dolanan jaman biyen

Hi! Saya mau berjalan-jalan di sepanjang jalan kenangan. Membosankan? Tentu TIDAK!!

Percaya deh! Walau sebentar, pasti akan membuat kita kembali segar. On your mark-get set-GO!

Masih ingat masa dimana waktu kita habis hanya untuk bermain dan berpanas-panasan?

Saya tidak peduli ketika panas matahari memanggang kepala dan kaki yang tak beralas kaki. Bahkan kulit yang menggosongpun, tidak saya hiraukan. Prinsipnya, yang penting happy 😀

Baiklah. Hari ini kita akan BENDAN! Yeay!!

Saya dan teman-teman sudah menggaris-garis halaman rumah Udin menggunakan kreweng. Kreweng itu serpihan genting (kalau untuk membuat garis, pakai ranting pohon juga bisa). Halamannya berwarna coklat tanah dan kalau diinjak dia tak akan tenggelam. Sudah padat! Garis-garis tadi membentuk suatu petak.

Setelah menggambar secara presisi, kami akan mencari ‘gaco’. Gaco ini semacam pusaka kita. Terbuat dari bahan yang sifatnya padat-berat, tipis dan kecil. Kalau bukan kreweng, kami akan mencari pecahan keramik sampai batu kali. Tujuannya agar gaco ini bisa digunakan dengan baik. Bisa dilempar-lempar dengan tangan (di bendan layang-layang) atau bisa digeser-geser dengan kaki (di bendan tahu).

Saya benar-benar lupa nama, langkah dan aturan mainnya. Kalau tidak salah sih memang Bendan Layang-layang dan Bendan Tahu. Heuheu, itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Yang pasti, saat menuju petak itu, sebagian besar kita melangkah dengan satu kaki saja. Tetapi ada sesi dimana kita berpijak pada dua kaki. Saat break, apa ya? Saat kita berada di pusat petak.

20120930-104154.jpg

Kegiatan bermain ini melatih keseimbangan kita. Baik juga untuk kekuatan tulang anak-anak. Lalu, sistem kompetisi mengajak antar pemain untuk memberikan performa terbaik. Yang menang jadi puas dan senang. Kalau kalah buat penasaran. Besok harus main lagi sampai menang. Haha!

Itu saya. Lain halnya sama teman yang namanya Miko. Miko yang saya kenal ini rambutnya keriwil (keriting kecil-kecil) dan kulitnya berwarna gelap –gosong kena paparan matahari bertubi-tubi. Tapi intensitasnya lebih banyak daripada saya. Pernah suatu kali dia kalah ‘bertarung’ dengan saya. Dianya ndak terima, lantas marah. Marahnya mengerikan sampai melempar batu mengenai kepala saya.

Dooh! Yang namanya kepala ini sakitnya minta ampun. Rasanya pengen nge-dor Miko, tapi mana berani. Dia kan cowok sok jagoan gitu. Sayanya nangis dan pulang. Sampai rumah nyari-nyari buku kecil berisi Surat Yasin. Kemudian saya bacain Surat Yasin di tengah pintu sampai tamat. Berharap Tuhan mendengar doa saya dan Miko-nya mati.

Siapa yang kejam coba?! Hehe.

Beruntung ya saya punya pengalaman masa kecil yang kaya dan menyenangkan. Terima kasih kepada ortu, yang membiarkan hal itu terjadi. Membuat tumbuh-kembang saya menjadi sempurna.

Oke, siapa yang mau cerita pengalaman masa kecil dengan dolanan jaman biyen? Mungkin saat gobaksodor, luncatan alias lompat tali, bekelan, dakon, benteng-bentengan dan sebagainya? Saya tunggu cerita darimu 🙂

I love you, bapak-ibu
Ira

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s