ovum pick up #2

Selasa, 16 Oktober 2012

H+1 (pasca) OPU..

Kemarin cuti, hari ini masuk kerja seperti biasa.

Untuk pekerjaan kantor saya ada target menyelesaikan visa China lima orang karyawan yang akan pergi ke G-Fast minggu ke-3 bulan November mendatang; sebelum update MERP–nya GM. Bangun tidur saya merasa lebih fresh dibanding semalam yang ngantuk beraatt. Kemudian saya disibukkan rutinitas pagi hari; menyiapkan sarapan untuk saya dan suami yaitu menanak nasi, merebus telur, menyeduh Milo dan menghangatkan lauk pindang balado.

Ealaa, lakok suami dalam kondisi puasa gula darah. Saya gak sadar kalau doi ada jadwal Tes Kesehatan (rangkaian seleksi penerimaan Program Pendidikan Dokter Spesialis-1 di Unair). Ya sudah, akhirnya saya makan pagi sendiri sambil baca-baca Jawa Pos. Sisa makanan saya bungkus sebagai bekal ngantor.

Sampai tengah hari di kantor, pandangan mata  mblereng-mblereng (Bahasa Jawa = tidak jelas; kabur). Sedangkan perut seperti kram di sisi kiri maupun kanan. Kalau pucuk payudara sih masih aja cenut-cenut dari lima hari lampau. Tetapi saya masih bisa mengisi formulir pengajuan visa China dan menyiapkan semua berkasnya. Pun ketika usai jam istirahat. Kondisi saya belum sepenuhnya fit walau sudah makan siang.

Beruntung saya bisa membawa pulang seporsi sop buntut (pembagian hadiah IST Cup khusus untuk internal tim Administrasi dan Padamas) sehingga tidak perlu repot memasak untuk menyiapkan makan malam. Lalu saya bisa cepat istirahat sambil menunggu suami pulang.

*

Kemarin..

Bangun pagi dan mendapati tatapan mata saya hampa. Sumpah! Saya benar-benar kalut tatkala menghadapi OPU. Pada akhirnya, saya tetap saja mandi dan berdandan. Saya tak mau nantinya kesakitan dan terlihat jelek. Biarpun harus mringis-mringis tapi kudu tetap cantik dong! Mengenakan terusan gombor ungu dari Uptown Girl, supaya bisa tinggal singkap!

Ditengah dinginnya Bangil pagi-pagi pukul 04:46 kami berangkat menuju Surabaya. Saya tak henti membaca doa untuk meredam deru degup jantung dan sesekali tertidur disepanjang perjalanan. Suami mendukung agar saya tenang dengan tidak menyalakan radio.

Ouch! touchdown Siloam nih! Sejam aja dari rumah ke sini. Saya turun di drop off, kemudian registrasi pasien. Sudah ada Mbak Ana dan Mbak Febi yang datang duluan. Terang aja, mereka kan ngekos di Sumbawa situ. Jadi deket. Syukurlah, kebagian giliran OPU setidaknya urutan ke-tiga. Kan setelah mereka, jadi nanti bisa tanya-tanya.

Entah saking groginya atau memang sudah panggilan alam, setelah tanda tangan surat pernyataan, saya langsung pub. Pantesan dari tadi mules. Hmm, begini kan lebih lega. Lebih plong rasanya. Kembali saya berbaur dengan Mbak Ana dan suami sama Mbak Febi yang dianterin pembantu kos-an. Ini Mbak Febi, suaminya pulang ke Padang buat nyiapin Lebaran Haji dan urusan bisnis. Sedang sperma tinggal ambil di ruang penyimpanan.

Bahkan kami sempat foto-foto loh!

kika : saya – mba ana – mba febi

Setelah itu, “Nyonya Akhmad!” panggil suster.

Deg!

Lololo, benar saya duluan tah ini? *nelan ludah* Bahkan saya dapat yang pertama! Praktis saya gak sempat semaput karena suster sudah menarik saya dengan senyuman. Kemudian dia menyuruh saya melepas pakaian yang melekat pada badan (#eaa) dan menggantinya dengan kostum khusus (piyama bertali belakang).

Saya diarahkan menuju sebuah ruangan yang berada di pojok. Daaan, disanalah saya harus telentang. Pada sebuah meja sepanjang pantat. Suster mengukur tensi via tangan kanan saya. Biasanya kan alat untuk ngukur tensi itu mesti dipencet-pencet dulu, nah kali ini pengukur tekanan darah digital dapat menunjukkannya hasilnya secara otomatis.

Seorang suster yang lain menanyai nama saya. Mungkin maksudnya mau mengecek tingkat kesadaran. Tak lama kemudian, “Saya akan infus yaa. Rileks saja.” Lalu cairan infus menetes-mengalir melalui selang dan masuk ke tubuh melewati punggung tangan kiri. Dilanjutkan selang oksigen dipasang di kedua hidung. Rasanya sejuk.

Saya kaget ketika ada suster yang berada di hadapan saya memasang sabuk pada kedua kaki yang mengangkang. Loh, kenapa mesti dipasang belt segala, apa sesakit itukah? Kuatir kaki ini jadi anarkis mungkin. Wow! Ini saya mau disalib apa?! Heuheu..

Suster tadi mengingatkan saya agar jangan kaget waktu dia membersihkan daerah kemaluan dengan menyikat-nyikat lembut dan mengguyurnya dengan cairan yang dingin. Setelah semua siap, dokternya dipanggil. Entah dengan dokter siapa, rasanya dr Hendro. Atau dr Aucky? Auk ah! Mukanya sudah tertutup dengan masker dan saya enggan memperjelas penglihatan.

Pikiran cuma tertuju pada rasa di terminal saya. Hmm, waktu si dokter bilang “USG ya Buu!” Ya saya tak berpikir terlalu jauh. Alat USG transvaginal kan tak ubahnya dildo. Sepertinya memang tiap step perlakukan medis selalu diinfokan ke pasien. Lalu samar saya dengar dokter bilang, “Suntik ya!” Oh oh oh.

TIPS: Hai para newbie, bayangkan alat untuk USG transvaginal maupun OPU sebagai dildo yang membakar gairah seks agar perasaan tenang dan damai. Sehingga kita tidak akan merasa kaget, nyeri maupun sakit.

**

Kali ini si dildo terasa agak panjang dan menjangkau dalam. Saya sedikit reject dengan mengangkat pantat. Tapi suster mengingatkan agar segera meletakkan kembali dan menyuruh saya (lagi-lagi) untuk rileks. Serrrr! Terdengar bunyi cairan yang mengalir. Dari jauh ada yang menyebut angka-angka dan meneriakkan sesuatu seperti ‘oocyte’ kali yaa.

dildo, si alat untuk ambil telur

Nah, kemungkinan alat inilah yang bersarang di dalam vagina saya; secara bergantian dari kanan ke kiri. Saya tidak merasakan adanya sebuah jarum yang menusuk kemudian menyedot. Waktu dokter bilang SELESAI, saya kemudian heran. Loh, sudah ta? Mana yang katanya sampai bikin nangis atau pingsan segala?! Dilanjutkan dengan perasaan lega. Setelah mengucapkan terima kasih, saya menoleh ke atas kepala dan melihat jam. Proses OPU memakan waktu 15 menit. Semua beres pada pukul tujuh tet.

Sabuk di kaki dilucuti. Saya dipindah ke kasur yang lebih panjang dan digiring ke ruangan berkelambu untuk recovery dan sekaligus menghabiskan cairan infus. Di sini kesadaran saya sepenuhnya komplit. Saya aja ngobrol-ngobrol sama mba Ana yang lagi nunggu giliran. Baru setelah pipis dan ganti baju, jam 07:45 saya keluar sambil melet-melet. Di sana ada banyak orang yang duduk di bangku antrian (seperti yang kemarin-kemarin saya lakukan), ngeliatin saya yang cengengesan. HAHA.

Syukurlah, proses OPU lewat dan berjalan dengan lancar. Dr Hendro mengatakan bahwa ada 6 telur yang berhasil diambil. Semoga proses fertilisasi berhasil. Amin.

Kriuk-kriuk, krucuk-krucuk. Ini perut lapar beut! Susterpun menyuruh saya makan sebelum melakukan proses pembayaran. Saya dan suami pergi keluar (ogah makan di RS); cari makan enaaak :9

OPU tidak menyakitkan. Apalagi mematikan 🙂

Salam,
Mia

Advertisements

6 thoughts on “ovum pick up #2

  1. Wah baru kali ini denger dipasang sabuk kaki pas pick up, hehehe lucu juga bayanginnya 😀
    Sdh ada kabar hsl fertilisasi blm? aku dpt telpon hsl fertilisasi sehari setelah OPU. Ditunggu updatenya 🙂 Good luck!

    1. Eh, aku masih belum sempat baca semua kisahnya mba rori.
      Hehe, mengenai sabuk, memang begitulah keadaannya :p
      Sudah dapat info, tadi pagi. Dari 6 oocyte, 4embrio yang jadi. Insyaallah semua bagus. Yang terbaik ditanam dua, pagi hari sabtu (20/10) jam setengah 7.
      Terima kasih doanya 🙂

  2. Mbak mia..jadi tenang setelah baca cerita cerita mb ini,tadinya benar benar takut menghadapi pick.ovum…dari crita yg lain kayaknya serem dan menyakitkan banget…bisa minta kontak.personnya mb supaya bisa tanya2.atau emailnya.ini email.saya ekawati354@yahoo.com.terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s