my name is …

Mia. Yeah, mama-india-alpha.

Sepertinya ini nama yang paling simpel dan mudah ditangkap telinga. Kecuali untuk urusan akademik/formal lain, saya lebih sering menyebutkan nama ini ketimbang nama lengkap. Tentu ketika ingin memperkenalkan diri atau apabila ada orang yang bertanya, “What’s your name?”

Tapi, siapa sangka jika ortu saya memperkenalkan gadis kecilnya kepada khalayak bukan dengan Mia melainkan Ira. Di tempat saya dibesarkan, para tetangga dan orang-orang gang sebelah, tidak ada yang mengenal mbarepnya Pak San dengan nama Mia.

Darimana nama Ira berasal?

Ehm. Ortu saya ini bukannya orang yang tidak kreatif. Mereka hanya sangat berhati-hati dalam memberi label anak. Supaya kelak anak ini bisa menjadi teladan bagi adik-adiknya dan berbakti kepada orang tua, maka minta tolonglah mereka kepada seorang yai yang menjadi panutan. Dengan harapan nama itu dapat membawa berkah bagi penyandangnya.

Jamiatul Khoiriyah. Kumpulan kebaikan/kebagusan, begitu arti nama saya. Sayangnya, saya punya gambaran nama ideal ketika SD. Dalam hati sering protes, kenapa nama saya tidak sekeren nama sahabat karib, Willy Indra Yosefa?! Sehingga tidak akan ada yang mengolok-olok saya dengan ‘tul-atul’. Waktu itu benci sekali sama orang yang suka manggil saya dengan nama ini.

Ira diambil dari Khoiriyah. Sengaja sedikit diutak-atik oleh Ibu supaya dipanggilnya enak. ‘Ir’ bukannya ‘Ri’. Kalau ri-ri-ri, ibu jadi keingat meri si anak bebek. Jadilah, nama ini melekat disepanjang childhood. Coba tanya teman SD saya, ‘Siapakah anak terpandai di SD tempat kamu sekolah?’ Jawaban mereka pasti: IRA.

Lama kelamaan saya bosan..

Saya adalah seorang siswi baru di les Bahasa Inggris IYI milik Mr Jack. Saat itu kelas enam dan saya tak tahu bahwa nantinya Mr Jack akan jadi guru Bahasa Inggris SMU saya. Waktu perkenalan dengan teman-teman se-les, ada cewek imut (jelas sekali usianya lebih muda dari saya) yang menanyakan nama panggilan. “Enaknya dipanggil apa?” tanya saya.

Setelah lihat sekilas nama lengkap saya, “MIA. Gimana kalo Mia?” Okelah, Mia. Asal bukan Ira, Mia lumayanlah. Sejak saat itu, ketika berkenalan dengan orang baru, saya selalu menyebutkan nama ini. Teman SMU yang sekaligus teman SMP (maklum kota kecil) dan beberapa teman dari luar kota, memanggil saya dengan Mia.

Mia agak pasaran ya? Adik pacar namanya Mia, kakak kelas namanya Mia, Putri Genovia namanya juga Mia (suka banget baca Princess Diaries-nya Meg Cabot ;). Tapi gpp, anggap saja nama Mia memang universal. Dan saya populer dengan nama Mia (padahal ya gak populer-populer amat!).

Menjelang kuliah, saya kembali resah. Masihkah harus memperkenalkan diri dengan nama yang sama? Pinginnya ganti suasana. Duh, bingung! Umm umm umm, AHA! Saya mau bereksperimen ah. Kita lihat apakah mereka bersedia menuruti mau saya.

IYA, panggil saya dengan Khuma. Banyak ekspresi wajah yang bila diartikan itu berarti tanya, ‘Loh, dari mana?’ Dari elemen huruf di fullname saya. HAHA. Daripada harus menjelaskan panjang-lebar, saya jawab setiap orang yang penasaran dengan senyuman.

Padahal nama ini mau saya jadikan nama anak saya loh. (K)humaira yang artinya wajah/rona pipi kemerahan merupakan panggilan Nabi Muhammad kepada istri tercinta Aisyah. That’s why saya suka nama ini. Karena gandrung warna merah juga (waktu itu, entah kapan tepatnya, mestinya sebelum kuliah). Ndilalah emaknya gak sabaran.

Btw, saya suka bila ada teman yang memiliki ‘personal name’ untuk saya. Entah nama panggilan atau julukan. Sehingga hanya dengan menyebutkan nama itu, saya langsung tahu siapakah yang tengah menyapa/memanggil saya meski tak bertatap muka.

Berikut contohnya:

1) Mee. Ini jelas dari Bee alias Anis, sahabat sejati dari SMP-SMA hingga kini.
2) Khumeng. Hanya Eno teman Asrama Putri Ekanita yang seorang apoteker itu, punya panggilan ini.
3) Miss 13. Bahkan Gus Yusuf a.k.a Joe Phasorano (sang aktivis Daar Salam) punya nama panggilan khusus untuk saya.

Hehe. Ya gitu deh!
Apa gak sebaiknya ketemu untuk crita ngalor-ngidul sama saya? πŸ™‚ πŸ˜€

Xx,
JK

Advertisements

3 thoughts on “my name is …

  1. Better than yesterday. Sedang meluncur ke nikahan teman. Banyak manten. Bulan besar, musim org kawin πŸ˜€ | have fun ya mbak! Selamat berkelon mesra ama misua. Aku juga ga sabar. Hrrr!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s