[IVF] day by day #2

Masih setia di sini membaca kisah IVF saya? Terima kasih banyak yaa 🙂 🙂 Disekuel pertama (bisa ditelusur di link ini), ada saya yang berkutat dengan jarum suntik dan proses perkembangbiakan folikel. Walau sang kisah telah dibagi duapun, saya masih juga tidak bisa menyingkat ceritanya. Macam bertele-tele. Fiuh, padahal memang pengen menjabarkan semua perasaan dan jerih payah yang telah lalu. Haha. OKE. Mari kita lanjutkan cycle-nya..

Hari ke-12
Senin, 15 Okt 12. Harvest Time! Saya kira tim dokter SpOG dan Androlog RS Siloam ini hampir tiap pagi panen telur. Dan kali ini tiba giliran saya yang dipanen telurnya. Saya sudah cerita panjang lebar di postingan terdahulu. Dari pengalaman ini saya belajar bahwa:

Tidak baik membuat orang lain patah semangat dan membiarkan orang lain berpikir negatif akan suatu keadaan.

Jadi mulai detik ini, berhentilah cerita kepada orang yang mau menjalani program bayi tabung tentang:
1. Merananya saat OPU, walau mungkin itu yang kamu rasakan
2. Kram-kram di perut yang menurutmu sakitnya minta ampun
3. Menyatakan penderitaan orang lain lebih besar ketimbang apa yang akan/telah kita rasakan

[HAH! Ini apaa?!@#$% Haha. Curcol tentang ke-bete-an akibat perilaku dan perkataan seseorang. #Abaikan]

*

Selesai OPU, saya kan lapar sekali tuh. Tetapi Boncafe jam 8 pagi belum buka. Lantas saya dan suami pergi ke Wapo, depan Kampus B Unair. Rumput tetangga selalu lebih hijau ya, kenapaa saya tadi gak milih nasi pecel juga seperti suami. Lebih enak dibanding steak-nya :/ Ah, memang menyesal tak pernah diawal.

Setelah makan kemudian bingung, antara mau pulang sama mengiyakan ajakan suami jalan-jalan. Mata saya sebenarnya agak siwer dan kepala sedikit pening. Tetapi kasihan juga bila dia ngantar pulang saya lalu balik lagi ke Surabaya buat ngajar. Haduuh, akhirnya saya mau-in deh mampir Tunjungan Plaza.

noh! gelang pasien aja masih di tangan, enggan dibuang

Sorenya, saya limbang-limbung sendiri pake sandal jepit di Mall Ciputra World sembari nungguin suami ngajar di kampus UWK. Nongkrong-nongkrong geje di Food Court sambil nungguin jam nonton di XXI. Rencana mau lihat TED jam setengah 6-an. Ntar usai nonton langsung pulang. Eh, ternyata nentir yang ke-2 cancel. Akhirnya saya random aja, tiket nontonnya saya kasihin sama orang yang tidak dikenal. Jam 7 check-out Ciworld, jam sembilan uda nyampe rumah. Langsung tidoorr.

Hari ke-13
Selasa, 16 Okt 12. Mulai masuk kerja lagi ini yaa. Waiting list kerjaan yang harus diselesaikan, buanyak! Sampai empat hari ke depan, aktivitas siang hari berada di seputar urusan pabrik. Mengisi form aplikasi Visa Cina karyawan, mengirim datanya ke Konsulat Cina di Surabaya dan pergi ke kantor Imigrasi juga untuk update dokumen ekspatriat. Lagipula, saya kan harus cuti panjang sehabis embrio transfer. Kerjaan saya sementara harus dilimpahkan ke atasan :p

Seusai OPU, start malam ini, ada obat khusus yang berfungsi untuk menyiapkan rahim menerima janin. Semacam suplemen bagi wanita dengan defisiensi hormon progesteron. Namanya Crinone 8%, Progesterone Vaginal Gel. Sesuai namanya, obat ini memang berhubungan dengan miss v.

another dildo. LOL

Cara memakainya butuh sikap yang santai dan tenang. Awalnya memang sulit, seperti nabrak atau nyantol-nyantol saluran miss v gitu. Mungkin karena posisi yang kurang pas. Bila perlu, minta suami untuk merayu atau nonton film biru biar miss v mengeluarkan pelumas alami sehingga aplikator Crinone mudah masuk. Begini detil cara pakainya:

1. Putar dan potong penguncinya dengan telunjuk dan ibu jari,
2. Masukkan aplikator ke dalam miss v secara perlahan sampai dalam, lalu squeeze kotak perseginya untuk mengeluarkan gel sampai tuntas,
3. Gel yang di sisi ini akan menyembur ke dalam miss v. Kadang kita akan merasa seperti kentut karena ada udara di dalamnya.

Hari ke-14
Rabu, 17 Okt 12. Crinone jam 21:30

Hari ke-15
Kamis, 18 Okt 12. Kamis-kamis di kantor merasa agak horor. Pas pipis, ada keanehan yang muncul dari miss v. Ada yang keluar bergumpal-gumpal warna putih >.< Gak sakit sih, cuma kuatir aja. Ini kan berarti obatnya jatuh semua. Lak gak bisa memberikan hasil maksimal. Dohh! Akhirnya cari tahu apakah teman pengikut IVF juga mengalami hal serupa. Ternyata iya. Dan kata mereka itu tak berarti apa-apa. Cuma residu. Okelah kalo begitu.

Crinone jam 23:50.

Hari ke-16
Jumat, 19 Okt 12. Crinone jam 21:15

Hari ke-17
Sabtu, 20 Okt 12. ET-nya Katy Perry jadi pengiring perjalanan ke RS. Siloam hari ini. Eheheh. Bukan Extra-Terrestrial melainkan Embryo Transfer. Untuk cerita yang lebih detil, lihat di sini. Lalu, tau-tau sudah malam yah?! Hahah, jam 23:40 waktunya Crinone! #mehlali

Hari ke-18
Minggu, 21 Okt 12. H+1 pasca ET. Bertambah usia saya, segalanya harus lebih baik. Memang lebih baik bagi saya untuk segera menanggalkan sifat-sifat buruk antara lain: egois, penuntut, suka cemburu terhadap hal-hal yang gak perlu. Sebaiknya kita bagi aja deh kue ultahnya. Kue ultah saya, adik ipar yang beliin. Entah, masnya utang atau nitip duit ini. Hihi.

Saya sudah gak kerasan di rumah sakit. Selalu terbayang kasur rumah yang lebih nyaman dan bisa ditempati berdua. Alih-alih menunggu waktu check-out (sekitar jam 12), kami memutuskan untuk pulang jam sembilan. Pelan-pelan nyetirnya ya Sayang. Maksimal 60 km/jam.

Sesampai Bangil, kami mampir ke rumah bos B, atasan langsung yang kebetulan rumahnya dekat dengan Sarang Semut ♥ Selai. Saya serahkan kuitansi biaya OPU dan ET plus rawat inap agar bisa segera diproses untuk medical claim. Saya ceritakan proses IVF yang kasusnya memang jarang. Tidak pernah ada malah di IST. Berharap biaya itu diganti oleh perusahaan. Tak lama kemudian kami undur diri.

Sekitar waktu Isya, ibu dan adik cewek saya-Liliput bawain saya makan malam. Kayak saya ini yang demikian rapuh hingga tidak boleh memasak dulu untuk sementara waktu. Mwuehehe. Kerupuk puli, ayam dan sayur bayam. Saya tuang di piring sampai nyaris tumpah kuah sayurnya, lalu makan dengan lahap. Enaknyaa. Marem gek merem. Tak lupa Crinone jam 22:30.

Hari ke-19
Senin, 22 Okt 12. Cuti. Ada injeksi Pregnyl dengan jarum suntik lebih besar dari jarum suntik insulin. Wow! Dasar suami ni sukanya nyuntik-nyuntik, makanya dia yang akhirnya menginjeksi saya di pantat kanan (Eh, gak ada hubungannya ya?). Selulit dilihat suami? Ah, gpp! Kami saling cinta selulit pasangan. Dan yang paling asyik, bila disuntik tak menimbulkan rasa sakit. Weee 😀

Sarapan masih bisa dengan lauk dan nasi sisa semalam. Tetapi siang hari, suami membelikan makan di warung langganan sebelum pergi meninggalkan saya untuk mencari nafkah di Surabaya. Kemudian saya sendirian di kamar. Ketap-ketip lalu tidur. Dan bangun. Lalu mainan socmed. Ngantuk lagi. Bangun tidur lihat tv (kalo sekitar jam tujuh malam saya bilang lihat tv, itu berarti lagi nonton The Big Bang Theory). Kemudian menemani malam sampai suami pulang. Jam 23:00 si Dia mengingatkan: “Crinone-mu Yang!”

Hari ke-20
Selasa, 23 Okt 12. Masih cuti. Pagi sekitar setengan 6, datang serombongan keluarga bos B. Anak yang paling kecil digendong, yang paling besar jalan kaki sama ortunya, sedangkan yang nomor dua-naik sepeda. Wah, ini saya belum pernah menerima tamu jam segini pas belum mandi pulak! HAHA. Hmm, ada apakah gerangan?

Hoo, ternyata beliau mengembalikan kuitansi-kuitansi yang saya berikan kemarin lusa. Wuih, sedihnya. Alasannya, program batab tidak termasuk dalam pemeliharaan kesehatan. Padahal di Cash Payment Slip uda ada tanda tangan Presdir loh. Hiks, kenapa lantas tanda-tangannya diurek-urek? Setelah mereka pulang, saya lantas menyepi di kamar. Suami menemani, berusaha menenangkan gejolak yang saya rasakan.

Pada hari ke-20 IVF, aplikasi Crinone dilakukan pada pukul 23:10.

Hari ke-21
Rabu, 24 Okt 12. Tetap cuti. Hihi. Crinone jam 00:05. Uwoo, tadi ngapain aja baru bisa aplikasikan Crinone jam segini? Hehe.

Hari ke-22
Kamis, 25 Okt 12. Apa kabar pabrik? Tanpa saya, semua tetap lancar ya? Baiklah.

Kalau di rumah sendirian dan tidak ada yang bisa dikerjakan, mau apa lagi coba kalo bukan eat-pray-love (baca: tidur)? Diwaktu senggang kadang meraba-raba perut, siapa tau sudah ada penghuninya. Lalu baca-baca (headline) koran. Tidur dan bangun hingga terdengar suara takbir dari masjid sebelah. Hati terasa sejuk, nyaman dan syahdu.

Baby Hiu kena macet di jalan menuju pulang. Biasalah, sebelum long weekend, tingkat arus mudik cenderung tinggi. Apalagi pas malam takbir Lebaran Haji begini. Meski tak seramai Idul Fitri, tetap saja si doi terlambat satu jam dari ETD. Setelah makan, gosok gigi dan cuci kaki kami bobo sambil saya memegang lengan atasnya yang dempal. Tak lupa mainan Crinone dulu. Haha (23:16).

Hari ke-23
Jumat, 26 Okt 12. Oke! Ini plesiran pertama saya setelah beberapa hari di’pingit’. Jam lima pagi, ke Pasuruan buat sholat Id di masjid sekitar Santos d’House (rumah ortu). Seperti mengejar matari, kami meluncur sekencang laju siput ke arah timur. Ibu surprais saya datang. Mampir, leyeh-leyeh sebentar di kamar. Begitu ingat harus segera suntik penguat kandungan, kami undur diri dan membawa pulang buah matoa.

10:00. Injeksi Pregnyl by baby hiu
23:00. ‘Injeksi’ Crinone by me

Hari ke-24
Sabtu, 27 Okt 12. Crinone jam 23:29

Hari ke-25
Minggu, 28 Okt 12. Crinone jam 22:00

Hari ke-26
Senin, 29 Okt 12. Saya keluyuran lagi hari ini. Bersama suami pergi ke Carrefour, beli sembako sama beberapa kosmetik kamar mandi. Di jalanan sungguh panas dan gerah. Ini mungkin dikarenakan sayanya suka semedi di kamar. Jadi suasana suhu yang ekstrim bikin kaget. Saat senggang di mobil, saya monitor kerjaan dari HP. Sempat chitchat sama Mba Ana tentang bagaimana perasaan dia H-1 sebelum ‘pengumuman’. Tak terlalu menyukai bad-surprais, akhirnya doi melakukan HPT. Tapi tak memberitahukan hasilnya kepada saya.

Suami pulang mengajar pada pukul 23:00 dalam kondisi basah kuyup. Kesiaaan. Ini kali pertama hujan mengguyur Bangil. Akhirnyaaa. Seketika bau tanah berhamburan dimana-mana, mawar jambe di halaman bersorak kegirangan, sedang saya membatin: “Semoga hujan menjadi sebuah pertanda baik bagi kami.” Dan sebaiknya memang lekas tidur agar besok lebih segar dan bugar. Aplikasi Crinone pukul 22:00.

Hari ke-27
Selasa, 30 Okt 12. Jam 06:00 meluncur Siloam. Saya merasa tidak punya firasat apa-apa. Tidak terlalu memikirkan keberhasilan program itu. Saya hanya merasa bergairah, membayangkan diri menyampaikan berita gembira ke siapa saja. Bersamaan dengan itu, benak saya berkata bahwa “blastocyt itu akan jadi anak laki-laki sedangkan morula akan jadi anak perempuan”. Tetap optimis bos!

Sesampai di Siloam, saya celingukan nyariin Mba Ana. Kemarin saya sampaikan kalo sudah siap ambil darah sekitar  setengah 8. Gak janjian juga sih mau ketemuan. Yaa, bila jodoh pasti ketemu. Tapi disepanjang mata memandang, tidak bisa saya temukan sosoknya. Oke, lebih baik ke toilet dulu untuk memenuhi panggilan alam. Pipis dan pub.

Pas antri di ruang CF, ndilalah sudah duduk di samping saya simbak yang dicariin. Lalu kami pergi ke ruangan di ujung untuk tes β~hCG secara bergantian dilanjut membayar biaya tes dan duduk-duduk di tempat antri untuk rumpi pagi. Foto-foto lagi.

wif happiest ivf-mate, ana furger

Sempat ketemu sama mba Febi. Lalu dia cerita sesuatu yang sedih dan mengkhawatirkan. Semoga flek-flek yang dialami tidak berarti apa-apa ya Mbak. Tak lama akhirnya kami berpencar. Mba Ana yang mau nonton, Mba Febi yang mau istirahat aja di kos-an. Saya? Mau sarapan ah.

Padahal lapar benar, tapi bingung mau makan apa. Setelah putar-putar dan tidak kunjung mendapatkan insight makanan yang hendak disarap (#eh), suami ngajakin ke Gresik buat ngeliatin proses pembangunan rumah Oli, adiknya. Waduh, jau amir! Akhirnya perut kesayangan bisa sarapan soto daging buatan mertua. Alhamdulillah.

Pukul 11, saya gatal buat tanya hasil lab. Kemudian saya beranikan diri nelpon Siloam. Widiih, grogi setengah mati. Mana AC di kamar dingin banget. Jiaan, sikilku anyep tenanan! Sama suster disambungkan sama dokter. Lalu, meski suaranya jauh, saya masih bisa dengar waktu dokter Aucky bilang level β~hCG saya berada di zona abu-abu. Nilai 13 itu mengindikasikan sayanya positif tapi bisa gugur. Deg! Padahal saya tau pasaran nilai β~hCG untuk kehamilan ganda adalah 400-an. Air yang keluar dari mata saya, entah menyiratkan apa.

Malam ini rasanya pingin skip ketemu dokter Hamdani dan tes β~hCG ulang di lain tempat sebagai perbandingan. Faktanya, kami ketemu dia jua jam 18:30 buat konsultasi dan urung melakukan tes lagi. Beliau memberi info nilai progesterone sebesar 17 dan anjuran untuk Crinone free sampai ada instruksi lanjutan. Lusa tes ulang.

Hari ke-28
Rabu, 31 Okt 12. Saya masih perlu cuti lagi. Saya enggan masuk kerja; mau istirahat saja. Sebenarnya sudah dari awal bulan saya mau bikin tutorial make-up Halloween tapi mana sempaat. Bahkan hari ini. Seolah sedang nganggur tetapi kepala disibukkan menyusun banyak tanya penasaran, yang saya tak tau jawabnya hingga besok 😦

Mungkinkah nilai β~hCG bisa naik drastis? Sebaiknya saya makan apa?

Jadi, morula saya ya yang tak mau nempel. Nilai 13 itu pasti indikasi nilai blastocyst-nya ya?

Nilai progesterone 17 itu efek Crinone-kah?

Kalau β~hCG naik dan saya dinyatakan hamil kuat. Apakah masih tetap dengan kehamilan ganda?

β~hCG yang dari awal meragukan, bagaimana dengan perkembangan janin nantinya? Bisakah ia berkembang dengan sempurna?

Bagaimana bila satu janin gugur di tengah jalan? Atau mereka berhasil bertahan tapi lahir dengan kecacatan?

Naudzubillah.

Semoga Allah memberi kami segala yang terbaik.

Hari ke-29
Kamis, 01 Nov 12. Lagi-lagi cuti.

05:30 Heading Siloam for blood test (again) then go home
13:15 β~hCG result 4 (by phone) 😦 😦 😦

Suami tidak membiarkan saya bersedih. Lalu dia ngajakin menyetrika Surabaya sebagai pengalih perhatian. Malamnya ke Food Festival di Pakuwon City. Nongkrong makan tahu gejrot sambil membahas rencana lanjutan. Diantaranya wacana bahwa saya mesti berhenti kerja dan pindah rumah (tinggal di Surabaya saja) dan sebagainya. Kami saling menguatkan demi menyiapkan masa depan yang lebih baik. Sementara sih masih hanya ada kami berdua. Yaa, sampai saat itu tiba. Sampai ada anak-anak yang menemani tawa kami..

 

Kecup semanis ketchup,

miaw

Advertisements

[IVF] day by day #1

Pernah ditanya, “Program batab kamu yang long apa short protocol?” Waduh, panjang apa pendek ya? Saya ngerasanya sih seperti tagline iklan Choki-choki, ‘Paaanjang dan laamma’. Tetapi, karena berhasil curi lihat status pasien atas nama sendiri, ada semacam checklist dokter berkop SHORT PROTOCOL. Nah!

Bagi sebagian orang yang tidak tahu bagaimana program itu dijalankan mungkin penasaran. Baiklah, simak kronologisnya di Day by Day saya berikut ini: (*Akan jadi posting yang … *mwoaah* Sabar ya teman-teman~) 🙂

Hari ke-1
Kamis, 4 Okt 12. Menstruasi. Bagi pasien baru biasanya akan dilakukan pemeriksaan awal; ambil darah untuk pengecekan hormon LH, FSH, Prolaktin, Estradiol. Screening HbsAg, HIV, anti HCV suami dan istri. Sementara istri USG transvaginal, suami mengeluarkan sperma untuk dianalisis. Tapi ini sudah kami lakukan di LMP saya; bulan lalu. Jadi, hari ini tidak ada tindakan sama sekali. Saya kerja seperti biasa.

Hari ke-2
Jumat, 5 Okt 12. Cuti. Pagi setengah tujuh, saya bersama suami meninggalkan Sarang Semut ♥ Selai dan satu setengah jam kemudian sampai di RS Siloam Surabaya. Jam 08:15 saya ambil darah untuk cek Estradiol lalu antri USG. Suami tidak bisa terus menemani karena doi ada pertemuan teknis dengan panitia seleksi penerimaan PPDS. Baru jam 10:30 saya USG dengan dr. Hendro.

Setelah selesai USG, suami ternyata sudah standby. Kemudian kami makan di Boncafe. Setelah itu saya mesti nongkrong di kontrakan adik ipar sedang suami ngajar. Malam jam 21:00 baru ketemu dr. Hamdani untuk konsultasi hasil pengecekan Estradiol dan penentuan dosis obat untuk menstimulasi folikel (bakal telur). Puregon 100iU/0.5 ml (tiga ampul, tiga hari).

untuk pertama kali, makan di sini 🙂

Hari ke-3
Sabtu, 6 Okt 12. Saya di rumah, sendirian saja. Si suami dengan kegiatan rutinnya di Surabaya, ngajar les materi kedokteran yang saya tidak mengerti sama sekali. Sejak tahun 2005 dia nentir Biokimia dll, jadi wajar saja bila suami hapal sampai ke sudut-sudut buku Biokimia Harper setebal 700 halaman. Makanya saya julukin ‘The Harper Freak’. Haha.

Malam minggu berduaan sama Baby Hiu (panggilan sayang saya ke suami; karena dia segarang hiu-seimut bayi-plesetannya film kartun bebek Baby Huey). Setelah membersihkan diri sepulang dari pergi, jam 18:45 dia bantu saya menginjeksikan Puregon 100iU/0.5 ml di perut bawah-lurusnya puting-sisi kiri atau kanan, terserah (*gantian, dimulai dari kanan). Ouch! Beginilah rasanya disuntik suami sendiri. Bisa merengek, manja-manja, sambil megang mesra tangannya. Ahh! 🙂

Hari ke-4
Minggu, 7 Okt 12. Menurut Instruksi, injeksi harus dilakukan antara pukul 18:00 sampai 20:00. Nah, jam ini merupakan jadwal Baby Hiu ngajar. Praktis saya harus bisa menginjeksi diri sendiri. Hingga pada minggu malam yang ceria, saya terpaksa menusukkan jarum suntik berisi cairan Puregon 100iU/0.5 ml ke subcutan perut kiri. Meskipun jarumnya tergolong kecil namun tetap saja buat mual dan adem panas. Big bos cuman ngamatin. Fiuh!

Hari ke-5
Senin, 8 Okt 12. Tantangan injeksi kali lebih berat. Saya harus melewatkan makan-makan pasca Monthly Operational Meeting di Kepiting Cak Gundul Pandaan. Heuheu, padahal harus banyak makan protein. Duh, jadi bingung! Mau ikut tapi kuatir ga nutut. Akhirnya saya pulang dengan lunglai. Tetapi air muka saya kembali cerah karena ada Baby Hiu di rumah. Yihaa!

Tiap kali mau suntik, selalu deg-degan. Ampun Tuan! Bos sudah pegang-pegang jarum suntik, siap menginjeksi. “Wait, sini aku saja yang nyuntik. Minta tolong rekamin aja!” pinta saya ke suami. Dan cairan Puregon 100iU/0.5 ml itu berhasil masuk di perut kanan bawah. Mungkin sedikit syok, keringat dingin seketika menyerang dan mata saya kabur. Langsung deh rebahan untuk memulihkan diri. Telapak tangan dan kaki dipegang-pegang suami, kemudian hangat lagi. Mikisi Honey :*

Hari ke-6
Selasa, 9 Okt 12. Saya cuti mendadak (pengajuan kurang dari 5 hari kerja) dan berakibat hilangnya uang kehadiran. HAHA. Hari ini harus ke RS. Siloam untuk tau perkembangan hormon. Cek Estradiol; ambil darah via lengan kiri jam 07:30. Selanjutnya seperti biasa, saya ngendon di kontrakan adik ipar, nungguin schedule konsultasi ntar malam.

Setelah antri sejam, pada pukul 19:00 saya dan suami ketemu sama dr Aucky, sekilas saja. Beliau bilang kadar Estrogen saya terlalu tinggi sehingga dosis Puregon 100iU-nya diturunkan. Kali ini injeksi Puregon 100iU/0.25 ml di perut bawah bagian kiri dibantu suster. Saya cuma bisa mlengos sambil mringis, lha wong nyuntiknya bikin cikit-cikiit. Hemhem 😐

Hari ke-7
Rabu, 10 Okt 12. Bisa dibilang bulan Oktober ini kartu presensi saya berwarna merah. Banyak bolongnya. HAHA. Saya masuk kerja, menyelesaikan tugas yang tertunda dan membereskan kerjaan untuk hari-hari mendatang. Cek ini-itu karena besok mesti cuti (lagi). Dan sudah jadi kebiasaan, injeksi Puregon 100iU/0.25 ml sisa kemarin, saya sendiri yang melakukan. Sekarang sisi kanan yaa.

Hari ke-8
Kamis, 11 Okt 12. Di pabrik tempat saya kerja ada peringatan Safety Day, tetapi saya tidak bisa mengikutinya. Sayang ya, padahal ada acara potong tumpeng segala. HAHA. Pukul 6 pagi dari Bangil kami meluncur RS Siloam. Sekitar setengah 8 sudah nyampe, antri, baru jam 10:15 di-USG transvaginal sama dokter Hendro. Hmm, betapa yang dilihat setiap hari oleh mata SpOG ini, hihi. *elus dada*

Kalau mau makan di RS. Siloam, saya prefer ke Iwake daripada Excelso atau Holland. Jelas termaktub dalam daftar menu bahwa di Iwake ada ‘nasi’. Ini penting karena saya tidak bisa kenyang sebelum makan nasi. Saya pilih lauk udang balado dan rica terong untuk brunch (pk 11:00) saya.

Malamnya ketemu sama dr. Hamdani. Sang Androlog berkata, “Untuk menyeimbangkan ukuran telur, kamu mesti diinjeksi CTT (*ini maksudnya cetrotide kali yee)”. Oke, di ruangan di sebelah pojok, saya nyuntik perut bawah bagian kiri dengan Puregon 100 iU/0.25 ml dan perut bawah bagian kanan dengan CTT. Jam 20:40 suami jemput kemudian langsung cabut.

Hari ke-9
Jumat, 12 Okt 12. Kayak ini saya yang punya pabrik, masuk enggak-masuk enggak. Hehe. Seperti tidak terjadi apa-apa pada diri saya, hari ini masuk kerja seperti biasa. Tapi apa sih yang spesial dari jarum suntik berbentuk lancip bukannya tumpul dan seorang vampir yang hunting darah via lengan bukannya leher? Gak ada kan? 😀 😀

Di IST-pun, kegiatan First Aid Training dan Donor Darah yang saya ikuti juga tergolong membosankan. Better saya skip cerita ini. Di rumah, usai nonton serial The Big Bang Theory di Warner TV, saya injeksi Puregon 100iU/0.25 ml dan CTT sendiri.

jarum suntik seimut marmut

Hari ke-10
Sabtu, 13 Okt 12. It’s gonna be a loong day!” Weekend sih biasanya pergi ke mall, nah ini ke rumah sakit. Huft! 

06:23 Heading RS Siloam dari Sarang Semut ♥ Selai. Catatan berat badan saya adalah 42.6 kg

07:43 Tangan kiri sudah dienjus, ga jadi diambil darahnya. Terlalu sering disuntik jadi bengkak dan biru-biru. Oalaah 😦 Beralih ke lengan kanan. Lancar dan gak sakit. Siplah!

11:00 USG transvaginal oleh dokter Hendro.

11:30 Makan siang opor ayam dan teri di Iwake. Sinyal internet gak oke di sekitaran CF, Lobi dan Iwake. Saya mati gaya makan sendiri, membunuh waktu juga tak ada yang menemani. Ini si Baby Hiu kemana ya? Oh iya, dia ngajar sampai jam satu-an.

12:45 Ketemu dr. Aucky. Beliau bilang telur saya berjumlah 11, berukuran rata-rata 10mm. Tapi ada satu yang besar dan mau pecah. (Ini saya ngeri dengarnya. Memangnya kenapa kalau ada yang pecah?) Akhirnya nanti malam harus suntik pecah telur. Baru senin proses ovum pick up (OPU). Jedarr!

18:45 Tanda tangan surat sanggup.

19:50 Ditensi oleh suster, 110/70 mmHg kemudian injeksi Pregnyl di pantat kiri. Bagaimana rasanya? “Nyut! Nyuuut!”

20:50 Pulang ke Bangil lewat tol Mayjend Sungkono.

21:15 Makan nasi penyet komplit di tol; Pitstop KM 26.

23:00 Nyampe rumah -_____-

Hari ke-11
Minggu, 14 Okt 12. Ragam obat suntik yang masuk ke tubuh efeknya luar biasa, perut sering kram, payudara terasa kencang dan puting jadi mengeras. Saat bercermin di suatu pagi dihari minggu, saya mendapati perut bawah bagian kiri berwarna kebiru-biruan. Hematome  kena jarum suntik waktu saya injeksi Puregon yang terakhir pasti. Ugh! Kalau hari ini sih tidak ada acara suntik-suntikan. Saya cuma mesti puasa mulai ntar jam 11 malam.

*

Btw, sebaiknya kita istirahat dulu ya. Ambil-buang nafas dulu gitu sambil minum kopi di pantry. Kalo saya sih mau makan bakso. Ntar critanya disambung lagi. Perasaan pra-OPU, lihat detilnya di sini.

 

Salam,

Mia

[embryo transfer part 2] my best wishes

Setelah proses ET selesai. Setelah pipis pertama berhasil mengalir. Sejam kemudian..

Dua suster mendorong reclining bed saya menuju kamar pasien yang berada di lantai dua. Mulut saya tutupin pakai selimut yang teksturnya mirip keset handuk, mata terpejam dan tidak melihat antrian ibu-ibu batab yang pasti lagi ngeliatin saya dengan penasaran (kebiasaan newbie). Saya yakin suami pasti ngikutin.

Begitu sampai di lift, “Yang, yang! Tidur ta?” tanya suami. Hehe, tentu tidak! Lalu saya beberkan alasan kemudian dia cuman ngangguk. Yuhuu! Sampai deh di ruang A 204. Saya sharing kamar sama pasien batab dari Ambon; mama (panggilan suster kepada px ivf) berusia 40 tahun yang suaminya seorang SpOG. Ternyata bukan dengan mba Ririn yang dari Jogja seperti perkiraan.

Kemudian suster memiringkan kasur 45 derajat di bagian kaki sehingga posisi kaki lebih tinggi dari kepala (posisi syok). Saya tidak boleh banyak gerak apalagi pergi ke toilet selama 6 jam! Bayangkan, enam jam bou!! Hal ini dilakukan untuk memastikan embrio yang telah ditanam, tak rontok. Lima belas menit berlalu, saya kepingin pipis lagi. Hiks! 😦

Pertama karena memang dilarang pergi ke kamar mandi. Kedua karena urusan pampers, tentu. Dan yang ketiga, yaaa apalagi kalau bukan posisi yang tak memungkinkan saya mengeluarkan urine sedemikian rupa. Telah ‘nganthong’ pula! Hmm, andai kamu yang bilang ‘keluarkan saja’ bisa merasakan apa yang saya rasakan.

Betapa gelisahnya saya kala itu. Saya mesti mengejan tapi jadi membuat kontraksi pada perut. Yang ada malah sayanya kentut. Miring kanan-kiri, tekuk kaki, tarik nafas eee pipisnya malah balik lagi. Urung keluar lagi. Ditambah darah yang bermuara di kepala dan mata. Makin pusing jadinya. Komplit dah!

Ketika pipis itu (akhirnya) bisa keluar, saya semacam mengalami orgasme. Wuih, lega bukan kepalang. Hehe. Begitu seterusnya sampai pipis ke empat. Frekuensinya 15 menitan. Ser, serr, serrrr! Saya ngitung dan mendapati cicilannya hingga 20x di tiap periode pipis. Kemungkinannya, cairan yang terbuang percuma itu sebanyak dua botol aqua 600 ml. Halahhh, pleonasme! HAHA. Lantas dehidrasi.

Tengah hari saya makan siang disuapin suami. Menu makanannya enak. Kokinya pintar masak. Gak sepoh seperti rasa makanan di RS RS kebanyakan. Apa karena dasarnya emang lagi gak sakit yang melibatkan indra pengecap jadi error. Ayam goreng kalasan, udang krispi, mi goreng kecap, sop wortel segar, NIKMAT. Tapi makannya gak bisa banyak karena nyangkut di tenggorokan. Lagi lagi karena posisi. Juga kebelet pipis lagi.

Terjadi sekitar setengah satu. “Mati akuu!” Pipis itu ada di sana. Sepertinya tidak begitu banyak tapiii tetep minta dikeluarkan. Segenap usaha telah dikerahkan untuk membuatnya pergi dari kantung kemih saya. Curhat, BBMan dll. Hasil, nihil. Operan shift jaga ganti dari suami ke mertua dan adik ipar. Suami ngajar.

Lima menit serasa lima jam. Tidak bisa tidur, enggan minum, konsentrasi kacau. Fiuhh. Tiga jam kemudian, saya minta adik ipar manggil suster (tombol panggilan otomatisnya tidak berfungsi). Saya minta tolong dia menanyakan apakah pasien ET sudah boleh mandi. Menurut perhitungan, sudah lewat 6 jam. Gak tau deh acuannya darimana. Suster bilang masih harus lihat status pasien terlebih dahulu. Hufft!

Teeettt! Jam empat kurang seprapat. Cepetan cepatan! Mumpung belum keduluan. Mana piyama mandi dan handuk, dettol, sabun? Saya ribetin deh Oli. Tolong tolong di situ (nunjuk tas kuning), eh di sana (nunjuk tas coklat). Saya mau PIPIS! Aaaaak >.<

Di sinilah saya sekarang, pipis sambil megangin pampers yang beratnya: ada kali dua kilo. Hoho. Crit crit! Memang begini nasib pipis yang ditahan-tahan. Saya kantongin pampers dengan tas plastik warna hitam agar tak keliatan, lalu saya buang di tempat sampah. Mandi dan memastikan sekujur tubuh dalam keadaan bersih.

Saya rebahan lagi setelah seprei bersih dipasang oleh suster. Pusing-pening kepala saya. Hanya dengan cara itu saya bisa meredakan rasanya. Lalu mertua cerita berbagai kisah dari A-Z. Sungkan bila tak mendengarkan, padahal ngantuk. Tubuh tidak saya perbolehkan untuk miring jadinya kepala noleh kanan terus. Tengeng! Begitu ada jeda, maka saya jadikan celah untuk tidur. Daah mertua, saya bobo dulu yaa.

Bangun ketika Maghrib nyaris habis. Saya lantas tergopoh-gopoh ke kamar mandi untuk wudlu dan menunaikan ibadah sholat Maghrib. Suami lantas tanya via BBM mau dibelikan maem apa. Saya bilang lagi pengen sate klopo. Oke, lantas dia ngitung berapa jumlah sate yang harus dia beli termasuk untuk suami Oli. "Tapi aku pulangnya agak malam. Mungkin nyampe jam 9. Tadi mulai belajar molor, belum antrian sate." Yakelaah -_____-

Mendadak Oli mau pulang karena suaminya sudah menjemput. Oo, setelah saya berterima kasih, kemudian dia menghilang di balik sekat tirai. Satenya belum datang ternyata saya lapar duluan. Akhirnya saya lahap rata semua makan malam yang disediakan Siloam: krengsengan daging-wortel-kecambah, dadar telur, sup wortel-kembang tahu sama semangka kuning. "Sudah kenyang, nanti sate icip-icip aja, tombo pengen", begitu saya bilang ke suami.

Suami datang dan mendapati saya tertidur. Penyakit bawaan orok ni, begitu kenyang langsung ngantuk. "Halo suamiku, belum genap sehari tak bertemu, aku rindu." Dia makan satenya di bawah, saya ngeliatin dari atas kasur. Sesekali saya disuapin sampai habis dua tusuk. Lalu kembali zzzZ…

Sekitar jam 11 malam suami membangunkan saya. "HEH! Crinone-mu belum kamu masukin ya?" Ah iya, lupa! Hmm, semenjak habis OPU, aturannya adalah menjelang tidur saya harus menjejalkan Crinone alias Progesterone Vaginal Gel 8% ke dalam vagina. Ini saya gak tau pasti untuk apa. Mungkin mempersiapkan kandungan untuk jadi wadah bayi. Rahim supaya tebal kalii (sotoy ah!).

Saya porotin celana, di bawah selimut saya masukin Crinone-nya sambil meraba-raba lubang yang tepat. Crut crut! Hemm, sudah. Kami kembali tidur. Duh, kasiannyaa. Melas ya ini suami sama mertua umpel-umpelan tidur di bawah. Tempatnya sempit untuk duo raksasa. Emang gak bisa milih kamar. Buktinya si SpOG juga boboknya di bawah. HAHA. Envy sama Mba Ana yang dapat VIP room. La wong dia standby mulai jam lima pagi buat boking kamar.

Ditengah tidur dan mimpi entah-apa, lagi-lagi dibangunin suami. "Sayang, Selamat Ulang Tahuun!" Wow! Ada kue tart berikut lilin dengan angka 29 yang menyala. Rotinya bernuansa warna biru. Unyuuu. "Make your wish!" pinta suami. Saya tipikal orang yang banyak mau. Tapi untuk kali ini, saya mintanya sama Allah, semua proses program IVF ini berjalan dengan lancar. Semua yang terbaik dan sesuai keinginan kami (loh?!).
1) Blastocyst-morula menempel lengket di dinding rahim dan berkembang menjadi janin,
2) Janin hidup bersama saya dengan nyaman, aman dan tenang dihari-hari berikutnya,
3) Saya dan suami menyambut kedua bayi sehat-lengkap-cukup berat badan kami dengan berseri.

Aamiin aamiin aamiin ya rabbalalamin. Kabulkan doa saya ya Allah; Sang Maha Mengerti Maksud Hati. Terima kasih.

Hamba yang penuh pinta,
Mia

embryo transfer

Menandai tanggal 20 Oktober 2012 dengan gambar godhong waru.. tanda bahwa bakal bayi telah ditanam di rahim saya.

20-10-12 05:51
Meninggalkan Sarang Semut ♥ Selai menuju Siloam. Ini karena harus menyiapkan sarapan untuk saya, suami dan mertua dulu kali yaa sehingga berangkatnya molor dari rencana semula. Oke, saya dalam keadaan yang sip pagi ini. Tak kuatir akan merasa kesakitan ketika proses embryo transfer (ET) berlangsung. Tak ada rumor akan hal-hal mengerikan sih! So, hati menjadi lebih tenang.

07:01. Proses registrasi pasien ET sudah selesai. Tuh kan, ini dampak dari kegiatan ‘karet gelang’. Alhasil tidak mendapatkan kamar sesuai harapan dan harus berbagi kamar dengan orang lain. Ya sudahlah, gak papa. Setelah gelang pasien dipasang di tangan kiri dan mendapatkan souvenir peralatan mandi berikut mug cantik, saya berbaur dengan pasien ET hari itu. Bertotal jendral enam orang.

07:30. Saya dipanggil suster untuk menanda-tangani surat pernyataan kesediaan menjalani proses ET yang akan dilakukan oleh dr Ashon SpOG. Setelah itu suster berpesan agar saya minum air terus-terusan. Penuhi kantong kemih! kata dia. Dan sayanya lupa gak bawa minum, mau beli warung-warung di RS juga belum pada buka. Akhirnya suster yang baik hati itu memberi saya 3gelas Aqua. Ini suami masih ngantar mertua ke tempat adik ipar.

Tiktok-tiktok. Jam pasir sepertinya mampet, lajunya waktu terasa seret. Dua gelas Aqua juga numpang lewat saja di kandung kemih saya. Bolak-balik kamar mandi sudah kesekian kali. Tapi semua pasien ET harus bersabar karena mendapat giliran setelah para androlog dan SpOG itu menyelesaikan OPU. Saya mesti mengganti cairan yang telah hilang dengan menenggak setidaknya 1500 ml lagi. Wii, stelah itu jadi kepingin pipis lagi dan lagi >.<

08:44 Fiuh finally! Ini saya terakhir dipanggil. Akhirnya masuk ruang ET juga. Langsung nyamber kostum pasien bertali warna biru dan memakainya di ruang ganti (baca: toilet). Ketika hendak meluncur ke 'ruang pojok', saya dihadang oleh dr Aucky dan dr Hamdani. Mereka bilang akan menanam 3 embryo, dengan komposisi 1 blastocyst dan 2 morula. "Loh, kok tiga Dok?! Dua saja, nanti nggak muat" kata saya. Asumsi dokter kenapa tiga karena kemungkinan morula 'nempel' di rahim tak semudah blastocyst. Berbagai macam perasaan negatif mulai menyerang. Cemas, kuatir, pesimis, galau dll melanda 😔.

08:50 Sepenuh-penuhnya kantong kemih terjadi ketika saya mulai rebahan. Terasa diubun-ubun dan mau muncrat saja. Tapi tak kuasa karena dokter sudah berada di hadapan kemaluan. Tanpa infus, adegan surprais kaki disabuk (karena mereka tidak memasangnya) dan tanpa tensi terlebih dahulu. Hanya kegiatan menyiram terminal dengan cairan dingin yang dilakukan oleh suster. Barulah dr Ashon bertindak dengan mencari posisi rahim.

Ouch! Ini campuran antara sayanya yang pengen pipis sama pikiran-pikiran tentang blastocyst dan morula. Saya benar-benar gak nyaman di-ET. Dr Ashon seperti tidak bisa mengeksekusinya dengan baik. Aduh, yoyoo maak!! (*hmm, mulai deh ngalem). Oke, DONE! (pk.09:00). Setelah memakaikan popok (saya tak ubahnya baby hui), suster-suster itu bahu membahu menggotong saya; memindah ke kasur yang lebih layak. "Boleh pipis sekarang!" katanya.

Saya langsung melotot ketika pipisnya sudah di ujung tanduk, tapi tak kunjung bisa keluar. Satu-dua menit hingga sepuluh menit berlalu. Aduh, bagaimana ini. Kaki ditekuk bukan sebagai solusi. Toto seperti hantu gentayangan; pipis di pembalut dewasa tak semudah ketika harus mengeluarkan urine di pemandian. Ayo fokus, fokus! Saya gelisah miring ke kiri dan ke kanan tanpa ada yang bisa dilakukan sampai… serrr! Alhamdulillaah.

ovum pick up #2

Selasa, 16 Oktober 2012

H+1 (pasca) OPU..

Kemarin cuti, hari ini masuk kerja seperti biasa.

Untuk pekerjaan kantor saya ada target menyelesaikan visa China lima orang karyawan yang akan pergi ke G-Fast minggu ke-3 bulan November mendatang; sebelum update MERP–nya GM. Bangun tidur saya merasa lebih fresh dibanding semalam yang ngantuk beraatt. Kemudian saya disibukkan rutinitas pagi hari; menyiapkan sarapan untuk saya dan suami yaitu menanak nasi, merebus telur, menyeduh Milo dan menghangatkan lauk pindang balado.

Ealaa, lakok suami dalam kondisi puasa gula darah. Saya gak sadar kalau doi ada jadwal Tes Kesehatan (rangkaian seleksi penerimaan Program Pendidikan Dokter Spesialis-1 di Unair). Ya sudah, akhirnya saya makan pagi sendiri sambil baca-baca Jawa Pos. Sisa makanan saya bungkus sebagai bekal ngantor.

Sampai tengah hari di kantor, pandangan mata  mblereng-mblereng (Bahasa Jawa = tidak jelas; kabur). Sedangkan perut seperti kram di sisi kiri maupun kanan. Kalau pucuk payudara sih masih aja cenut-cenut dari lima hari lampau. Tetapi saya masih bisa mengisi formulir pengajuan visa China dan menyiapkan semua berkasnya. Pun ketika usai jam istirahat. Kondisi saya belum sepenuhnya fit walau sudah makan siang.

Beruntung saya bisa membawa pulang seporsi sop buntut (pembagian hadiah IST Cup khusus untuk internal tim Administrasi dan Padamas) sehingga tidak perlu repot memasak untuk menyiapkan makan malam. Lalu saya bisa cepat istirahat sambil menunggu suami pulang.

*

Kemarin..

Bangun pagi dan mendapati tatapan mata saya hampa. Sumpah! Saya benar-benar kalut tatkala menghadapi OPU. Pada akhirnya, saya tetap saja mandi dan berdandan. Saya tak mau nantinya kesakitan dan terlihat jelek. Biarpun harus mringis-mringis tapi kudu tetap cantik dong! Mengenakan terusan gombor ungu dari Uptown Girl, supaya bisa tinggal singkap!

Ditengah dinginnya Bangil pagi-pagi pukul 04:46 kami berangkat menuju Surabaya. Saya tak henti membaca doa untuk meredam deru degup jantung dan sesekali tertidur disepanjang perjalanan. Suami mendukung agar saya tenang dengan tidak menyalakan radio.

Ouch! touchdown Siloam nih! Sejam aja dari rumah ke sini. Saya turun di drop off, kemudian registrasi pasien. Sudah ada Mbak Ana dan Mbak Febi yang datang duluan. Terang aja, mereka kan ngekos di Sumbawa situ. Jadi deket. Syukurlah, kebagian giliran OPU setidaknya urutan ke-tiga. Kan setelah mereka, jadi nanti bisa tanya-tanya.

Entah saking groginya atau memang sudah panggilan alam, setelah tanda tangan surat pernyataan, saya langsung pub. Pantesan dari tadi mules. Hmm, begini kan lebih lega. Lebih plong rasanya. Kembali saya berbaur dengan Mbak Ana dan suami sama Mbak Febi yang dianterin pembantu kos-an. Ini Mbak Febi, suaminya pulang ke Padang buat nyiapin Lebaran Haji dan urusan bisnis. Sedang sperma tinggal ambil di ruang penyimpanan.

Bahkan kami sempat foto-foto loh!

kika : saya – mba ana – mba febi

Setelah itu, “Nyonya Akhmad!” panggil suster.

Deg!

Lololo, benar saya duluan tah ini? *nelan ludah* Bahkan saya dapat yang pertama! Praktis saya gak sempat semaput karena suster sudah menarik saya dengan senyuman. Kemudian dia menyuruh saya melepas pakaian yang melekat pada badan (#eaa) dan menggantinya dengan kostum khusus (piyama bertali belakang).

Saya diarahkan menuju sebuah ruangan yang berada di pojok. Daaan, disanalah saya harus telentang. Pada sebuah meja sepanjang pantat. Suster mengukur tensi via tangan kanan saya. Biasanya kan alat untuk ngukur tensi itu mesti dipencet-pencet dulu, nah kali ini pengukur tekanan darah digital dapat menunjukkannya hasilnya secara otomatis.

Seorang suster yang lain menanyai nama saya. Mungkin maksudnya mau mengecek tingkat kesadaran. Tak lama kemudian, “Saya akan infus yaa. Rileks saja.” Lalu cairan infus menetes-mengalir melalui selang dan masuk ke tubuh melewati punggung tangan kiri. Dilanjutkan selang oksigen dipasang di kedua hidung. Rasanya sejuk.

Saya kaget ketika ada suster yang berada di hadapan saya memasang sabuk pada kedua kaki yang mengangkang. Loh, kenapa mesti dipasang belt segala, apa sesakit itukah? Kuatir kaki ini jadi anarkis mungkin. Wow! Ini saya mau disalib apa?! Heuheu..

Suster tadi mengingatkan saya agar jangan kaget waktu dia membersihkan daerah kemaluan dengan menyikat-nyikat lembut dan mengguyurnya dengan cairan yang dingin. Setelah semua siap, dokternya dipanggil. Entah dengan dokter siapa, rasanya dr Hendro. Atau dr Aucky? Auk ah! Mukanya sudah tertutup dengan masker dan saya enggan memperjelas penglihatan.

Pikiran cuma tertuju pada rasa di terminal saya. Hmm, waktu si dokter bilang “USG ya Buu!” Ya saya tak berpikir terlalu jauh. Alat USG transvaginal kan tak ubahnya dildo. Sepertinya memang tiap step perlakukan medis selalu diinfokan ke pasien. Lalu samar saya dengar dokter bilang, “Suntik ya!” Oh oh oh.

TIPS: Hai para newbie, bayangkan alat untuk USG transvaginal maupun OPU sebagai dildo yang membakar gairah seks agar perasaan tenang dan damai. Sehingga kita tidak akan merasa kaget, nyeri maupun sakit.

**

Kali ini si dildo terasa agak panjang dan menjangkau dalam. Saya sedikit reject dengan mengangkat pantat. Tapi suster mengingatkan agar segera meletakkan kembali dan menyuruh saya (lagi-lagi) untuk rileks. Serrrr! Terdengar bunyi cairan yang mengalir. Dari jauh ada yang menyebut angka-angka dan meneriakkan sesuatu seperti ‘oocyte’ kali yaa.

dildo, si alat untuk ambil telur

Nah, kemungkinan alat inilah yang bersarang di dalam vagina saya; secara bergantian dari kanan ke kiri. Saya tidak merasakan adanya sebuah jarum yang menusuk kemudian menyedot. Waktu dokter bilang SELESAI, saya kemudian heran. Loh, sudah ta? Mana yang katanya sampai bikin nangis atau pingsan segala?! Dilanjutkan dengan perasaan lega. Setelah mengucapkan terima kasih, saya menoleh ke atas kepala dan melihat jam. Proses OPU memakan waktu 15 menit. Semua beres pada pukul tujuh tet.

Sabuk di kaki dilucuti. Saya dipindah ke kasur yang lebih panjang dan digiring ke ruangan berkelambu untuk recovery dan sekaligus menghabiskan cairan infus. Di sini kesadaran saya sepenuhnya komplit. Saya aja ngobrol-ngobrol sama mba Ana yang lagi nunggu giliran. Baru setelah pipis dan ganti baju, jam 07:45 saya keluar sambil melet-melet. Di sana ada banyak orang yang duduk di bangku antrian (seperti yang kemarin-kemarin saya lakukan), ngeliatin saya yang cengengesan. HAHA.

Syukurlah, proses OPU lewat dan berjalan dengan lancar. Dr Hendro mengatakan bahwa ada 6 telur yang berhasil diambil. Semoga proses fertilisasi berhasil. Amin.

Kriuk-kriuk, krucuk-krucuk. Ini perut lapar beut! Susterpun menyuruh saya makan sebelum melakukan proses pembayaran. Saya dan suami pergi keluar (ogah makan di RS); cari makan enaaak :9

OPU tidak menyakitkan. Apalagi mematikan 🙂

Salam,
Mia

ovum pick up #1

Terkadang, pikiran sendirilah yang justru menyakiti..

Minggu, 14 Oktober 2012

Begitu mendapat informasi dari dr. Aucky Hinting, kemarin pukul 13:00 WIB, mengenai jadwal OPU yang akan dilakukan Senin, 15 Oktober 2012 jam 6 pagi, perasaan jadi tak menentu. Warna hati berubah menjadi abu-abu tak ubahnya langit Surabaya yang memendung.

Ditambah kondisi fisik yang sepertinya berantakan. Ini saya kelamaan berada di garis antrian untuk USG transvaginal dan konsul dokter sih! Bayangkan saja, duduk meski di kursi empuk, dari jam 8 pagi standby di RS Siloam sampai jam satu siang. Tanpa ada kejelasan, kapan tiba giliran saya USG (ternyata jam 11:00 oleh dr Hendro sang SpOG).

Belum lagi tubuh yang memberikan tanda-tanda selayaknya wanita mau mens yaitu payudara terasa kencang dan puting mencuat kayak mau copot. Plus perut seolah ada yang nonjok-nonjok samar. Saya mengira ini karena injeksi hormon sehingga membuat pertumbuhan sel telur makin banyak dan membesar.

Sejak awal mengikuti program IVF, padahal sudah ‘diaban-abani’ kalau bagian yang paling menyakitkan bukan injeksi puregon di perut kanan/kiri tiap hari, bukan USG transvaginal atau suntik pecah telur dengan pregnyl di pantat melainkan saat OPU! Dokter bersama timnya akan kasi anastesi lokal tapi tak memberikan perlindungan terhadap rasa sakit secara menyeluruh. Kita pasti tetap merasakan nyeri ketika jarum khusus OPU menembus ovum. Mestinya sudah siap dong menghadapinya. Tapii, sepertinya masih juga gentar saat harus melangkahkan kaki kkkke Ssssiloamm.

Semakin mendekati hari H, berasa ingin jalan di tempat. Atau berlari menjauh, bukan maju. Kepala makin nyut-nyutan. Saya seperti pesakitan yang hendak menjalani hukuman gantung, besok. Selera makan menghilang. Kegiatan bersih-bersih rumah dan setrika baju-baju seharian sebagai pengalih pikiran tak mengurangi beban.

Segala kegalauan yang saya rasakan sampai muncul dalam mimpi. Tuh kan! Mimpinya seperti ini. Di dalam ruang tertutup yang dingin, ada empat orang mengenakan penutup kepala dan masker mengerubungi saya. Satu diantarnya memegang pisau kecil mirip pencukur alis. Dia menunjukkannya ke saya sambil berkata, “Kita akan butuh ini untuk membelah telurnya agar mudah disedot.”

Hiii, ngeriii >.<

Besok akan ada 6 orang yang akan OPU. Ada Mbak Febi dan Mbak Ana yang saya kenal. Keduanya sama-sama bersuami bule. Mbak Febi yang orang Padang asal suaminya dari Australia. Kalo suami Mbak Ana asalnya dari Swis. Dia sendiri dari Kalimantan. Saya akan tanya perasaan mereka dengan mengirimkan sms ah.. SMS-nya akan saya tulis begini:

"Mbak, membayangkan OPU besok, aku deg-degan setengah mati nih! Semalam sampai mimpi-mimpi segala. Haha :'D | perlu cukur bulu kemaluan dulu kagak? LOL"

Hmmhm..

Doakan tidak terjadi apa-apa sama saya ya?! Maksudnya, semoga proses OPU tidak sesakit pikiran maya saya. Meski susah, saya akan mencoba membayangkan yang indah-indah.

Salam,
Mia