homey home

“Ternyata yang kita idamkan dalam hidup maupun mati adalah ‘pulang'”, begitu kata Djenar Maesa Ayu. Senyampang masih hidup, lantas pertayaan selanjutnya adalah, pulang dari dan kemana?

Mungkin mau ketemu bantal, nangis bombai habis putus sama pacar. Atau, mau lebaran nih! Pulang kampung ah, mudik. Hmm, bisa juga seperti ini:

Istri: Jadi pulang jam berapa say?
Suami: Agak malam dari biasanya, 11-an lah!
Istri: Lho, gak nginep di kos aja? Besok kan mesti berangkat pagi-pagi?
Suami: Nggak deh. Aku kan kangen kamu..

Beragam alasan dari mengalami pengkhianatan perasaan, merantau, bekerja atau selepas sekolah, semua pasti bertujuan. Tujuan tadi lebih kepada sebuah pencarian ketenangan, keamanan, kenyamanan, kerinduan dan kehangatan keluarga. Bukan begitu?

Tenang telah meninggalkan hiruk pikuk jalanan dan ragam tuntutan hidup. Aman dan terlindung dari cuaca tak menentu. Nyaman karena bertemu dengan kamar kesayangan. Rindu bertemu senyum ibu. Dan hangat canda-celoteh semua anggota keluarga. Jadi, darimanapun saya pergi, pasti maunya pulang ke rumah.

Sekarang, rumah seperti apa yang saya inginkan? Apakah yang harus hadap selatan? Memiliki taman bunga anggrek dan kolam ikan? Bertingkat dan memiliki AC di tiap ruang? Berbagai impian akan rumah idaman membentang sejak main rumah-rumahan. Hingga setelah menikah, keinginan untuk mandiri semakin membuncah.

Asalkan bisa hidup berdua ajalah pokoknya (*sebelum muncul generasi penerus), gak apa-apa deh meski ngontrak. Saya kan pengen atur ruang tamu sendiri dan mengoleksi barang-barang kesukaan. Maklum, selama ini suka beradu mulut sama ibu perihal ‘rongsokan’.

Begini ceritanya. Suatu ketika saya merasa rumah ortu penuh dengan barang-barang lama dan tak berguna. Ada buku-buku jaman saya SD, tas plastik, baju-baju ukuran S-nya (*sekarang size super duper large). Nah, supaya terlihat lebih lapang dan bersih, maksud hati saya sortir. Tapi beliau ngamuk. Nilai histori dan sentimentil lebih berharga ketimbang apapun di dunia.

Tak taunya, saya juga punya kecenderungan menyimpan barang tak tepat guna. Misalnya, memperlakukan kardus bekas sepatu. Padahal sepatunya sudah rusak. Saya mikir, mungkin suatu hari kardus tersebut bisa buat kotak kado atau tempat menyimpan rol rambut. Bahkan, beberapa sepatu yang udah nggak dipakai masih disimpan. Dibuang sayaang šŸ˜¦ Tuh kan, nurun.

Oke. Mulai dari sekarang, saya ingin punya rumah \m/ saya mau meletakkan barang-barang gak penting saya di rumah sendiri. Ibu tidak bisa melarang. Ortu bisa beri saran tapi tak bisa mendikte, dan sebagainya.

Ah, ini sih kiasan. Intinya, saya mau bebas melakukan apa saja terhadap keinginan. Tentu yang sesuai cita-cita dan nilai-nilai keluarga kecil kami, antara saya dan suami. Yang penting bebas intervensi. Bisa koprol di depan tv kalii! šŸ˜€

salam sehangat rumah,
mia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s