bonding (all the) time

Dari kali pertama saya dan suami mengetahui kehamilan ini, kami menganggap bahwa Ayang (anak-sayang) sudah ada di sana; hidup dalam perut saya. Sejak saat itupun, kami sudah menjadi family of  three.

Meski masih sebesar biji bunga opium -katakanlah sebesar titik- kami sudah mengakui keberadaannya. Buah cinta yang telah kami harapkan kehadirannya selama 4 tahun pernikahan.

Bagi yang mengikuti ‘usaha’ kami tentu tahu bahwa perjalanan itu sangat berliku. Banyak air mata, rasa kecewa, deg-degan, harap-harap cemas, putus asa, minder and so many whys. Bagaimana tidak, bila dengan terapi hormon oral, IUI, 2x IVF, 1x FET, kami belum dikaruniai keturunan. Dan masih ada HSG, SHG plus clekit-clekit post-Laparoskopi yang harus saya lewati.

Pelajaran berharganya adalah kami bisa saling menguatkan dan jadi benar-benar meyakini bahwa selalu ada hikmah dibalik segala cobaan. Daan, begitu kabar kehamilan ini sampai di tangan, seolah tak pernah sebahagia ini sebelumnya. Apalagi ketika mendapatkannya secara spontan dan tanpa prosedur yang ribet, nikmat Tuhan mana lagi yang kan kami dustakan.

Bicara sama perut, WHOTT?!

Orang awam mungkin saja beranggapan bahwa bicara dengan bayi dibalik perut sangatlah konyol. Tapi tidak bagi kami. Tidak bagi orang-orang yang mengerti. Kami sepenuhnya sadar bahwa bayi yang belum dilahirkan juga butuh perhatian, butuh dicintai dan butuh diterima. Hal ini sangatlah berguna untuk menyiapkan dirinya hidup di ‘luar’ perut kelak.

Membiasakan bercakap bersama Ayang harus dimulai sedini mungkin. Awalnya canggung dengan bahasa yang belepotan dan tak tahu mau ngomong apa, tapi lama-lama lancarlah yaa. Apapun yang kami dengar dan rasakan, apa-apa yang kami lihat dan bau sebisa mungkin kami bagi dengan Ayang.

Bagi sayapun, perut diraba dan dikecup suami rasanya gimanaa gitu. Ada rasa bahagia, dicinta, geli dan hangat. Perasaan positif semacam itu tentu akan berdampak baik bagi anak. Setujuu?

suami rambutnya klimis. kiss baby kiss :*
suami rambutnya klimis. kiss baby belly kiss :*

Nah, bagi orang tua yang sedang belajar bonding dengan bakal anaknya, bisa simak percakapan berikut untuk latihan atau sebagai panduan:

(bangun tidur)
Mama (M): “Assalamualaikum. Selamat pagi Anak. Bangun yuk Nak. Ikut mama-papa sholat shubuh.”
Papa (P): “Haloo, anaknya papa masih tidur ini? Semalam abis begadang ya?”

(di kamar mandi)
M: “Mama masih ngantuk Nak. Nih matanya lengket. Tapi dipakai wudlu jadi seger deh. Airnya dingiin!”

(abis sholat shubuh)
M: “Nah sudah selesai sholatnya. Sholat shubuh menghadap kiblat. Berapa rakaat?”
P: “Sholat shubuh dua rakaat Nak.. Hayoo, sudah lapar belum ini? Papa beli maem dulu yaa. Hari ini mau makan kue apa, rogut apa lumpur lapindo?”
M: “Yang biasa dibeli papa loh pastel, bukan rogut. Salah tuh labelnya. Iya kan Nak? Apa aja deh asal gurih. Sabar ya Ayang, kita nunggu papa sambil nyiapin baju dan lipat jas putihnya.”

(sebelum berangkat sekolah)
P: “Papa berangkat dulu ya. Baik-baik di rumah sama mama. Nanti malam ketemu lagi. Kita makan bareng, oke? I love you.”
M: “Ayo bilang ke Papa, we love you too, Pa. Semoga sekolah lancar ya. Hmm, abis ini kita ngapain enaknya? Nyanyi aja ta?”

(saat nyanyi-nyanyi lagu anak Indonesia)
M: “Eh lakok mules perutnya mama. Waduh, musti eek dulu nih. Yuk ikut!”

(di kamar mandi)
M: “Hmm, mama abis makan apa ya kok perutnya sakit gini. Pake kentut-kentut lagi! Wah ini namanya masuk angin Nak. Wah wah wah, bau banget ini eek-nya mama. Wait! Kita tunggu pipis terakhir; tanda kalo sudah selesai eeknya. Nah kalo eek-nya sudah keluar, perut jadi legaa. Hehe”

Dan seterusnya sampai menjelang tidur.

Favorit Mama!

Pada suatu ketika (beberapa bulan sebelum hamil), suami pulang sambil membawa buku. “Ada tugas baca,” katanya. Baru lihat judul dan foto cover-nya saja saya ikut tertarik. Ternyata isinya memang menarik.

buku yang membahas pentingnya bonding
buku yang membahas pentingnya bonding

Semoga siapapun (khususnya para calon orang tua) yang membaca buku ini, juga bisa mengambil manfaatnya.

Salam,

miartmiaw

P.S. Buku yang kesannya jadul ini milik dr. HOS. Belum pernah cek dijual di pasaran atau tidak. Teman-teman yang berminat baca, tapi tidak bisa menemukannya di perpustakaan umum atau toko buku, silahkan email saya di mi41215@yahoo.com

Advertisements

10 thoughts on “bonding (all the) time

  1. selamat ya mbak 🙂
    moga calon bayi dan ibunya sehat slalu ^^
    menjalani kehamilan selama 9 bulan itu yg deg-deg-an seeeeeer.. kuncinya maaah d awal kehamilan ga bole banyak capek,,
    ntaran pas mau brojol, baruu dagh mulai banyak kerja d rmh 🙂

    1. Aamiin. Terima kasih Ray Aku capeknya malah kebanyakan tidur hehe. Amazing ya bisa hamil dan jadi ibu. salut banget untuk perjuanganmu. Moga kehamilanku lancar 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s