finger painting

Baru Sabtu lalu niat hati terpenuhi. Setelah sekian lama sekali. Ketika sedang libur dan memang tidak ada hal yang patut untuk dikerjakan (baca: tidak lembur; nganggur). Tekad untuk melakukannya itu dimulai dari mencari materi. Saya butuh lem kayu. Kemudian berjalanlah saya ke perempatan Kebonagung demi mendapatkan bubur lengket nan wangi yang baunya bagai aromaterapi. Pukul sembilan pagi panas matahari sudah menyengat. Sekujur punggung mulai dipenuhi keringat. Puasa hari ke-11.

Karena tidak punya uang kembalian, si penjual tidak mau menjual barang dagangannya. Dia bersikeras mengatakan: “Gak ada kembalian!” Lha sedangkan saya, hanya ini uang yang saya bawa. Mencoba tukar ke pembeli lain, eh ternyata seorang bapak-bapak juga memiliki lembar ribuan yang sama. Ya sudahlah, saya pergi ke tempat lain saja. Niat jualan gak sih! Sabaar. Alon-alon pokok kelakon. Akhirnya meluncurlah saya ke timur perempatan. Toko depan pasar ini lebih bersahabat dan saya mendapat lem kayu beserta uang kembalian empat puluh empat ribu rupiah. Lega.

Terbayang sumbo warna mejikuhibiniu. Warna-warni ini yang berikutnya harus saya beli. Tapi sepanjang toko yang saya lewati, dalam perjalanan menuju pulang, tidak ada satupun yang menjual item bahan pewarna yang saya inginkan. Bahkan cat air (*tentu saja karena memang bukan toko buku). Malas juga bila harus kembali ke pasar dengan jalan kaki. Aduh bagaimana ini? Di tengah kekalutan karena merasa sudah kadung nyebur ke dalam proyek liburan kemudian otak ini seperti menyuguhkan ingatan bahwa seharusnya saya masih punya cat minyak…yang mungkin sudah kering. Harus bisa dimanfaatkan.

Perjalanan mendapatkan bahan-bahan berakhir pada pukul sepuluh. Fiuh! Seketika adem begitu memasuki rumah. Bongkar-bongkar kardus dan bukannya cat minyak usang yang saya temukan melainkan cat poster pink-biru-kuning. Sepertinya punya adik, cukuplah dengan trio warna ini. Hm, apalagi ya? Sesuatu yang bertekstur pokoknya. Kupu-kupu kaku, bunga-pelepah pisang-daun kering or something. Ini aja deh, akar-akaran dan bunga kering wangi. Lalu koran, tisu (*tidak disarankan karena tidak ramah lingkungan ~ mending pakai kain lap karena tujuannya untuk mengelap), kertas apapun yang agak keras (contoh: karton), gunting, dan mangkuk-pun sudah siap.

di medan pertempuran
senjata perang

Keterampilan jaman TK : Finger Painting

Uh, sejenak saya bernostalgia dengan masa-masa ketika saya tidak dipenuhi dengan beban kehidupan dan macam-macam pikiran. Saat saya harus melakukan sesuatu bukan karena inisiatif pribadi melainkan lebih pada intervensi orang lain; bimbingan guru. Ketika itu, saya hanya memikirkan waktu sekarang dan tidak terlampau jauh berpikir mengenai masa lalu dan masa depan. Kesenangan saat ini ketika tersaji sebuah lembar kertas gambar dan aneka warna lem berbau wangi. Guru memberi instruksi secara perlahan sedangkan saya dan teman-teman menyaksikan postur raksasanya secara seksama kemudian menirukannya secara pelan-pelan. Selebihnya hanya ada kami yang berkreasi. Meja kayu persegi kami cukup lebar untuk memuat empat bocah di tiap sisi-sisinya. Tetapi tempat duduk kami hanya cukup untuk menampung pantat-pantat kecil kami. Hihi…

FUNtastic Finger Painting

Akan lebih menyenangkan bila kita melakukan aktivitas ini berada di bawah kerindangan pohon; diantara semilir angin dan bergoyangnya daun-daun. Decitan pohon bambu membuat suasana lebih menarik. Intinya, biarkan udara bebas menerbangkan aura negatif dalam tubuh kita. Setelah tercipta ‘arena’ yang nyaman dan peralatan ‘perang’ sudah disiapkan, jangan ragu lagi untuk beraksi. And here we go..

1) Selain bahan-bahan dan peralatan tersebut di atas, kata kunci untuk membuat finger painting adalah kreatifitas dan ekspresi. Kita tidak perlu berpikir terlalu rumit untuk membentuknya menjadi pola tertentu karena yang kita butuhkan hanyalah bagaimana kita bisa meluapkan emosi secara positif.

2) Setelah lem menyatu merata dengan pewarna, barulah teplok sana teplok sini (*metode menuang adonan lem ke kertas). Kemudian aduk dengan tangan, campur dengan jari dan lakukan dengan imajinasi.

3) Yang terakhir dari bermain-main dengan jari-jari kita yaitu buat semacam kolase – aksi menempel kertas atau material lain untuk membentuk desain tertentu – http://en.wikipedia.org/wiki/Collage pada bidang finger painting kita sebagai pemanis dan aksesoris.

Nah, beginilah hasil dari SATURDAY MORNING FINGER PAINTING saya. Cekidot

 

tergantung (tak) bertuan

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s