pria kamboja

Di ujung gang dalam sebuah perumahan, tampak sebuah bangunan yang berarsitektur Belanda. Bangunannya total berwarna putih. Hanya saja di sekeliling rumah bernomor K-15 ini terdapat batu kali besar-besar berwarna hitam menempel pada dindingnya. Tekstur kasar setinggi pinggang orang dewasa itu mengingatkan kita pada Dalmatians 101. Banyak bonsai bunga Kamboja tertata rapi di halamannya.

Rupanya sang empunya rumah menyukai tanaman ini. Karena hampir semua bunga yang berwarna-warni itu begitu terawat. Tidak ada daun berwarna kuning yang terlewat dan masih tertancap pada batangnya.

Gelap malam berhasil disibakkan oleh pendar cahaya lampu yang berasal dari rumah itu. Juga dari beberapa rumah lain yang berjarak lima kavling. Perumahan ini masih sepi. Banyak ruang kosong di sana-sini. Kita bisa melihat jarang bangunan dan dapat merasakan suasananya begitu sunyi. Mungkin karena malam hari. Sulit bagi kita menjumpai orang yang berlalu lalang. Tapi siapa saja mampu menemukan ilalang dan padang membentang.

Tidak jauh dari K-15, kita bisa menemukan sawah yang ramai karena penghuninya sudah memulai aktivitasnya. Katanya, musim penghujan adalah musim kawin bagi katak. Katak jantan akan bernyanyi untuk memikat lawan jenisnya. Sebuah lapangan bola yang berisi dua gawang menjadi tetangga K-15 dan tempat yang ditumbuhi banyak tanaman padi.

Dari dalam rumah itu, tampak seorang penghuni yang hidup sendiri. Baginya, detik waktu berjalan begitu lambat. Seperti peluru musuh yang akan mengenai Keanu Reeves di adegan film The Matrix dalam laju slow motion. Kamboja berdiam di sofa putihnya sambil memandangi dua belas angka yang berbingkai kayu indah. Penunjuk waktu berbentuk persegi itu tepat di hadapannya, di atas kepalanya. Hanya lima langkah dari tempat dia berada untuk bisa meraih atau menggapainya.

Kamboja biasa mengambil jam dinding di ruang tengah rumahnya dan mengganti jarum pendeknya menjadi ‘h minus dua’. Hal ini Kamboja lakukan saat dia mulai menunggu sang suami tercinta. Lingerie seksi sudah dipakai untuk menyambut kedatangan Jaka. Biasanya berwarna merah.

Jam menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh malam waktu Kamboja. Sedangkan pria yang ditunggu tak kunjung datang. Tapi Kamboja selalu bersabar. Waktu luang yang tersisa dari total aktivitasnya sebagai marketing executive yang begitu padat, dia gunakan untuk membaca majalah. Mencoba mencari sumber inspirasi gaya bercinta apa yang begitu menggoda untuk dipraktekkan dengan Jaka malam ini. Atau sekedar mencuci mata dengan melihat tren fashion yang sedang in. Semua yang Kamboja lakukan setidaknya bisa menghapus rasa lelah dan mengusir kantuk yang mulai mengetuk mata.

Melihat model dalam majalah yang sedang berpose menampilkan ragam busana, laksana melihat dirinya tercetak di sana. Memang, Kamboja adalah wanita yang begitu menarik dan penuh rasa percaya diri. Dia itu sosok yang mempunyai rona wajah Asia asli dan memiliki aura keindahan yang tiada bertepi. Senyum tulus selalu terlihat mengembang dan pancaran kasih sayang dapat diciptakan olehnya kapan saja. Mudah diajak bertukar pikiran dan seorang good listener merupakan sisi positif lain yang dimiliki wanita dua puluh tujuh tahun itu.

Siapa sih yang tidak terpikat oleh pesona yang mampu Kamboja pancarkan kepada setiap pria yang ditemuinya. Mereka yang menjadi rekan kerja atau kliennya. Teman-teman lama juga bingung mencari nomer Kamboja yang bisa dihubungi dan berusaha meneliti keberadaannya. Beberapa pria harus bersusah payah untuk mendapatkannya. Mereka yang punya nasib baik saja bisa memilikinya.

Dalam kurun waktu dua bulan, empat dari sembilan pria yang nekat memikatnya menjadi kekasihnya. Tapi bagi pria-pria itu, menjadi kekasih seumur jagung Kamboja sudah merupakan anugrah. Adalah hal yang membanggakan bisa memacarinya.

Sebenarnya motif Kamboja tidak jauh beda dengan para pria itu. Intinya ada pada kata senang. Hanya kesenangan yang ia inginkan. Bila sudah terpuaskan, gampang saja bagi Kamboja mengeluarkan mereka dari kehidupannya. Labil memang. Itulah yang ia lakukan dulu. Berganti pacar setiap waktu. Sebelum akhirnya berjumpa dengan Jaka di jalan raya.

Suatu waktu, dalam keadaan yang tidak bisa diduga oleh Kamboja, ia merasa mobil yang dikendarainya berjalan pincang. Dengan kondisi ban kempes, ia berusaha mencari tempat tambal ban yang ternyata tidak jauh dari area dimana ia terkena celaka.

Saat Kamboja mengundang tukang tambal ban untuk membenahi ban mobil yang terparkir di seberang jalan, pencuri membobol pintu mobil dan mengambil laptop yang tersimpan manis di kursi belakang. Dia hanya bisa merasakan darahnya ber-spirnt menuju kepala dan jantungnya. Tapi rasanya beda ketika ia sedang orgasme. Keringat yang muncul dari kulitnya tidak sama seperti ketika ia mendapatkan The Big O.

            Kamboja tidak bisa berpikir dan hanya bisa menangis. Hal yang dia tangisi adalah keberuntungannya. Untung perampok itu tidak membacok tangannya sampai patah. Hii, ngeri juga Kamboja membayangkan dirinya bila mengalami hal itu.

Di saat yang kurang tepat, seorang polisi yang sedang patroli lewat. Menyaksikan mobil berada di tempat yang tidak lazim, sang pria berseragam turun dari kendaraannya.

“Selamat sore.” Sapa polisi itu.

Dengan menyeka air mata dari pipinya, Kamboja hanya menganggukkan kepala.

“Maaf, apa Anda tidak melihat bahwa disamping mobil Anda terdapat rambu-rambu lalu lintas. Anda tahu artinya apa?” Pak polisi bertanya.

Polisi ini berbahasa sopan tapi basi sekali. Kamboja melihat sebuah tiang bergambar huruf P yang tercoret melintang kekanan. Tentu saja ia tahu arti rambu-rambu itu.

“Maaf, ban saya kempes,” Kamboja menatap pak polisi yang mempunyai bodi oke.

“Bisa lihat SIM dan STNK Anda?” Pak polisi berkata ramah.

“Pak Jaka, saya baru saja kecopetan…” belum selesai Kamboja mengucapkan kalimatnya, pak polisi yang bernama Jaka Purwoko itu menyela,

“Kecopetan?” Pak Jaka bertanya sambil melirik mobil Kamboja dan berusaha menahan tawa. “Bagaimana mungkin? Jangan banyak alasan!”

Pikirnya kecopetan hanya bisa dialami oleh mereka yang menumpang kendaraan umum saja. Huh, sembarangan! Kamboja menggerutu dalam hati. Atau istilah yang kugunakan salah? Kamboja masih bertanya pada hatinya. Dengan jengkel namun tetap tenang, Kamboja mengeluarkan benda yang diminta oleh Pak Jaka dari dompetnya dan menyerahkannya pada sosok yang begitu matang tapi masih terlihat bugar itu.

“Saya harus menilang Anda karena melanggar tata tertib lalu lintas,” kata Pak Jaka kemudian.

“Tidak bisakah Anda memberi toleransi? Perampok baru saja mengambil laptop saya.”

“Oh. Apakah itu benar?”

“Tanya saja pada bapak itu,” Kamboja menunjuk tukang tambal ban.

“Apa benar?”

“Yang saya tahu ban ibu ini kena paku. Dia menyuruh saya menambal bannya. Saat saya mau mengambil ban yang masih berada di porosnya, ibu ini tahu-tahu menangis.”

“Kenapa menangis?” ia bertanya pada Kamboja. Saat kalimat ini meluncur dari bibir polisi yang rambutnya sudah mulai beruban itu, tukang tambal ban bilang,

“Bannya sudah saya pasang Bu.”

Kamboja mengerti isyarat ini. Ia lantas memberikan beberapa lembar uang sepuluh ribuan kepada penambal ban dan berkata, “Makasih ya Pak.”

Kemudian Kamboja beralih pada pak polisi, “Kan tadi saya sudah bilang kalau saya habis kecopetan. Itulah yang membuat mata saya basah.”

“Bukan karena Anda habis putus dengan pacar?” Pak Jaka tertawa.

“Oke tilang saja saya,” sebal Kamboja dibuatnya. Bisa-bisanya dia bercanda. Jangan-jangan Jaka Purwoko ini sebenarnya adalah seorang pelawak dan bukannya seorang polisi.

“Maaf, saya hanya bermaksud menghibur Anda. Bagaimana dengan perampok yang baru saja mengambil barang Anda? Anda harus menceritakan detilnya.”

“Nggak usah deh Pak. Saya rela kok. Maaf, saya tidak bisa meluangkan banyak waktu untuk memburu mereka. Bagi saya, selamat adalah sesuatu yang berharga. Materi bisa dicari.” Sebenarnya hal ini karena Kamboja enggan berurusan dengan polisi lebih lama.

“Bila tidak sekarang, Anda harus menceritakannya nanti atau kapan. Ini untuk kepentingan penyelidikan dan semua orang. Agar kami mendapatkan modusnya. Biar masyarakat dapat lebih waspada. Dan maling harus tetap ditangkap. Anda tidak mau korban berjatuhan karena Anda tidak mau diajak bekerja sama kan?”

Oke. Benar juga apa yang dikatakannya. Kamboja lantas memberikan nomer ponselnya. “Anak buah Bapak bisa menghubungi saya di nomer ini. Nanti saya bisa menceritakannya kepada bawahan Bapak. Sekarang, saya harus pergi.”

Lebih baik berbicara dengan orang lain daripada harus mendengar suaranya lagi, pikir Kamboja. Polisi yang aneh. Dia memberi kartu tilang tapi tetap menyerahkan SIM dan STNK Kamboja plus tanda tangan dan nomer handphone pada kertas yang diberikan padanya. Kamboja bingung tapi Pak Jaka hanya tersenyum. “Sampai jumpa,” katanya.

Lalu, maksudnya apa. Untuk apa dia memberi nomernya. Yang butuh siapa? Malas bila harus menelponmu. Genit begitu. Kamboja mengakhiri kerlingan mata Pak Jaka dengan menutup pintu mobilnya dan pergi jauh darinya.

Sejak pertemuan itu, sebutan Pak Polisi berubah menjadi Mas Jaka. Awalnya memang dia menelpon untuk urusan rampok dan perampokan. Tapi lambat laun, Kamboja dapat merasakan bahwa hubungan mereka lebih dari sekedar teman bahkan lebih dari sekedar hubungan antara masyarakat dengan aparat. Jaka yang mature bisa memahami Kamboja. Mampu mengayomi dirinya. Mereka bisa bersenang-senang berdua walau berasal dari dunia berbeda.

Bagi Kamboja, ini adalah hal baru dan cukup seru. Tapi ia sadar bahwa hidupnya tidak hanya untuk bersenang-senang tapi lebih kepada membangun hidup dan kehidupan. Membina keintiman kemudian berumah tangga. Ya, sudah saatnya. Akhirnya ia menikah dengan Jaka.

Seperti halnya dengan pria-pria yang dulu pernah menjadi teman kencan Kamboja, Jaka juga merasa beruntung mendapatkan wanita dengan karir hebat di usia muda dan bisa melayani pasangannya dengan ritme senada. Kamboja dapat membagi waktu siang dan malam secara seimbang. Dia bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Tidak banyak menuntut dan berbicara santun. Di lain pihak, Kamboja juga mampu memberikan perhatian yang dibutuhkan Jaka. Itulah sebabnya Jaka menikahi Kamboja.

Tidak hanya itu, Kamboja adalah orang yang bisa memahami Jaka. Mau menerima Jaka apa adanya. Dia memiliki kesibukan yang luar biasa. Datang pada saat hari sudah petang dan pergi saat dunia belum terang. Banyak urusan yang harus ia selesaikan. Baik sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan atau apapun yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan hal itu.

Bukannya tidak mau tahu, tapi Kamboja lebih memilih memberikan konsentrasi penuh pada diri sendiri terutama Jaka; seseorang yang menikahi dirinya dua belas bulan lalu. Apapun akan Kamboja lakukan untuk membahagiakan suaminya. Ting tong! Rupanya Jaka sudah datang dan Kamboja merasa hatinya riang. Dengan senyum merekah ia berjalan menuju pintu dan membukanya.

“Bagaimana kabarmu Kam?”

Setelah mencium kening Kamboja, Jaka beralih ke jam dinding dan menggantinya menjadi jam satu. Sudah dua jam Kamboja menunggu. Tahu kebiasaan istrinya, iapun mulai terbiasa mengikuti alurnya. Dari situ, Jaka akan menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Sesuatu yang diinginkan Kamboja pada pasangannya.

Demikian juga dengan Jaka yang sebenarnya ingin agar Kamboja berhenti menunggunya. Untuk hal yang satu ini, Kamboja tidak bisa melakukannya. Kemudian Jaka hanya bisa menyerah dengan kesabaran istrinya.

“Sambil menunggumu aku baca majalah Mas. Aku ingin kita mempraktekkan Pijat Lingga dan Yoni.”

“Hm? Pijat apa itu?” kening Jaka berkerut.

“Pijatan lingga itu pijatan untuk kamu sedangkan pijat yoni adalah pijatan untukku. Ini lo, seperti ini.” Kamboja menunjukkan artikel dalam majalah yang baru dibacanya. Dia merasa dirinya sampai fasih karena menunggu Jaka terlalu lama.

“Malas bila harus baca. Ajari aja langsung.”

“Oke.”

 

Selanjutnya, Jaka dan Kamboja bercengkerama menurut cara mereka. Jerih payah Kamboja tersapu oleh teriakan final dirinya. Momen ini berhasil diciptakan oleh Jaka. Tentu saja berkat kolaborasi mereka berdua. Tanpa Jaka mungkin hidup Kamboja menjadi hampa. Kamboja selalu punya malam berbeda. Tetap mengesankan seperti biasa.

Jaka pergi pagi-pagi. Untuk melakukan kembali aktivitas sehari-hari. Menjalani rutinitas sebagai polisi, menjadi suami Kamboja dan Rosa, serta memenuhi peran sebagai bapak dari dua anaknya yang sudah ABG dan masih SD. Walau dirinya dan Jaka menikah di bawah tangan, Kamboja merasa tidak ada masalah dengan hal itu. Ia merasa dapat hidup bahagia bersama Jaka.

Advertisements

7 thoughts on “pria kamboja

      1. Tapi beda lho Mbak. kalau di sini Kambojanya cinta dan mau bersama jaka. kalau di tmpatku, ‘aku’ sekarang cuma balas dendam, ‘aku’ cuma mau memisahkan ‘kamu’ dengan ‘dia’. tapi ‘aku’ sudah nggak mau nrima ‘kamu’ lagi. sakit hati soalnya, haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s