mamad

Apa yang Anda pikirkan saat melihat sosok dengan pose seperti ini?

Rupa-rupa kehidupan manusia

Gila?
Sedang marah?
Atau orang yang butuh sarapan tapi tak kunjung memperolehnya?

Kalau menurut saya begini, singkat cerita ya:

Dia, sebut saja Mamad, dilahirkan sebagai orang yang berkecukupan. Keluarga yang setiap harinya cukup punya makanan untuk dimakan pada hari yang sama, saat itu juga. Ketika SD, Mamad pintar sekali. Jago matematika. Beberapa perempuan sebaya mengaguminya karena dia sosok yang cerdas dan mempesona. Terpilih menjadi ketua kelas, catatan sekolah dan cara berpakaian yang rapi dan perilaku yang baik menambah rupa sahaja Mamad.

Lepas SMA, beberapa temannya tidak mengetahui kabar keberadaannya. Mungkin saja ia sudah bekerja di luar kota. Atau hidup menetap dan berkeluarga bahagia di luar pulau dengan usaha bengkel pribadi. Bukan tidak mungkin mengingat sejarah masa lalu.

Hingga suatu ketika, salah satu teman berseragam merah putihnya yang terkejut bukan kepalang ketika mendapatinya di jalanan kota tempat Mamad dilahirkan. Dia ternyata tidak sedang berada di perantauan atau bekerja di suatu perusahaan manapun di kotanya. Pun tidak ada usaha bengkel pribadi.

Usut punya usut, si Mamad yang bekerja sebagai sopir angkutan umum merasa pendapatannya kian hari kian merosot. Persaingan di dunia aspal dan jalan raya sangat ketat disamping merebak dan menjamurnya sepeda motor. Sudah seperti itu, bosnya memecatnya lantaran sudah lima bulan Mamad belum membayar setoran.

Kepelikan masalah yang diderita semakin runyam tatkala istri semata wayang yang seorang pengamen jalanan minta dicerai dengan alasan sudah punya lelaki idaman lain, calo terminal. Mamad sebatang kara, dia tidak punya anak dan orang tua sebagai tempat mengadu. Sebenarnya dia punya saudara yang kaya, ke tempat inilah dia akan meminjam uang untuk menyambung hidup. Tapi mereka enggan ditemui, apalagi untuk memberikan hutang kepada Mamad.

Merasa tidak punya harapan, Mamad kemudian berjalan di sepanjang tepian jalan. Sibuk memikirkan sebuah pemecahan. Dia bertanya kesana kemari termasuk ke penjual nasi pecel, bagaimana dia seharusnya menyelesaikan masalahnya. Hingga suatu waktu, setelah perenungan yang mendalam, sebuah insight memberikannya solusi. Saking senangnya, Mamad kemudian melonjak sambil berteriak: “Jual saja aku!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s