beautiful black

Disela-sela menyelesaikan tugas kantor, tiba-tiba saja terlintas potongan film kartun. Filmnya berkisah gadis kecil yang suka bermain di bengkel repair sepatu milik kakeknya. Setelah ngobrol-ngobrol kasual cucu-kakek, biasanya ada orang yang datang dan meminta sang kakek memperbaiki sepatu yang rusak. Saat si gadis kecil nyobain tu sepatu, lalu dia mengkhayal pergi ke suatu tempat dengan mengenakan sepatu tersebut.

Kira-kira filmnya selalu dibuka dengan scene keakraban yang terjalin antara cucu dengan si kakek. Tapi saya tidak bisa mengingat judul serialnya dan cerita yang pernah saya tonton. Bayangannya samar dalam memori. Bisa dikata lupa sama sekali. Duh! Apa ya judul filmnya? Hanya ada kalimat kunci yang terus berputar di kepala saya,

“Kemana sepatumu akan membawamu pergi?”

“Kemana sepatumu akan membawamu pergi?”

Hem. Hemm..

Kalimat ini cukup mengganggu karena saya jadi penasaran. Usut punya usut, setelah sekian waktu googling, akhirnya dapet dah tu judul pilem! Leganya sak dunia. La wong tanya teman twitter gak ada yang respon. Demikian dengan suami. Mana ingat doi hal-hal begituan. Tapi suami bilang pernah lihat film yang saya maksud. Oh ya? 8)

Ternyata Franny’s Feet! Hmm, jadi plong rasanya. Siapa diantara kamu yang pernah nonton film ini? Lucu kan? Girlie abis! Saya kangen pingin nonton lagi. Kalo di tv gak mungkin la yaa. Mungkin bisa sewa atau beli DVD. Saya kira film ini bagus ditonton anak-anak. Dapat mengembangkan daya imajinasinya. Suruh mereka coba sepatu-sepatu kita deh! Selanjutnya biar mereka mengatakan apapun tentang sepatu itu kecuali kegedean. Dan kamu, siap-siap takjub akan kicau tak terduga. Haha.

Ngomong-ngomong tentang SEPATU..

Saya punya sepatu. Kamu? Saya pernah menjahitkan sol sepatu yang lepas ke tukang permak sepatu. Bagaimana denganmu? Saya suka sepatu. Suka melihat-lihat pemandangan sepatu di pusat perbelanjaan. Saya paling suka bila bisa memiliki sepatu yang saya ingini. Tapi saya tipe penggemar yang tidak banyak koleksi. Setelah korek-korek ingatan, sepatu yang saya punya kebanyakan model flatshoes.

Diantara sekian flatshoes yang (pernah) saya punya, model Mary Jane -lah yang paling favorit. Dooh! Ini sepatu kesayangan banget! Pernah jaya disepanjang masa SMA. Modelnya sederhana, ada tali simpang seperti belt di punggung kaki, heels-nya ceper (tentuu), warna hitam legam tanpa corak sesuai ketentuan sekolah. Bahan kulit makin cantik sehabis disemir. Awet lagi! b^^d

 

sepatu hitamku

 

Ketika liburan cawu masa sekolah Putih Abu, 29 Juli 2001, saya sama pacar jalan-jalan ke kota Surabaya. Beli buku gitu loh. Iyo nang kutho, maklum cah ndeso. Berdua naik bis kota hingga sampailah kami di Tunjungan Plaza. Kala itu, TP terlihat megah tiada tara! Mana TP1-TP2-TP3 tidak tahu. Karena ndak bawa peta, kami kehilangan arah.

Pokoknya mbulet-mbulet di sekitaran situ. Lalu, gak sengaja mata ini kepentok sama konter tas dan sepatu yang tata ruang dan display-nya keren! Penuh warna khas remaja. Wuih! langsung ngecas saya lihat barang-barang yang ada di sana. Brr, bikin merinding! Semua bagus dan pengen dibeli. Tapi… harganya selangit! Ampuun!!

Bayangkan saja. Jaman saya pergi ke tempat sekolah SMA, naik kendaraan umum yang jaraknya 3-4 km tarifnya cuma Rp. 500,-. Gitu mau beli sepatu Gosh yang harganya Rp. 269.000,-. Mecah celengan ayam siapa?! Uang saku cuman bisa buat beli buku tulis untuk ajaran baru sama bolpen dan pensil lucu. Heuheu 😦

 

Sang pacar rupanya melihat derita saya dan gak tega. “Harus lebih baik nih aktingnya supaya dapat kredit lunak. Kudu all-out!” batin saya. Makin menjadi deh raut mupeng ini. Tak lama, dompet doi terbuka dan selanjutnya..*tahan nafas* Ah, senangnyaa. Itu hadiah untuk saya loh! 😀 😀 😀

Sampai sekarang, sepatu itu masih ada. Meski sudah berusia 11 tahun, bodinya tetap utuh kecuali kait gesper yang terbuat dari karet agak melar. Masih tersimpan rapi bersama bon pembelian di dalam boks di lemari. Tapi sudah tidak pernah saya pakai. Mau kerja rasanya kok kurang pas memakai sepatu model begitu. Pada akhirnya sepatu saya yang ini masuk daftar low value asset. Heheheh.

Sebagai bahan renungan. Pacar saya ini apa duitnya banyak dan gak pelit? Apa dia anak orang kaya? Apa dia sekolah sambil bekerja? Kok mau mengeluarkan kocek segitu banyak? Saya harus kasi timbal balik apa? Apakah saya ini merupakan cewek matre? Umm..

where the shoes would go

xoxo,

mio

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s