kemis, wayahe ngumbah keris

Ini #memetwit yang saya share kamis malam minggu lalu di twitter. Kisah misteri ini saya angkat dari pengalaman sopir antar jemput perusahaan di tempat saya bekerja. Dan saya akan mengabadikannya di sini. Bagi teman, penggemar saya atau siapapun yang terlewat, monggo… diwoco.

 

Ceritanya, Pak Solikhin ini dalam perjalanan pulang setelah mengantar karyawan shift malam menjelang dini hari. Jembatan kecil yang akan dia lalui terbuat dari anyaman bambu, biasa disebut uwot, tidak ada penerangan. Sebenarnya ada, cuma satu-satunya lampu yang ada di ujung jembatan itu tidak menyala. Padahal baru diganti. Tetapi, lampu itu tak pernah bisa bertahan lama. Sepertinya, ada perbaikan yang gak beres. Atau bisa jadi, si ‘penghuni’ jembatan itulah yang tidak mengijinkan adanya silau lampu.

Pendar bulan yang berselimut awan hitam menambah suram keadaan. Tidak terdengar suara burung hantu. Malah bayangan hantu kecil casper muter-muter yang menghantui. Di kejauhan, decit bambu tertiup angin bersamaan dengan kasak-kusuk hewan melata, menegakkan bulu (bang) roma (irama). Kentara dari mata Pak Solikhin kalau tekadnya sudah bulat. Bahwa ia ingin segera tidur di rumah. “Fiuh!” dia mendesah. Tampak lelah telah seharian bekerja demi keluarga.

 

Pak Solikhin kemudian melanjutkan ceritanya kepada saya ketika urusan tagihan antar jemput selesai.

 

Ya, beginilah rutinitas saya. Setiap hari selama sepekan dan seterusnya, mengantar jemput karyawan menggunakan kendaraan kreditan. Jalan itu juga saya lewati setiap hari. Mengapa kamis kali ini terasa aneh? Perut saya bergejolak, seperti habis mimik susu. Bahkan, kebelet pipis aja berani saya tahan. Biasanya sih tinggal minggir, pipisnya diarahin ke ban. HADUH! Pokoknya saya ngantuk!

Orang-orangan sawah tampak nyata membentuk sosok bernyawa. Mata saya melotot-mengerjap! Biarin ah, toh dia juga diam saja. Saya pipis sedikit di celana. Eh, sesekali orang-orangan sawah tadi goyang-goyang. Wah, mesti tancap gas! Kalo dia minta jatah bagaimana? Darah seiprit untuk nyamuk sih gak masalah, lakalo seliter via leher? Ini mah vampir. Saya bingung, berhenti di jalan, nanggung.

Tetapi kalo ngebut, jembatannya bisa ambrol! Matilah saya, maju kena mundur kena. Tau gitu tadi tidur di pabrik. Entah doa apa mantra, yang penting saya komat-kamit.

Ah legaa, sampai rumah juga akhirnya. Saya mengerti kalo hanya perasaan sendiri yang menyatakan bahwa ada orang yang mengikuti. Meski tak nampak. Wajah saya penuh raut waspada. Bulu-bulu halus di sekitaran tengkuk sampai tidak bisa tidur.

Lain dengan istri dan anak yang tidur mendengkur di lantai. Saya melihatnya di sana, seperti biasa, menunggu saya pulang. Tanpa menyalakan lampu, saya lepas baju. Kemudian bergabung bersama mereka.

Merasa belum sepenuhnya menggapai mimpi, saya dikagetkan oleh jawilan istri beserta kode-kode aneh. Pertanda ada yang tak beres, spontan saya menuju dapur.

Saking groginya, benda tajam maupun tumpul tak bisa saya temukan cepat. Saya terus saja sibuk mencari dan memikirkan pukulan maut buat si maling!

Dia ada di sana, selangkah di depan saya. Maling itu memakai kolor dan bertelanjang dada. Tanpa alas kaki dan penutup wajah, melihat saya membiarkannya pergi. Sambil deg-degan luar biasa, saya menuju ke ruang tamu dan melihat anak-istri. Mulut istri menganga ketika saya tiba. Tapi dia baik-baik saja. Anak pulas tidurnya.

Setelah memastikan pintu terkunci dengan baik, saya mengamati barang berharga apa yang berhasil dicuri oleh si maling. Tapi, dua handphone yang berserakan di meja tetap rapi. Juga TV dan beberapa lembar uang ribuan. Bisa jadi, si maling seketika tobat dan mengurungkan niat.

Sampai esok hari. Saya baru ngeh ketika satu-satunya ‘gaman’ yang saya punya, berupa keris yang terpajang rapi di atas pintu ruang tamu, tidak ada Mbak! Seketika itu saya sadar, bahwa keris juga butuh bersih. Dia tidak bisa dibiarkan begitu saja tanpa dirawat dan diruwat. Saya lupa memandikan. Demikian juga pas malam satu suro. Samar, saya kemudian ingat kata tetua kampung: “Segala bentuk kelalaian akan membuat sang pemilik keris asli, datang mencari.”

 

Advertisements

2 thoughts on “kemis, wayahe ngumbah keris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s