tapi tidak mengikat kok. Kita sesuaikan dengan kemampuan kantonglah. Yang saya tahu, item seserahan itu meliputi perlengkapan mandi, makeup, pakaian sehari-hari sampai pesta, underwear dan perlengkapan ibadah. Ini kalau di breakdown bisa banyak loh. Jangan lupakan sepatu-tas-sandalnya ya.

Nah, nantinya seserahan ini akan dibawa oleh pengantin pria pada saat akad nikah atau temu manten. Gak mau dong kalau ‘kado’ kita tidak dibungkus rapi. Supaya terlihat cantik dan tidak mau diribetkan oleh urusan hias-menghias seserahan, orang biasa memberikannya kepada vendor khusus; jasa merias seserahan. Saya dulu juga begitu. Sebenarnya bisa menghias sendiri tapi waktu untuk persiapan menikah yang lain bisa tersita.

Dua bulan lalu saya dipercaya dan dimintai tolong teman untuk menghias seserahannya. Dengan konsekuensi rumah jadi sedikit berantakan karena dipenuhi barang-barang, tanpa pikir panjang saya mengangguk dan bilang, OKE. Sejak saat itu saya tak henti mencari ide tentang kegiatan ini. Googling tutorial mengolah handuk/kain menjadi bentuk hewan atau bunga, merangkai pita dan menata semua item seserahan ke dalam sebuah boks rotan menjadi top activity saya.

Teman saya ini maunya terima bersih tanggal 5 Juni. Dia cuma bawain barang-barang inti tanpa perlengkapan untuk menghiasnya. Lalu saya mulai mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan untuk urusan tersebut. Kemudian saya hunting boks, berbagai jenis pita dan kain, peniti, jarum pentul, lakban bening, double tape, mata ikan, batu-batuan, boneka barbie KW dan plastik mika super keras untuk penutup boksnya. Saya juga mengambil beberapa sampah kertas di paper eater kantor. Oops! Gpp kan, toh gak dipakai.

Tiap malam sepulang kerja atau disela-sela waktu luang, saya mencicil menghiasnya. Dari kurun waktu dua bulan, praktis saya menyelesaikannya dalam seminggu. Kenapa membiarkan paket seserahan ini sampai begitu lama? Alasannya, kamar kos yang sempit jadi kuatir berjamur gitu. Ceritanya si doi ini anak perantauan. Sedangkan calon istrinya berasal dari kota dimana ia tinggal.

Ongkosnya meliputi uang lelah, sewa penyimpanan dan pengiriman loyaa. Haha.

Yang sebenarnya adalah saya merias seserahan itu cuma-cuma. Sebagai hadiah untuk kedua mempelai. Sekarang, “Ayo, gantiin duitku buat beli boks dll itu!” *nodong* 😀

Ini nih! Hasil kreasi menghias seserahan saya ~

1) Putri di Taman Bunga

Dibutuhkan jenis kain yang lebar dan panjang.Itemkain satin yang biasa digunakan untuk kamisol/kemben kebaya cocok dibentuk menjadi bunga-bunga yang sedang merekah. Handuk juga bisa cantik bila dirangkai semacam ini.

Membuatnya mudah loh. Saya tinggal menggulung-gulung ujung kain menjadi bola, menutupnya dengan sisi kain yang lain dan mengikatnya dengan pita/karet gelang. Kemudian memilin sisa kain menjadi lima/enam kelopak-kelopak bunga, menatanya sedemikian rupa dan mengikatnya kuat-kuat.

Biar tampak manis, saya tambahkan boneka, mendandani kemudian meletakkannya di sela-sela kain. Biar bisa berdiri, boneka harus diberikan tahanan yang terbuat dari karton. Setelah itu, kita fiksasi karton dengan mengelemnya ke dasar boks.

Bunga Kain by. miartmiaw

Tampilan item handuk juga bisa lebih menarik jika dibentuk menjadi bunga.

2) Butterfly Look Alike

Mukena atau kain kebaya juga bisa dimodifikasi menjadi kupu-kupuan cantik. Asal berbentuk 3dimensi yang unik aja, pasti seserahan kita jadi lebih menarik. Siapkan karton, buat dua pola untuk sayap, gunting, cover dengan kain dan ikat dengan pita/karet gelang. Untuk badannya, bungkus koran bekas atau mi kertas. Tautkan sayap dan badan jadi satu dengan jarum pentul. Begitulah caranya. Tinggal tempel mata ikan, tambahkan bibir terbuat dari kain dan tadaa!

Kalau barang-barang tadi sudah rapi di boks masing-masing, selanjutnya tinggal membuat tutup dari mika yang di-adjust sesuai kebutuhan dan memberikannya sentuhan akhir berupa ornamen pita/kain pada tutup mika. Buat hiasan semenarik mungkin dan eye catching.

Sudah siap untuk melihat hasil akhirnya? Ehem ehem!

Bunga Handuk Ciamik!

Ada yang lain juga. Ini dia.

Kosmetik Cantik

..dan dia,

Let Me Fly to The Sky

Lalu ini,

Pretty Ribbon

Dan ini 🙂

Segitiga Bermuda dan Kacamata

-love-

miartmiaw