pacarku

Apa yang aku harapkan tidak selalu menjadi kenyataan. Tidak semua hal yang kuimpikan bisa kesampaian. Tapi kadang-kadang sebuah kenyataan melebihi apa yang kuimpikan. Itulah kamu.

Risma, ia menjadi milikku sekarang. Sudah sekian lama hingga aku tidak bisa lagi menghitung indahnya kisah kasih dengannya. Juga tidak mampu menghitung kilometer perjalanan cinta bersamanya. Hal yang kurasakan adalah bahwa kian hari rasa kupunya semakin bertambah. Tidak peduli berapa sisa waktu dan tenaga. Kan kuberikan padanya jika ia meminta.

Risma itu teman SMA-ku. Ke sekolah kami selalu berangkat bersama. Rumahku tidak jauh dari rumahnya. Tiap pagi aku selalu menjemputnya dengan sepeda ontel yang kupunya. Herannya dia mau-mau saja. Sempat berpikiran dia baik padaku agar bisa dapat contekan ketika ulangan. Tapi ya nggak juga karena tawaran kebaikan itu berasal dariku. Mestinya aku yang pamrih. Hal ini juga tidak benar.

Pada suatu waktu, aku melihatnya menghadang sebuah angkutan. Tapi kasihan karena anak sekolah yang membayar murah tidak mudah diangkut. Dua puluh menit menuju pukul tujuh. Membutuhkan waktu kira-kira setengah jam untuk dapat sampai sekolah. Bisa lebih bila ia tak juga mendapatkan tumpangan. Di kejauhan kulihat dia. Sudah seyogyanya aku memberikan bantuan. Tidak mungkin aku meninggalkan teman sekelas di jalan. Membiarkannya terlambat sendirian. Sejak saat itu dia malah keterusan.

Kami juga mulai akrab. Dia menjadi teman curhat. Aku mengajari beberapa materi pelajaran yang tidak ia mengerti. Kami selalu bersama bahkan saat olah raga. Dia membantuku memilihkan kado ultah untuk gebetanku. Sebuah kotak musik berwarna ungu. Dia juga yang membuat kartu ucapannya. Ada tulisan yang indah dalam kartu itu. Kepada teman memang kita harus saling membantu.

Terima kasih kepada Risma. Atas semua bantuannya aku bisa melupakan masa laluku. Mengejar gadis ini-gadis itu yang tak kunjung menjadi milikku. Mungkin ia tidak menyadari hal yang ia lakukan menghapus dukaku. Bahkan tawanya membuat hariku terasa indah. Sukaku kemudian beralih padanya. Tapi tak kuungkap rasaku mengingat pengalamanku. Jadilah aku menikmati dia kala di sisiku.

I do love you! Akhirnya kunyatakan juga perasaanku. Setelah satu tahun mulai dekat dengannya. Aku tahu saat itu saat yang tepat. Aku merasakan sinyal beda yang diberikan Risma kepadaku. Aku yakin ia juga merasakan percikan cinta seperti yang aku rasa. Begitu kuucap kalimat itu, Risma tidak berkata tidak. Juga tidak ada kata ‘iya’ terucap dari mulutnya. Risma hanya tersenyum dan mengangguk. Pertanda setuju akan apa yang kumau. Aku menyukai hubungan kami. Mengalir seperti air.

Aku tahu Risma sedari awal. Aku sadar ia dibesarkan dalam sebuah keluarga yang ‘berada’ walau berasal dari desa. Aku berusaha mengimbangi Risma beserta gaya hidupnya. Risma dengan kehidupan hedonisnya. Aku ingin menyenangkannya. Membuatnya bahagia adalah hasratku. Tidak mungkin bagiku menyakiti hatinya. Aku akan terus berusaha. Tidak akan berhenti mengusahakannya.

Hingga saat kami kuliah bersama. Risma makin menggila. Ia tidak mau dicap kampungan. Tren busana tidak mau ia lewatkan. Segala macam aksesori dan sepatu haruslah padu dengan baju. Tempat tongkrongan baru menjadi hal seru. Dan dugem menjadi kebiasaan yang tidak mau ia tinggalkan. Ia pergi bersama teman-temannya. Bukan denganku.

Hampir setiap minggu ia selalu mengajakku jalan-jalan. Bukan jalan pagi yang menyehatkan melainkan putar-putar mal tak karuan. Memang tak bertujuan. Dalihnya melepas penat setelah capek kuliah. Hasilnya baju baru untuk pesta, blazer hitam untuk wawancara kerja, dan benda lain yang lucu—yang entah kapan barang itu akan ia gunakan. Aku hanya mengikutinya. Menjadi pembawa tas plastik belanjaannya. Manekin itu hanya menatapku iba. Tanpa bisa berbuat apa-apa.

Hari ini Risma tampak ceria. Wajahnya begitu berseri-seri. Terdengar dari suaranya melalui HP. Ia tahu bahwa tiba saatnya aku mengambil Beasiswa Unggulan. Pasti itu yang membuatnya bahagia.

“Mad, jam berapa kamu nanti ambil beasiswa?” tanya Risma disela-sela tawa orang-orang di sekitarnya.

“Pulang kuliah. Jam dua,” jawabku.

“Nanti malam kita nonton ya?” ajaknya.

“Nonton apa?”

“AAC. Ayat-ayat Cinta”

“Lo, bukannya kamu sudah nonton bareng temanmu?” aku bertanya heran.

“Tapi denganmu kan belum. Aku ingin kamu tahu film itu.”

 

Oke. Akhirnya aku menuruti juga mau Risma. Walau dalam hati aku tidak begitu suka film yang mendayu-dayu. Setelah nonton, Risma mulai berceloteh panjang lebar mengomentari film itu. Poligami yang tidak ia setuju walau bagaimana situasi yang mendasarinya. Kemudian ia ingin aku meyakinkannya bahwa aku tidak akan menduakan cintanya. Kelak bila aku menikahinya. Pun saat memacarinya.

Risma merajuk. Aku hanya mengangguk. Tentu saja aku akan melakukannya. Aku tidak akan berpaling darinya. Siapapun yang menjadi kekasih pertamaku, ia akan menjadi istriku. Itu janji yang akan kutepati. Janji kepada diri sendiri.

“Mad, lihat deh. Lucu ya boneka itu. Ada tulisan ‘me to you’. Gemas lihatnya.”

Risma menunjuk sebuah boneka berwarna biru di sebuah toko berlogo separo matahari.

“Kamu mau?” tanyaku.

“Iya,” jawab Risma manja.

Boneka itu kubeli untuk Risma. Hadiah untuknya karena menjadi tambatan hatiku yang setia. Risma memeluk bonekanya dan lebih memilih membawanya begitu saja. Ia tidak mau sang pramuniaga memasukkan boneka itu ke dalam plastik. Risma kemudian memberikan isyarat lapar. Kami melenggang pelan menuju tempat makan.

Malam itu tentenganku banyak sekali. Semua milik Risma. Tangan kiriku ada sekotak berisi sepatu sedang tangan kananku ada baju baru. Risma sibuk dengan bonekanya dan lengan kanannya menggamit lengan kiriku. Aku puas telah membuat Risma gembira. Kulirik dia tersenyum bahagia sambil tidak bisa melepaskan pandangan ke sesuatu yang menarik perhatiannya. Tapi aku lelah.

Di akhir kebersamaan kami, Risma tiada henti mengucapkan terima kasih. Yang tersisa hanya mataku yang terasa berat juga kepalaku yang pening. Ingin cepat sampai kos untuk mengembalikan energi. Memulihkan diri.

Sesaat sebelum berpisah Risma berkata, “Pengumumannya sudah ada padaku.”

“Pengumuman apa?” tanyaku tak mengerti.

“Akhmad, kamu mendapatkannya. Beasiswa Mapres.”

“Oh ya?” aku mengerjapkan mata. Bertanya tak percaya.

“Iya. Selamat ya!” Risma menyunggingkan tawa yang kusuka.

 

Beasiswa itu diberikan oleh suatu yayasan sosial yang concern terhadap pendidikan di Indonesia. Mereka yang berprestasi berhak memperolehnya. Tentu saja melalui seleksi. Risma yang mengetahui info tentang beasiswa itu. Ia yang mendaftarkan aku. Segala kelengkapan administrasi, Risma juga yang mempersiapkan. Termasuk menulis esai sebanyak seribu kata.

Itulah Risma. Aku bangga atas jerih payahnya. Semua hal yang ia lakukan padaku termasuk menjaga cintanya untukku. Apa yang kuberi untuknya memang layak diperolehnya. Aku cinta Risma apa adanya. Ialah gadisku. Risma itu pacarku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s