merpati dan pagupon

Ada sepasang merpati di ujung utara Jalan Jawa. Mereka bergeletakan di trotoar. Beberapa kain bergumpalan di sekitar mereka. Mungkin sebagai penghangat atau bantal untuk tidur. Tapi saya rasa berfungsi keduanya. Mengenai asal usul kain-kain itu, saya tidak tahu.

Di minggu ke tiga bulan September ini, cuaca masih juga tak menentu. Lebih sering hujan daripada panas. Maksud saya, selalu kombinasi keduanya dengan suhu yang ekstrim. Entah seharusnya musim apa. Air-air langit ini semau-maunya mau tumpah kapan. Kita harus ‘sedia payung sebelum hujan’ atau tinggal mengurungkan niat untuk bepergian. Lebih nyaman di rumah dan bergelung di bawah selimut, berlindung dari bahaya kedinginan sampai hidung mampet, ketimbang beredar di jalanan.

Tidak bagi kedua merpati itu. Perlu korek-korek lebih dalam akan alasan mereka mau dan mampu bertahan di situ. Yang pasti mereka tidak punya ‘payung’ pelindung hujan. Tidak ada tempat berteduh ketika matahari sedang terik. Mereka tidak punya ‘pagupon’.

Siapa mereka? Sejak kapan mereka di sana dan mau sampai kapan? Mengapa dua merpati itu ada di situ? Bagaimana mereka mencari makan? Apa yang bisa mereka lakukan untuk bertahan hidup? Di mana keluarga mereka? Selain ‘homeless’ apakah mereka juga ’hopeless’?

Adakah yang bisa membantu saya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas? Adakah yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka? (*hm, apakah mereka mau dibantu?)

two doves
kebal cuaca
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s