semalam tadi

Kamu dengannya berproses selama sekian jam. Perlahan dan pelan-pelan hingga tercapai hitungan bulan. Merapi meletus tak kunjung berhenti. Ingatannya akan pemberitaan penderitaan terus bergemuruh dan berlabuh menjadi sebuah kesaksian pilu.

Kian berat saja kamu menggelayut; menempel mesra pada inangmu. Bagai parasit, kau hisap sari-sarinya. Kau rampas kalsium-kalsium itu sampai keropos tulangnya. Sayangnya, si Inang tak merasa bahwa kau merugikannya. Dia malah mengelu-elukanmu dan menanti kehadiranmu. Dalam diam mencoba menerka akan menjadi apa kamu nanti. Tanpa berlebih, kuatir kau kan menjelma tomboi maupun banci.

Dan teknologi semakin canggih. Kamu bergerak-gerak di dalam sana menunjukkan belalai sebagai sebuah pertanda. Si Inang berkata: “Keluarlah dan tunjukkan padanya bahwa kamu menjadi persis seperti yang ia pinta.”

Mencoba tersenyum walau tersiksa. Kepalamu memecah kepalanya. Hasilnya, kamu berada di sana sekarang. Dalam dekapan denyut jantung, irama yang kau suka. Peluh menyapamu. Perih tak lagi pedih. Pipimu merona, berwarna merah darah. Si inang kembali berkata, kali ini berbeda dengan sebelumnya: “Alhamdulillah, telah kuterima rejekiMu yang berharga.”

*semalam tadi bayi laki-laki hadir dalam mimpi.

Advertisements

4 thoughts on “semalam tadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s