kukuku kuku kuntilanak

Pernah tahu kuku kuntilanak? Yang tidak hanya panjang tapi juga runcing itu? Belum lagi di perbatasan antara daun kuku dan kulitnya yang bersarang belatung-belatung lucu. Warnanya hitam (warna yang tak kenal perubahan jaman) dan kusam. Hufft.

Kuntilanak bukannya buta warna, menggunakan cat kuku warna hitam sebagai pilihan. Ia hanya bingung memilih dan memilah warna me-ji-ku-hi-bi-ni-u sehingga mencampur kesemuanya menjadi satu. Setelah diaplikasikan, eh ternyata bagus juga. Kelihatan cool kan?

Kalo kusam, ini karena dia tidak punya waktu untuk manicure di salon. Kalaupun ada, pedicure –lah tritmen yang dipilih. Memilihnya dengan sangat terpaksa setelah tidak bisa menolak bujuk rayu si embak salon. Padahal niatnya creambath. Perawatan kuku tangan, entar aja deh. Utamakan perawatan kaki yang bolong-bolong kena kutu air.

Kuntilanak ke salon cuma sekali seumur hidup. Selain karena biaya perawatannya mahal plus harus ngasi-ngasi tip ke kapster, dia gak suka kalo kuku tangannya jadi bersih termasuk kuku kaki. Kenapa? Gak suka aja, katanya.

Setelah dikorek lebih jauh, akhirnya ia mau mengaku. Menurutnya, dengan kuku bersih aktivitasnya jadi terganggu. Semacam dibatasi dan dikekang gitu. Kamu tahu sendiri kan, kalo kuntilanak pakai kuku untuk membersihkan kulit kepala yang ketombean dan penuh kutu, menggaruk lubang telinga saat gatal dan buat mencari upil. Khusus untuk kuku tangan sebelah kiri, biasanya digunakan untuk cebok.

“Kan sayang, bila sudah bersih harus berkotor-kotor lagi.”

Iya deh Kuntil, suka-suka kamu deh.

 

P.S. Kuku saya kayak kuku kuntilanak. Habisnya belum dipotong sih. Kamu punya Primbon? Pinjam dong! Mau cari referensi hari baik memotong kuku. Terima kasih 🙂

Advertisements

mamad

Apa yang Anda pikirkan saat melihat sosok dengan pose seperti ini?

Rupa-rupa kehidupan manusia

Gila?
Sedang marah?
Atau orang yang butuh sarapan tapi tak kunjung memperolehnya?

Kalau menurut saya begini, singkat cerita ya:

Dia, sebut saja Mamad, dilahirkan sebagai orang yang berkecukupan. Keluarga yang setiap harinya cukup punya makanan untuk dimakan pada hari yang sama, saat itu juga. Ketika SD, Mamad pintar sekali. Jago matematika. Beberapa perempuan sebaya mengaguminya karena dia sosok yang cerdas dan mempesona. Terpilih menjadi ketua kelas, catatan sekolah dan cara berpakaian yang rapi dan perilaku yang baik menambah rupa sahaja Mamad.

Lepas SMA, beberapa temannya tidak mengetahui kabar keberadaannya. Mungkin saja ia sudah bekerja di luar kota. Atau hidup menetap dan berkeluarga bahagia di luar pulau dengan usaha bengkel pribadi. Bukan tidak mungkin mengingat sejarah masa lalu.

Hingga suatu ketika, salah satu teman berseragam merah putihnya yang terkejut bukan kepalang ketika mendapatinya di jalanan kota tempat Mamad dilahirkan. Dia ternyata tidak sedang berada di perantauan atau bekerja di suatu perusahaan manapun di kotanya. Pun tidak ada usaha bengkel pribadi.

Usut punya usut, si Mamad yang bekerja sebagai sopir angkutan umum merasa pendapatannya kian hari kian merosot. Persaingan di dunia aspal dan jalan raya sangat ketat disamping merebak dan menjamurnya sepeda motor. Sudah seperti itu, bosnya memecatnya lantaran sudah lima bulan Mamad belum membayar setoran.

Kepelikan masalah yang diderita semakin runyam tatkala istri semata wayang yang seorang pengamen jalanan minta dicerai dengan alasan sudah punya lelaki idaman lain, calo terminal. Mamad sebatang kara, dia tidak punya anak dan orang tua sebagai tempat mengadu. Sebenarnya dia punya saudara yang kaya, ke tempat inilah dia akan meminjam uang untuk menyambung hidup. Tapi mereka enggan ditemui, apalagi untuk memberikan hutang kepada Mamad.

Merasa tidak punya harapan, Mamad kemudian berjalan di sepanjang tepian jalan. Sibuk memikirkan sebuah pemecahan. Dia bertanya kesana kemari termasuk ke penjual nasi pecel, bagaimana dia seharusnya menyelesaikan masalahnya. Hingga suatu waktu, setelah perenungan yang mendalam, sebuah insight memberikannya solusi. Saking senangnya, Mamad kemudian melonjak sambil berteriak: “Jual saja aku!”