laparoscopic surgery

Pengalaman Frozen Embryo Transfer (FET) saya pada 2 Februari 2014 berakhir dengan datangnya menstruasi tepat H-1 sebelum tes darah. Ya, beta-day saya seharusnya tanggal 12-02-14 pukul 8 pagi di RS Siloam Surabaya tapi tamu bulanan selalu datang tanpa diundang. Ingin tahu bagaimana perasaan saya saat itu? Tentu tak dapat digambarkan. Makanya saya mogok bercerita mengenai hal ini. Suami saya kuliah, sedang saya menangis sendirian di apartemen. Tanpa ada momen saling memeluk sebagai pelipur lara.

Lemas. Melas. Males.

Adalah dampak dari kegagalan yang berulang. Saya sepenuhnya sadar bahwa Yang Maha Pemberi Kehidupan belum percaya pada kami atau mungkin ada saat yang menurut-Nya tepat. Saya hanya terus bertanya-tanya kapan saat itu tiba. Padahal saya sudah membayangkan bahwa berita bahagia bisa jadi kado ulang tahun pernikahan kami yang ke-4. Pupus sudah harapan saya.

*

Sebenarnya sudah ada wacana untuk operasi laparoskopi pada akhir tahun lalu. Hanya niat itu kandas ketika saya takut-takut membayangkan prosedurnya. Toh sudah HSG dan SHG dengan hasil yang negatif. Baru setelah program tanam embrio pertama kami gagal, ada baiknya bila laparoskopi dilakukan karena dirasa lebih dapat ‘melihat’ kemungkinan adanya miom atau kista dsb. Begitulah saran dari beberapa teman sejawat suami. Kemudian kami memutuskan operasinya di RS. Graha Amerta Surabaya (alias Griu) oleh dr. Hendy Hendarto SpOG(K). Kenapa? Konon tersiar kabar kalau beliau cakap dalam menangani hal ini. Selain itu, untuk mempermudah konsultasi bila dengan guru sendiri. Supaya dapat diskon karena status residen obgyn RSDS-FKUA adalah alasan nomer sekian.

11 Maret 2014
(Mens hari ke-2)

Pukul 11:00 saya bertemu dengan dr. Hendy tanpa didampingi suami. Saya ceritakan mengenai kronologi program batab cycle pertama, ke-dua dan thawing di RS. Siloam yang belum berhasil.  Riwayat HSG-SHG dengan hasil nihil. Beliau sempat kaget karena merasa kalau case-nya sudah teramat dalam. Dalam kasus yang umum, apabila IVF gagal, solusinya akan dilakukan IVF lagi. Ibarat IVF adalah ‘GONG’-nya; sebuah solusi final bagi masalah fertilitas. Menurut dr. Hendy, laparoskopi biasanya berada dalam tahap screening. Oleh karena tidak ada riwayat kista atau mioma, maka rencana penanganannya berupa Laparoskopi diagnostik sekaligus Histeroskopi.

Hasil dari USG Vagina:
Uterus endometrium, tipis
Ovarium kanan, folikel antral: 4
Ovarium kiri, folikel antral: 4
Mass (tumor) -/-

17 Maret 2014
(H-2)

Pukul 10:27 saya berada di Parahita Diagnostic Center diambil darahnya (lumayan banyak) untuk pemeriksaan: Hematologi Lengkap, Waktu Perdarahan, Waktu Pembekuan, PPT, APTT, SGOT, SGPT, BUN, Ureum dan Glukosa Puasa.

18 Maret 2014
(H-1)

Sehari sebelum operasi, saya mulai pasang status alay dan minta maaf kepada handai taulan. Yaa, siapa tahu saya mati di meja operasi. Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama menghadapi GA. Berbagai pikiran aneh lalu lalang buat kepala saya sakit bukan kepalang. Perut terus-terusan mulas. Groginya luar biasa. Gimana kalau dokter anastesi ngasi dosis biusnya kurang lalu pas perut disayat jadi sakit tak karuan. Atau dosisnya malah kelebihan hingga menyebabkan saya tidur tapi tak bisa bangun.

19 Maret 2014

06:00 Saya bersama suami sudah tiba di Griu. Setelah berhenti makan dan minum mulai pukul 22:00 dan cukur-cukur pubis kemarin malam, pagi ini adalah hari H. Mau melakukan pendaftaran di loket lantai 1, tidak ada orang, saya dan suami langsung menuju Klinik Fertilitas di lantai 2 dan menunggu di ruang tunggu. Tak lama datanglah senior GM dan kamipun sedikit berbincang dengannya. Hingga sang dokter datang. Lalu suami menghilang.

07:00. Menuju bilik kamar mandi, untuk ganti pakaian operasi sekaligus buang air kecil. Suami juga ikut-ikutan ganti baju karena dia diijinkan senior GM untuk ikut serta, dan gak jadi kuliah. Oke, di ruang operasi yang super dingin (dan buat saya jadi kepingin pipis lagi) itu sudah ada beberapa orang yang tidak saya kenal dan sebagian mukanya telah tertutup masker. Yang pasti ada Dr Hendy, senior GM dan suami. Saya mulai tidur telentang di sebuah meja mirip papan dan ditanya apa ada alergi. Tidak ada jawab saya. Kemudian tangan kiri ditusuk jarum infus dan diberi anastesi, lalu saya tidak ingat apa-apa lagi.

08:30. Tau-tau saya sudah ada di tempat recovery berkelambu biru dan mata sayapun sudah bisa mendefinisikan waktu. Seperti tidur sejenak dengan perut terasa nyeri saat dibangunkan oleh suami. Gerakan tubuh menjadi sangat terbatas bahkan hanya sekedar menggoyang perut dan pantat. Saya ngeri melihat perut sendiri.

09:00. Status kondisi saya pada jam ini adalah:
Masih terpasang infus di tangan kiri
Ada selang melintang di hidung
Hairnet di kepala
Tenggorokan sakit seperti kena flu dan berlendir
Ada bercak darah pada vagina
Kebelet pipis
Lapar dan haus
Tidak ingin makan karena tenggorokan sakit
Tidak ingin minum karena pengen pipis
Mau pipis tapi tak bisa bergerak, arggghhh!

Lewat jam sembilan, suami sudah kembali ke RSDS dan meninggalkan saya sendiri. Untungnya ada seseorang yang mereka sebut Bunda. Saya tidak tahu status Bunda di Griu sebagai apa, tapi sepertinya Bunda tadi juga ikut berada di kamar operasi. Bundalah yang menggantikan suami, menemani saya. Sembari tetap melakukan tugasnya. Mondar-mandir dan melipat-lipat baju operasi.

Begitu tengah hari ada junior NV ngantar 3 pack roti Laritta. Thanks to you sist! Rotinya buat saya dan Bunda. Saya makan sedikit; disamping karena posisi tiduran juga karena tenggorokan sulit digunakan untuk menelan (belakangan saya tahu kalo itu semua karena selang oksigen). Punggung mulai panas dan akhirnya memaksa saya untuk bisa miring ke kanan-kiri secara bergantian.

15:00. Suami datang! Thanks GOD. Setelah selesai dengan urusan administrasi, suami membantu saya duduk. Saat begini kepala terasa pening. Kemudian membantu saya berdiri (kepala dari pening menjadi pusing). Semua harus dilakukan secara perlahan dan hati-hati. Kita tidak ingin membuat luka jahitnya menganga, bukan? Lalu menolong saya mengganti pakaian. Hingga membantu saya memantapkan langkah kaki. Bayangkan saja bagaimana dia melakukannya. Momen seperti ini buat saya jadi terharu.

16:00. Pulaaang! Bunda bantu dorong kursi roda saat kami turun dari lantai 2 dan saya mencium tangan beserta pipinya sebelum masuk mobil. Bagi saya, Bunda sudah seperti orang tua sendiri. Begitu sampai apartemen, saya keluar dari mobil dan membungkuk-mbungkuk seperti orang mabuk. Suami menopang saya saat menunggu lift; memapah saya menuju lantai 16 dan kamipun berjalan dengan sangat perlahan.

25/3 Plester luka dilepas secara gentle oleh suami (foto bawah). Kalo laparoskopi operatif biasanya perut ada 3 titik yang dilubangi. Hasilnya dari operasi ini adalah NOL BESAR.
25/3 Plester luka dilepas secara gentle oleh suami (foto bawah). Kalo laparoskopi operatif biasanya perut ada 3 titik yang dilubangi. Hasilnya dari operasi ini adalah NOL BESAR.

[Bonus cerita]

Ketika suami saya tanya tentang bagaimana kesan akan operasi laparoskopi sang istri, tentang –you know- bagaimana area V itu jadi diketahui senior dan gurunya. Kinda awkward moment kan? Si dia dengan santainya menjawab, “Ya agak malu tapi aku tetep cool.” :’)

Advertisements

2 thoughts on “laparoscopic surgery

  1. Halo mbak Mia, salam kenal!
    Saya Imelda, kebetulan lg cari2 di google ttg crinone 8% …..eh ketemu blognya mbak Mia. Baca2, eh jadi menghubungkan kisah mbak Mia dg keadaan saya skrg.
    Saya jg ikut program Batab di RS Siloam yg pertama kali. Dan hasilnya negatif(B-hcg 3,02). Barusan kmrn tgl 30/5 hasilnya. Di suruh dokter balik 2 bln lg (sekitar agustus). Kebetulan saya msh ada simpanan 4 embrio. Tmn2 yg lain sayangnya tdk punya simpanan. Pada hari itu ada 5 org yg gagal, cuma 2 org yg berhasil.
    Saya mau tanya, waktu balik lg utk FET itu brp hr sblm haid? Apa sama dg pertama kali program? Haid hari ke3? Trs sblmnya dikasih vitamin ngga?
    Mohon balasannya. Tq.

    1. Halo mbak Imelda, salam kenal juga 🙂

      Sorry for your heart broken. Saya sedikit banyak tau bagaimana rasanya. Klasik, tapi sabar dan tabah adalah cara terbaik untuk mengatasinya. Bisa curhat ke saya untuk meringankan beban.

      Butuh waktu dua bulan itu untuk mengembalikan kondisi tubuh seperti sediakala setelah stimulasi hormon. Memang, IVF bukanlah jaminan bisa langsung hamil seperti harapan kita. Saya juga masih punya simpanan embies 4 biji.

      Proses FET saya diawali SHG pada hari ke-14 haid. Trus diberi antibiotik. Hari ke-17 USG+ pengecekan estradiol (e2). Hari ke-19 USG+e2+progesterone. Hari ke-22 baru FET. Dan diberi progesterone oral (merk utrogestan, 21butir). Nggak ada vitamin.

      Kalo program alami saya bulan Mei ini blm berhasil, insyaallah, bulan Juni mau FET. Buat kita berdua, semoga dilancarkan untuk urusan yang satu ini 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s